Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Gagal Pergi Ke Jepang # 12


__ADS_3

Direktur Benn terkekeh menertawakan Desta yang tergesa-gesa meninggalkannya. Entah kenapa dia merasa suka mengusik gadis berkerudung itu, ekpresi gadis itu selalu mampu menghiburnya.


Benn sering mencuri pandang keseluruhan visual Desta. Gadis itu cantik tanpa make up berlebih, pilihan gamisnya juga selalu serasi dengan kerudung serta tubuh langsingnya. Kulit kuning cerah Desta juga mendukung setiap pilihan warnanya. Kesimpulanya gadis itu begitu good looking di mata Benn.


**


Rika dan Desta sudah sampai di ruang kerja CEO Leehans. Ruangan yang sama besarnya dengan milik direktur Benn. Bedanya, ruangan Leehans dari pintu hingga perabotannya, didominasi warna hitam dan abu-abu. Sedang ruangan Benn hampir semua propertinya berwarna putih.


Leehans memberikan beberapa lembaran kertas, yang sudah dijilid rapi kepada mereka berdua tanpa basa basi. Sepertinya dia sibuk sekali dengan gunungan pekerjaan yang menunggu di atas mejanya.


Leehans mendapat panggilan telepon dari seseorang. Dia terlihat sedang berdiskusi serius dengan seseorang di seberang.


Tangan kirinya yang bebas membuka lemari es, dan mengeluarkan tiga botol soft drink sekaligus. Dua botol soft drink itu, diberikannya kepada Rika dan Desta. Dengan bahasa isyarat, disuruhnya mereka meminum soft drink itu.


Rika mengiyakan tawaran itu, dan langsung menyambar dengan mulutnya hingga habis separuh. Desta enggan mengambil miliknya, dia tidak menyukai minuman dingin apalagi yang langsung keluar dari kulkas.


Bila ada, dia akan lebih memilih es krim, yang baginya bisa dihangatkan dalam mulut sebelum ditelan.Atau bila terpaksa akan ditunggunya hingga minuman itu hilang sifat esnya.


CEO Leehans berbicara agak menjauh di jendela, dia berbicara serius dengan bahasa asing. Desta sedikit mendengar dan tahu bahwa itu bahasa Jepang. Dia pernah mempelajarinya saat di bangku kuliah, di awal semester kuliahnya.


Meski sudah lama tidak menyimak pelajaran itu, tapi pembicaraan CEO Leehans sedikit bisa dimengertinya. Dia sedang berbicara dengan ayahnya yang ada di Jepang. Ayahnya ingin dirinya kembali ke Jepang hari ini juga. Ada hal penting yang harus dibicarakan tanpa melalui telepon.


Leehans telah menutup teleponnya, wajahnya terlihat gusar, diambilnya botol minumannya dan dihabiskannya dalam sekali teguk. Kepalanya menoleh kepada Desta.


"Minumlah punyamu. " Leehans menunjuk botol minuman milik Desta.


"Saya tidak suka minuman dingin, bolehkah saya tukar dengan es krim saja? " Desta bertanya langsung saja.


"Boleh, tapi kulkasku bukan minimarket. "


Desta langsung merapatkan bibirnya, karena jawaban CEO Leehans terdengar menyindir kepadanya.

__ADS_1


"Jam kerja kalian berakhir hari ini, bawalah poin-poin kerja kalian dan pahamilah di luar. " Desta dan Rika langsung paham mereka telah diusir secara halus.


"Permisi Tuan, terimakasih. "


Rika berpamitan, sekali lagi Desta hanya mengikuti dibelakangnya. Namun CEO Leehans memanggil nama Rika, dan gadis itupun kembali mendekati meja tuan muda itu.


"Ini, kalian belilah es krim di luar, dan ambil saja minumannya untuk kamu. "


Leehans mengulurkan dua lembar rupiah warna merah, sambil tangannya menunjuk botol minuman milik Desta yang dibiarkan di atas meja.


"Wah! Tuan sangat baik, terimakasih. " Rika dengan cepat meraih minuman itu dan melangkah menghampiri Desta yang berdiri menunggunya di luar pintu.


"Ayo Des, ku temani kamu beli es krim, nih dikasih duit sama pak boss. "


Rika meletakkan 2 lembaran merah itu ke tangan Desta dan menggenggamkannya.


Desta cepat menarik tangannya dari Rika, dilihatnya jumlah uang yang ada di tangannya.


