
Ruang makan keluarga Lee kembali menghangat saat kursi-kursinya telah terisi dengan perut-perut kosong pemiliknya masing-masing. Merapati beragam sajian yang tersusun rapi di meja, terlihat nikmat menggugah selera. Dengan minuman beberapa warna, perlambang bahwa ekstrak buah dari setiap warna yang dihasilkan akan berlainan rasa dan asalnya.
Hanya Leehans yang terlihat tidak duduk bersama di antara mereka. Rupanya lelaki itu belum kembali daripada meetingnya di salah satu hotel bintang milik ayahnya.
"Kau sudah menentukan gaun pernikahanmu, Desta?"
Benn ingin tahu kesiapan Desta dengan waktu yang tinggal sehari saja untuk pernikahannya.
Desta mengangguk mengiyakan.
"Gaun yang di pilihnya sangat indah, dia pandai memadankan dengan tubuhnya." Nyonya Donha menjawab pertamyaan anaknya itu dengan bersemangat.
"Leehans datang?"
Benn kembali memandangi Desta yang memilih diam dengan mata yang terus menatap isi piringnya. Desta kembali mengangguk. Benn tahu, sahabatnya itu tengah sibuk saat ini, baik untuk urusan kerjanya atau pun urusan penyelesaian dokumentasi mereka yang sedikit rumit.
Leehan mungkin juga perlu bolak-balik mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI guna memenuhi benerapa syarat pelaksanaan acara tersebut. Mengingat Desta warga negara Indonesia dan Leehans memiliki dua kewarganegaraan , yaitu Jepang dan indonesia.
Benn tetap tak habis fikir dengan keseriusan Leehans untuk menikah. Terlepas karena alasan apapun, toh pada akhirnya Leehans sudi menikah juga. Benn betul-betul salut pada mantan calon istrinya. Desta. Meski pun tidak langsung, Gadis itu mampu mengubah kebatuan hati Leehans untuk terus melajang selama ini.
"Desta."
Desta menoleh pada Mr. Lee yang memanggil namanya.
"Iya tuan Lee.."
"Aku sudah mengabari orang-orang yayasan di Surabaya, sepertinya mereka tidak ada yang bisa datang di hari pernikahanmu."
Desta menoleh pada Mr. Lee, menatap ayahnya Leehans agak lama.
"Keadaan di yayasan agak kacau. Bu Hartini sedang sakit. Sedang asistennya, wakil ketua yayasan tidak ada lagi. Pegawai lainnya juga sibuk dengan urusan inventory akhir tahun."
" Kabarnya, Gilang Hendrawan, lelaki yang melamarmu waktu itu, sudah resign dari yayasan."
Mendengar itu, Desta menoleh terkejut pada Mr. Lee.
"Benarkah, tuan Lee? Apakah bu Hartini sakit serius? Dan, kenapa mas Gilang keluar?"
Desta merasa sedih, baik kepada mereka, juga pada keadaan yayasan, yang mungkin sekarang ini sedang low power tanpa orang-orang vital didalamnya.
"Sakit bu Hartini, aku kurang paham. Kata staffku, anaknya telah membawanya ke salah satu rumah sakit terbaik di Surabaya."
"Sedang Gilang, karena dia anak tunggal dari keluarga yang cukup kaya, dia diminta untuk membantu mengurusi usaha terbaru keluarganya."
Desta termangu dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh Mr. Lee padanya. Berharap di hatinya, agar bu Hartini kembali sehat seperti semula. Juga harapan terbaiknya, semoga mas Gilang meraih lebih kesuksesan dari usaha yang sedang ditekuninya.
__ADS_1
Benn pun mamandang Desta dengan pikiran jauhnya. Jadi bertambah satu lelaki lagi yang patah hati karena penolakan gadis itu? Bahkan Mr. Lee juga tahu tentang itu. Ada lagikah yang tidak diketahuinya?
*****
Pada penghujung tahun di bulan Desember, cuaca musim dingin di Jepang telah mulai di bulan ini. Meski cuaca begitu dingin dan serasa alergi untuk menyentuh air. Namun, aglaonema-aglaonema indah yang berdaun warna-warni koleksian Mrs. Lee,akan tetap memerlukan air secara rutin seperti biasa.
Desta pun tengah menyirami aglaonema-aglaonema cantik itu dengan guyuran air dari gayungnya. Perlu bergayung-gayung air segar, untuk membasahi semua pot dari tanaman dengan corak-corak daunnya yang begitu memikat hati dan mata penghobbynya. Tak heran jika bunga aglaonema mendapat julukan si ratu daun di kalangan para pecinta tanaman hias itu.
Selesai dengan kegiatan bolak- baliknya dari kamar mandi ke balkon sambil membawa gayung air. Desta yang semula menggigil dingin karena suhu cuaca semakin turun saat malam, kini terlihat titik-titik keringat di dahinya. Gadis itu duduk di balkon sambil mengibas-ngibas kerudung ke wajah, menikmati angin sepoi buatannya.
Desta begitu menikmati lelahnya yang unik, rasa puas dari hasil aktivitas ringan nenyirami tanaman. Tenggelam memandangi aglaonema-aglaonema segar yang seolah sedang mengucap terima kasih padanya.
Tak disadari, Leehans yang baru pulang dari hotel bintang ayahnya, telah lama duduk di balkon memperhatikan segala aktivitasnya. Hingga Desta yang mulai merasa dingin, beranjak masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu balkoninya rapat-rapat.
Karena telah memenuhi isya'nya awal-awal tadi. Desta hanya mencuci kaki, tangan dan mukanya saja. Kemudian bergelung nyaman dengan selimut halus, lembut dan tebalnya di pembaringan.
