
Menangis pun adalah nikmat dari Tuhan yang tak terbantahkan. Sesuatu yang terpendam di hati, tanpa bicara pun akan dipahami oleh pihak lain tanpa susah payah menjelaskan. Demikian halnya tangis Desta. Karena tangisannya, Benn paham akan perasaan gadis itu yang hingga sekarang pun tetap menolaknya. Benn tak akan menanyakan hal itu lagi. Penolakan Desta terhadapnya, diterima dengan lapang dada meski dengan sedikit rasa tidak rela.
***
Semua telah duduk di kursi masing-masing untuk makan malam bersama. Leehans yang sengaja turun lambat, duduk paling akhir di kursi paling ujung, dengan kursi kosong di depannya. Benn masih dengan favoritnya duduk di depan Desta, kursi tempat Leehans biasa duduk. Di sebelah kanan kiri mereka, ada pasangan Lee dan orang tuanya Benn .
"Desta, sepertinya kau cocok tinggal di negara ini. Apakah kau suka cuacanya?"
Nyonya Donha, ibunya Benn mulai bertanya beberapa soalan pada Desta. Diperhatikannya, gadis itu semakin menarik dan sedap dipandang mata setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Betul nyonya. Cuaca di Jepang beda jauh dengan cuaca di kota Surabaya."
Desta menyahut ramah pertanyaan itu dengan senyuman. Wajah itu kembali cerah, meski sisa sembab tangisnya masih terlihat.
"Apa kau menikmati pekerjaanmu di perusahaan Leehans?"
"Iya nyonya. Daripada sebelumnya, saya merasa jadi orang tak berguna. Makan, tidur, duduk, meski ada kegiatan saya lainnya, tapi rasanya sangat jenuh."
Memang, apapun pekerjaan yang Leehans beri padanya, rasanya tetap bersyukur. Daripada hari-harinya habis hanya untuk bergulingan di pembaringan, ini sangat jauh lebih baik.
Leehans yang duduk di sebelah ujung, hanya diam menyimak pembicaraan itu sambil menikmati isi piringnya. Terbiasa berhadapan duduk diam dengan Desta, kini duduk sendiri pun semakin membuatnya terdiam.
"Desta, ada hal yang ingin kami sampaikan padamu."
Orang tua Benn nampak serius memperhatikan wajah Desta.
"Iya nyonya, silahkan."
Desta meneguk gelas minumannya.
"Untuk masalahmu dengan Benn, sebagai orang yang melahirkannya, kami ikut menanggung malu. Maka itu, kita sekeluarga, minta maaf padamu, Desta.."
" Kepada keluarga tuan Lee, kami juga meminta maaf atas kelalaian ini. Kami harap, hubungan persaudaraan kita ini akan kekal seterusnya. Kita anggap, masalah ini adalah batu kerikil keluarga kita."
Mr. Lee dan istrinya mengangguk-angguk bersamaan. Sedang Desta menunduk memainkan sendok dan garpu dalam piringnya.
"Bagaimana, nak? Apakah kau masih tetap tidak terima dengan perlakuan Benn padamu?"
Kali ini, ayah Benn, tuan Harsa yang bersuara padanya. Lelaki itu memandang mantan calon mantunya dengan tatapan yang teduh. Desta menatap paman angkatnya itu dengan enggan.
"Tuan Harsa, saya akan berusaha melupakan perbuatan Benn padaku. Hanya waktu yang akan membantuku melupakannya. Maka itu, lebih baik kita tidak usah membahas masalah ini lagi sampai kapanpun, agar saya tidak selalu menyimpannya dalam hati."
__ADS_1
"Lagipula, tuan dan nyonya Harsa masih sebagai paman serta bibiku bukan?"
"Betul sekali Desta, kami adalah paman dan bibimu, terimakasih dengan pengakuanmu itu. Rasa bersalah kami seperti jauh berkurang sekarang. Maafkan, kami tidak tahu kau masih hidup, sehingga kami tidak pernah mencarimu."
Tuan Harsa memandang Desta dengan raut penyesalan.
"Iya tuan, itu bukan masalah. Saya hidup dan tumbuh dengan baik di yayasan. Keluarga Lee sangat bertanggung jawab pada yayasan kami."
Desta berbicara dengan wajah cerah penuh senyum. Gadis itu mulai bersemangat kembali.
" Desta, ku rasa jangan panggil kami tuan nyonya. Kau bisa panggil paman dan bibi. Atau jika kamu mau, bisa juga daddy dan mommy."
Menanggapi permintaan orang tua Benn, Desta tersenyum hangat pada keduanya. Memanggil seperti itu pasti tidak biasa baginya.
Benn memandang wajah cantik di depannya itu sesekali. Bagaimanapun, rasa cinta tidak bisa berkurang habis dengan cepat. Perlu waktu dan adaptasi yang berkepanjangan. Benn telah ikhlas akan mengikis rasa itu, mesti tidak rela kadang menghasutnya.
