
Desta yang berada di gedung bagian produksi, tidak sadar jika Leehans mengawasinya dari CCTV yang disambungkan ke laptopnya. Leehans mengetahui keberadaan Desta dari Id Card pegawai yang telah terkoneksi dengan jaringan system di perusahaan Leehans.
Bukan hanya Desta, tapi seluruh pegawainya telah mempunyai Id Card yang dilengkapi dengan chip koneksi masing-masing. Ini sangat memudahkan atasan untuk mengontrol keetosan kerja setiap pegawainya.
Nemo telah selesai mengantar minuman ke beberapa petinggi divisi, menghampiri Desta untuk mengajaknya kembali. Desta yang selesai bicara dengan Dewa, nama teman barunya itu, mengikuti Nemo dengan bersemangat.
Dewa, lelaki 25 tahun yang berasal dari Banyuwangi. Sudah lima tahun lamanya menjadi TKI di negara sakura bersama istrinya. Istri yang dimilikinya sejak delapan bulan yang lalu dan sempat dipacari sebelumnya.
*****
Meeting kali ini, Leehans membawa asisten barunya yang cantik. Seluruh tim anggota meeting nampak penasaran dengan asisten baru Leehans yang menawan. Sebelum menemukan madam Sharon, bos besar mereka sering berganti sekretaris. Leehans memberhentikan para sekretarisnya yang semua masih muda dan cantik dengan alasan yang sama.
Sekretaris-sekretaris itu tidak mampu menyembunyikan kegenitan mereka di depan Leehans. Karena tidak bisa menahan diri untuk menggoda Leehans, sikap mereka harus berakhir dengan sebuah surat pemecatan tanpa rekomendasi apapun dari perusahaan.
Hanya bertemu dengan madam Sharon tiga tahun belakangan inilah, posisi sekretaris yang sering tukar orang itu jadi stabil. Sepertinya Leehans hanya cocok menjalin hubungan kerja dengan wanita yang jauh lebih tua di atasnya. Tentu saja alasan di sebaliknya telah menjadi rahasia gosip umum di antara para pegawainya.
Itulah, kali ini mereka memandangi asisten baru bos mereka dengan tatapan menilai, ingin tahu dan penasaran. Secara asisten baru ini adalah gadis bergamis yang masih sangat muda dan terlihat sangat cerah. Dan telah begitu lama, bos besar mereka tidak terlihat berjalan bersama seorang wanita muda. Hanya madam Sharonlah, wanita yang selalu mendampingi Leehans, selain Harry asisten lelakinya.
Leehans merasa puas dengan daya kerja asisten barunya yang cekatan. Gadis itu mampu mengerjakan sesuai keinginan Leehans hanya dengan sedikit pertanyaan dan arahan. Nama asisten baru itu adalah Desta Galerie Aisha.
Tidak menyesal rasanya memilih Desta dan membawanya pulang ke Jepang, karena hasil seleksinya waktu itu. Di antara kesibukan meetingnya, Leehans sempat bersyukur, bahwa Benn gagal menikahi dan membawa gadis itu. Hmmh..Apakah itu pikiran yang tamak? Tidak, itu haknya!
****
"Apa kau sudah merasakan lelah dan bosan?"
Leehans dan Desta dalam perjalanan pulang petang itu, keadaan sudah mulai remang-remang di jalanan.
"Masih satu hari tuan Hans. Jika saya bosan, itu namanya malas."
Desta menjawab tepat disertai senyum cerianya. Dia merasa gembira telah diberi kepercayaan untuk bekerja dalam arti yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Apa kau merangkap sebagai gadis pantry juga? "
"Saya hanya ikut Nemo. Gedung produksi milik anda yang di sana, banyak warga Indonesianya."
"Jika senggang, bolehkah saya datang ke sana lagi?"
Leehans hanya diam dengan pertanyaan Desta. Meskipun perusahaan itu miliknya, pegawai-pegawai itu bekerja padanya, tapi gosip bisa berhembus dari manapun. Apalagi Desta adalah perempuan yang akan di sampingnya saat bekerja. Ada pihak-pihak yang tidak mendukungnya, Leehans tidak mau Desta dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menjatuhkannya.
"Desta, jika kau loyal dengan pekerjaanmu.. dengan atasanmu.. sebaiknya hindari pergi ke gedung itu. Kecuali untuk urusan pekerjaanmu, itupun jika ada."
Leehan telah melarang Desta untuk mengunjungi gedung itu, kecuali karena alasan kerja yang jelas. Desta yang kemudian mengerti maksud Leehans, mengangguk patuh dengan arahan bosnya itu.