Kembali teringat akan pernikahannya tanpa kehadiran orang terdekat satu pun. Adakah gadis lain yang bernasib serupa dengannya? Menikah dengan orang asing yang baru di kenal, tanpa ditemani satu orang pun yang sudah dikenal sebelumnya? Sedang di negara ini, belum sempat dimilikinya seorang teman satu pun yang dipercayainya. Mungkin hanya Destalah orangnya.
Rasa nelangsanya terhenti saat terdengar dering panggilan masuk di ponselnya. Segera diraihnya panggilan dari 'Hans san" dengan hati yang berdebar.
"Assalamualaikum." Desta menunggu jawaban salam dari lelaki di seberang.
"Waalaikumussalam. Desta.." Leehans menjawab salam, sambil menyebut namanya menggantung.
"Kau belum tidur?"
"Tidak ngantuk." Desta menjawab singkat dengan hati mulai bergemuruh. Entah hanya dengan mendengar suara serak itu ditelepon, hatinya berdebar lebih kencang dari semula. Dan membuatnya mulai kesulitan berkata-kata.
"Bisa kita berbincang?" Leehans juga bersikap sopan.
"Iya, tuan Hans. Silahkan." Hatinya dag dig dug tak karuan, menunggu Leehans melanjutkan bicaranya.
"Apa ayahku telah menyampaikan padamu tentang sakit bu Hartini?"
"Iya, sudah. Tadi ketika makan malam."
"Lalu?" Leehans menunggu jawaban selanjutnya dari suara indah itu.
"Jadi bu Hartini tidak mungkin datang ke sini."
"Jadi?" Leehans sangat ingin tahu dengan detail, isi pikiran Desta saat ini.
"Jadi... tak ada seorangpun yang ku kenal, akan datang menemani saat aku menikah." Suara Desta terdengar pelan. Mungkin sudah mulai terbawa perasaan.
"Bagaimana perasaanmu." Leehans terus mengejar. Tapi Desta diam saja, tidak langsung menjawabnya. Leehans terdengar berdehem sekali, seperti mengingatkan Desta untuk terus menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Tentu saya merasa sedih sekarang, rasanya hampa. Apapun anggapan anda, tapi saya tetap menganggap pernikahanku ini adalah acara sakral. Saya sedih, tidak mempunyai orang dekat yang bisa menemani dan mendampingi saya nanti lusa."
Suara merdu Desta mulai terdengar bergetar.
"Desta....Kau merasa sendiri?"Leehans menyebut namanya dengan lembut
"Saya tidak punya siapa-siapa." Desta menyahut dengan suara lirihnya.
"Desta.. Apa kau tidak paham tentang kematian? Apa kau tidak pernah belajar apa itu mati?" Leehans bertanya tentang mati, yang menurut Desta agak sedikit aneh.
"Seringkali tuan Hans."
"Nah.. Mati, itulah yang namanya sendiri. Kematian, itulah yang bisa kau sebut tidak punya siapa-siapa."
"Sedang sekarang kau masih bernafas, kau bisa membuka matamu, kau bisa berbicara. Aku masih berbicara denganmu. Ada bibi dan pamanku. Ada orang tuaku. Mereka semua peduli padamu. Ada Benn, yang sekarang menjadi saudaramu."
"Ada aku, aku yang jadi calon suamimu. Ada ayahku, ataupun pamanmu, yang siap jadi walimu saat menikah denganku. Lalu, bagimu kurang siapa lagi sekarang?"
"Desta, kau masih mendengarku?" Leehans bertanya, karena merasa sunyi di seberang.
"Aku terus mendengar, bicaralah apapun tuan Hans." Terdengar sahutan, suara itu kembali terdengar merdu dan jelas.
"Mengurus dokumenmu itu tidak mudah. Mengabari sanak familyku tentang pernikahan ini, juga tidaklah mudah. Tapi aku telah melakukan semua hal dengan perasaan sangat mudah. Kau mengerti?"
"Jadi, jangan pernah berfikir kau sedang sendiri. Ada aku, kau bisa menganggapku apapun. Kau bisa berbicara apapun padaku. Kapanpun itu. Selain aku, juga ada mereka yang siap mendengarmu. Kau mengerti Desta?"
"Iya. Saya mengerti." Desta menyahutnya.
"Jadi.. Lusa, saat aku menikahimu, jangan tunjukkan wajah sedihmu. Kau harus bersemangat. Kau harus mengikuti acara sakral itu dengan hati yang gembira. Kau bisa?"
"Iya. Saya bisa tuan Hans. Terimakasih, anda telah menyemangati saya. Bagi saya, anda benar-benar atasan yang baik."
"Okay Desta. Apakah perasaanmu sudah lebih baik?"
"Iya. Bahkan jauh lebih baik saat ini, saya bersyukur. Sekali lagi terimakasih." Desta semakin kewalahan dengan gemuruh hatinya.
"Baiklah Desta.Karena kau sudah mengerti, aku akhiri perbincangan kita. Istirahatlah."
"Baik, saya akan istirahat, tuan Hans. Selamat malam"
"Siap Desta... Kututup panggilan ini.Tidurlah."
Desta mengangguk, yang tentu tidak akan bisa dilihat Leehans sekalipun. Desta tetap menempelkan ponsel itu di telinganya dengan diam. Sampai terdengar bunyi tut panjang, tanda panggilan telah diakhiri oleh Leehans. Lalu ponsel itu digenggamnya, dan dipandangi layar gelap ponsel hingga matanya mulai perlahan meredup, menutup secara pelan-pelan dan tertidur.
######
__ADS_1