"Ayolah Desta san, kau akan panggil apa pada mereka? Jangan bikin kecewa yaa..."
Mrs. Lee yang sedari tadi diam tapi terus menyimak, kini tak tahan lagi untuk bersuara. Teguran ibunya Leehans itu dibalas senyuman dan anggukan kepala dari Desta.
"Saya segan... Tapi saya akan memanggil paman dan bibi saja jika terus di minta seperti ini."
"Terimakasih, Desta.."
Ibunya Benn memeluk dan mengelus kepala Desta dengan sayang.
"Desta, sebelumnya bibi minta maaf. Bukan maksud mengorek urusan pribadimu. Tapi bibi dan pamanmu ingin berpesan padamu."
"Jika kau ingin menikah.. carilah calon suami yang lebih baik dari kakakmu itu, Benn. Atau setidaknya calon suami yang benar-benar baik ya...."
"Ingat Desta. Kami tak segan-segan di sampingmu. Apapun jika ada masalah, kau boleh katakan pada kami. Paman dan bibimu pasti siap untukmu."
Perkataan ibunya Benn yang tulus dan keibuan itu membuat Desta terharu. Dipandanginya wajah anggun dengan sedikit kerut itu, mencari kepastian di sana. Hadir rasa nyaman dan percaya di hatinya.
Teringat akan hal penting yang sedang disimpannya sendirian. Tentang lamaran Leehans padanya kemarin. Lelaki itu ingin jawaban cepat darinya, Desta ingin membicarakannya bersama saat ini. Dipandangnya Benn sebentar, bukannya tidak paham dengan perasaan lelaki itu. Tapi anggap saja perbincangan ini adalah hukuman setimpal darinya untuk Benn.
"Paman dan Bibi... Ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan."
Desta berbicara serius dengan mimiknya yang tegang. Kini semua yang duduk di situ nampak memandang Desta penasaran. Leehans yang juga ikut menyimak obrolannya sedari tadi, terlihat menolehkan kepala melihat wajah Desta lebih jelas. Ingin tahu dengan apa yang akan Desta sampaikan pada paman dan bibinya itu.
"Katakan nak, tentang apakah itu?"
__ADS_1
Tuan Harsapun nampak serius menanggapi perkataan Desta.
"Tentang pernikahanku paman."
Ketegangan semakin terlihat dari setiap wajah yang menatap bibir indah itu berbicara.
"Sepertinya saya akan segera menikah dengan seorang lelaki yang lebih dewasa dari Benn, paman."
Semua terkejut mendengar ucapan Desta itu. Dan semakin penasaran menyimak perkataan Desta selanjutnya.
"Tuan Leehans ingin menikah denganku. Dia menyampaikannya kemarin malam. Bagaimana jika saya menerimanya saja? Bukankah tuan Hans sangat baik orangnya?"
Desta berbicara dengan hanya menatap paman dan bibinya bergantian. Tidak sekalipun diliriknya orang-orang di samping kanan kiri yang sangat terkejut menatapnya. Benn memandang Desta dan Leehans bergantian, sangat tidak percaya.
Meski Leehans nampak tenang, tapi wajah piasnya terlihat jelas saat jelingan mata Benn mengarah padanya. Begitupun ibunya, nyonya Yuri begitu terkejut dengan pengakuan Desta barusan. Seperti ada tambahan ribuan volt di jantungnya, yang membuatnya makin kuat dan segar.
Semua terkejut, juga Mr. Lee yang nampak sangat tegang tak menduganya sama sekali. Heran dengan sikap putra bungsunya yang mampu menyembunyikan hal sedemikian itu, tanpa bisa diendusnya. Ditatapnya tajam mata Leehans, lelaki itu nampak serba salah karena tatapan belati dari ayahnya.
"Hans san...Apakah perkataan Desta itu benar?"
Meski kaget bukan kepalang, namun tuan Harsa tetap berusaha bersikap bijak menyikapi hal itu.
"Iya, betul paman Har. Saya ingin menikah dengannya."
Nyonya Yuri serasa akan pingsan karena mendengar kejutan bahagia yang parah.
"Kenapa, apa alasanmu ingin menikahinya?"
Tuan Harsa semakin mendesaknya.
"Aku ingin menyenangkan hati ibuku. Serta membersihkan nama baik keluargaku dengan pernikahanku itu. Sedangkan Desta, dia akan mudah memperoleh dana wasiatnya sesegera mungkin."
"Apakah alasan itu bisa membuatmu bahagia Desta?"
Kali ini, Benn nampak tak sabar memberikan pertanyaannya pada Desta yang merasa dirinya sedang berada dalam sebuah persidangan. Dengan Leahans dan dirinyalah sebagai tokoh tersangka utamanya.
######
π€π€π€π€ Terimakasih.. masih menyimak novelku hingga ke sinj. Harap dukungannya.. tinggalkan buatku like. saran/ide . vote dan favorite. Terimakasih.β€β€πππ
selamat berpuasa
__ADS_1