####
Di rumah keluarga Lee, terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Benn dan orang tuanya telah tiba beberapa saat barusan. Tuan Harsa dan istrinya nampak lelah dalam perjalanan panjang itu. Setelah berbasa basi sebentar, Mrs. Lee membawanya ke kamar agar istirahat sejenak, srbelum makan malam bersama sambil menunggu Leehans dan Desta.
Benn nampak tetap bersama Mr. Lee dan berbincang dengannya di teras. Kepalanya menoleh ke arah gerbang sesekali. Laki-laki tampan itu seperti tidak tenang menunggu datangnya seseorang yang akan muncul dari sana. Mr. Lee paham dengan perasaan Benn yang tidak sabar menunggu Desta pulang kerja bersama Leehans.
Mr. Lee memandang pria tampan yang nampak gusar dalam duduknya itu.
"Tidak ada om, aku sudah taubat. Aku hanya ingin meminta maaf padanya, semua terserah Desta. Aku ingin mendengar sendiri, bagaiman dia benar-benar menolakku."
"Selain itu, aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Bagaimanapun, Desta adalah saudara angkatku. Tolong jaga Desta om, titip dia selama masih bekerja di perusahaan milik om Lee."
Ada gurat sedih dari ucapan Benn, sepertinya lelaki itu benar-benar menyesal atas perbuatannya pada Desta. Diapun harus ikhlas dengan apapun keinginan gadis itu. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, apapun alasannya.
"Dia sudah seperti anakku sendiri Benn. Jangan khawatir, dia aman di sini. Kaupun bisa mengunjunginya kapanpun, selama kau tetap membuatnya nyaman."
Benn mengangguk dengan ucapan Mr. Lee padanya. Dia percaya dengan ucapannya. Tanggung jawab dan kebaikan keluarga ini sudah tak diragukannya lagi. Sebagai lelaki berdedikasi dan berpendidikan, sebenarnya Benn merasa malu untuk berhadapan dengan orang tua ini. Tapi Benn tidak mau menjadi lelaki pengecut jika tidak muncul sekalipun ke sini.
Orang yang dinantikan pun tiba. Mobil besar Leehans telah memasuki gerbang dan menuju garasi keluarganya yang luas. Leehans keluar diikuti Desta kemudian. Berdua berjalan beriringan menuju teras tempat Benn dan Mr. Lee duduk menunggu.
__ADS_1
Leehans dan Benn berangkulan, meski pernah ada konflik di antara mereka, tapi persahabatan tidak akan berubah. Mereka melepaskan diri dan saling menepuk bahu bersamaan. Desta hanya diam memandang keduanya. Ingin pergi masuk rumah duluan, tapi tidak enak hati dengan ayahnya Leehans.
Benn perlahan menoleh dan mendekati Desta. Kakinya terhenti saat menyadari Desta juga memundurkan kaki menghindarinya. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang jauh.
"Assalamualaikum Desta... Apa kabar?"
Namun Desta memilih diam, rasa marahnya pada Benn masih menempel kuat di hatinya.Tidak dilihatnya Benn yang menyapanya, wajahnya memandang jauh ke samping menghindari memandang Benn.
"Desta..Dengarlah sebentar. Aku dan orang tuaku datang ke sini, selain untuk menjenguk tante Yuri, tapi juga untuk minta maaf padamu. Aku minta maaf, aku menyesal, aku sudah insaf Desta. Lihatlah aku sebentar saja."
Desta tidak juga memandang Benn, apalagi bersuara, tidak sama sekali. Benn pernah kurang ajar padanya, namun Benn jugalah satu-satunya saudara yang tersisa miliknya. Meski itu hanyalah hubungan saudara angkat, dari almarhum orang tuanya dengan orang tua Benn.
Tak tahan dengan perasaannya, mata yang semula telah berkaca-kaca itu, kini diam-diam mengalirkan air matanya dengan deras.
"Desta..Kamu menangis?"
Pertanyaan Benn yang lembut padanya itu, justru membuatnya jadi terisak-isak tak tertahan. Tangisannya semakin terdengar jelas di teras itu.
"Hans, bawa Desta ke kamarnya."
"Desta. Redakan tangismu. Jangan lupa, sebentar lagi makan malam. Ada orang tuanya Benn di sana. Turunlah, kami menunggumu."
Mr. Lee yang tak tahan dengan tangisan Desta, menyuruh Leehans mengantarnya ke kamar. Benn hanya memandang mereka dengan perasaan bersalahnya.
"Desta, pergilah sementara ke kamarmu."
Leehans berkata pada Desta seraya melangkahkan kakinya perlahan, menunggu Desta mengikutinya. Desta pun bergegas berjalan di belakang Leehans tanpa berkata apapun, hanya isak yang ditahannya masih lirih terdengar sesekali.
#####
π€π€π€πTrims udah mampir... tetimakasih dukungannya.. Author arigatoooo.. β€β€β€πππ
__ADS_1