Desta tidak mau mengambil punya Rika, diserahkannya kembali yang selembar. Rika menolak, Desta terus memaksa, adegan tolak menolak itu cukup membuat berisik. Desta akhirnya menyerah, karena enggan jika harus bersentuhan tangan dengan Rika terus-terusan.


"Kalo kak Rika menolak, akan ku kembalikan saja uang ini pada tuan Leehans, bagimana? " Desta mengancam.


"Desta kamu nih menolak rezeki dari si boss namanya, sini! "


Disambarnya uang itu dari tangan Desta. Keduanya menuruni anak tangga dengan diam.


**


Tanpa disadari, ada sepasang mata dibalik pintu, mengamati kelakuan mereka berdua yang cukup bising di ruang senyap itu. Lelaki itu mendengus sambil menutup pintu.


Leehans duduk di sofa, sambil meraih dua botol bekas minuman kosong, lalu dilemparkannya ke keranjang sampah di pojok ruangan, dan tepat masuk sasaran. Sambil berfikir tentang permintaan ayahnya barusan, tangannya mengusap-ngusap rambut tebal hitamnya dengan kasar.

__ADS_1


**


Desta sedang duduk di teras depan sendirian, dia menyelinap keluar tanpa mengajak serta Rika, baginya jauh lebih nyaman jika tanpa Rika. Desta mengusir rasa sepi sambil memainkan game di hpnya , berharap gojek food yang tadi diordernya segera datang mengantar makan malamnya.


Sinar terang LED, memancar dari sebuah mobil yang muncul dari sisi lain gedung utama. Diikuti sebuah mobil lagi dengan sorot lampu LED nya yang menyilaukan mata, meluncur perlahan menuju gerbang keluar.


Mobil yang depan kaca jendelanya diturunkan sedikit,nampak dikemudikan oleh pak Joni, yang entah siapa yang dibawanya di kursi penumpang, karena mobil itu dibiarkan gelap begitu saja.


Sedang mobil kedua yang di belakang, mendadak berhenti tepat di depan teras tempat Desta duduk. Kaca mobil bagian depan terlihat diturunkan hingga terbuka sepenuhnya.


Nampaklah setengah dari badan milik direktur Benn terlihat dari luar, lelaki dengan kaos santai itu melambaikan tangan ke arah Desta untuk mendekat. Desta berdiri dan melangkah mendekati mobil direktur Benn. Desta sedikit mendekatkan badannya ke mobil agar dirinya dapat mendengar jelas apa yang akan disampaikan oleh direktur Benn.


"Kalian baik-baiklah di sini, aku sementara akan pulang ke villaku."


"CEO Leehans akan terbang ke Jepang malam ini, jadi kalian belum jadi berangkat bersamanya. "


"Jika ada apa-apa carilah pegawai rumah atau hubungi saja Lucky. "


"Oke, sampai bertemu lagi Desta. "


Desta menyimak perkataan direktur Benn dengan seksama, sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak berminat untuk berkata apapun. Hanya dibalasnya lambaian tangan Benn sambil mengangguk kembali pada lelaki menawan itu.


Pikirannya terpecah, memikirkan abang gojek yang ditunggu- tunggunya dari tadi. Dirinya merasa lapar hingga keluar keringat dingin dari tubuhnya.


Iringan dua mobil mewah itu, telah menghilang ditelan ramainya jalan raya. Desta ingat bahwa ini malam minggu, tentu jalanan akan lebih ramai berkali lipat. Bisa saja gofo*d pesananya terjebak macet. Tapi bukankah iklan berkata mereka akan punya seribu jalan?


Benar saja, terdengar bunyi kenalpot motor dari luar gebang. Desta berlarian kecil menyambut orang yang ditunggu-tunggunya. Setelah tranksaksi selesai , dibawanya bungkusan besar yang berisi bermacam makanan itu ke ruang makan.


Dikeluarkan dan diletaknya diatas meja makan sambil ditatanya piring kosong. Dirinya menaiki tangga berniat memanggil Rika di kamarnya untuk makan bersama.


Setelah kemarin menimbangnya,bagaimanapun Rika adalah satu-satunya teman yang dimilikinya sekarang. Apapun masalah Rika, semua tergantung pada diri Desta sendiri. Bahkan ada keinginan di hatinya untuk membantu Rika kembali normal.

__ADS_1


Rika sangat gembira menjumpai banyak makanan disaat perutnya keroncongan. Jika begini, Desta ibarat pahlawan kegelapan baginya. Mereka menikmati makan malam dalam keheningan. Hanya suara klunting sendok garbu yang sesekali membentur piring.


__ADS_2