Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Kembali Pada Keluarga Lee # 93


__ADS_3

Pasangan suami istri yang terlihat sangat serasi , baru menuruni sebuah pesawat yang mendarat dengat selamat di bandara Narita. Keduanya memasuki gerbang kedatangan, dan menerima serangkaian pemeriksaan kesesuaian dokumen dari petugas bandara yang terkait dengan patuh.


Seorang sopir baru keluarga Lee, tapi Leehans telah menghafalnya, menunggu dengan sabar kemunculan pasangan suami istri baru itu di pintu keluar bandara. Dengan sigap mengambil koper yang dibawa Leehans dan membawanya ke bagasi mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar.


"Bagaimana perasaanmu saat ini, Desta?" Leehans memandangi Desta yang duduk dekat di sebelahnya. Kali ini Leehans tidak membiarkan Desta duduk terlalu rapat dengan kaca jendela mobil, seperti yang biasa dilakukan Desta selama ini.


"Masih tidak percaya aku bisa kembali dengan selamat. Dan aku sangat bahagia." Desta tersenyum memandang Leehans sekilas, lalu memandang jalanan Tokyo yang terkadang nampak pohon sakura yang menggugurkan banyak bunganya di tepi jalanan.


"Apa yang paling membuatmu bahagia?" Leehans tersenyum samar dan lekat memandang Desta,tetap dengan mata tajam berkilatnya.


"Otto Hans, kamu seperti pahlawan bertopeng bagiku. " Desta menunduk memandang jemarinya. Jujur adalah ucapan terbaik saat ini.


"Apa kau pikir aku tidak berusaha mencarimu?" Leehans mengulurkan tangan, dan mengambil jemari lentik itu ke dalam genggamannya.


"Aku memang sempat sedih dan kecewa padamu. Maafkan aku, otto Hans.." Desta membalas genggaman Leehans, rasanya begitu damai, hangat, dan nyaman. Ada rasa getar di hati dan merambat menjalar di jiwa. Digenggamnya lebih erat tangan Leehans. Kini keduanya saling menggenggam dan meremas.


"Aku merindukanmu, Desta.." Leehans bergerak lebih merapatkan dirinya, wajahnya mendekat dan bibirnya telah menempel rapat di bibir merona istrinya.


"Ada sopir, otto Hans." Desta memundurkan kepala sampai habis ke sandaran kursi.


"Anggap saja tidak melihat." Leehans kembali merapatkan bibirnya.


"Aku tidak merasa nyaman, otto Hans.." Desta mendorong pelan bahu Leehans dengan tangannya. Leehans yang sempat meng.ngu.lumm bibir merona itu, terpaksa melepas dan menjauhkan diri sambil memandang sang sopir di kaca, yang kebetulan sedang juga meliriknya. Leehans memandang tajam sang sopir dengan sedikit mendesah samar. Di acak rambutnya kasar dan duduk menyandarkan punggung dikursinya. Hanya terus meremas jemari Desta yang kini kembali ada dalam genggaman sebelah tangannya.


******


Leehans terbangun saat sopir telah membelokkan mobil memasuki gerbang, menuju rumah megah keluarganya. Dilihatnya Desta, masih memejamkan mata sangat rapat dan tidak terusik sama sekali.


"Desta..Desta..." Desta bergerak sedikit dan seketika membuka lebar matanya. Memandang berkeliling, matanya bersinar ria saat sadar telah ada di mana dirinya sekarang.


"Otto Hans, aku kembali ke sini?!" Desta terlihat sangat gembira dengan kenyataan yang ada.


"Ayo turun, lihatlah di sana, siapa saja yang menyambutmu!"


Mr. Lee dan Mrs. Lee, serta ada kak Leezha dan suaminya, berdiri menyambut kepulangan keduanya dengan penuh rasa haru. Mrs. Lee sangat lama memeluk dan mencium Desta berulang kali, khawatir jika menantu perempuannya itu akan hilang kembali.

__ADS_1


Leezha juga terlihat menangis haru memeluk Desta. Perasaan sayang pada istri adiknya itu tumbuh dengan tulus penuh kasih, seperti sikap ibunya pada Desta. Begitu mendapat kabar dari Mrs. Lee bahwa Leehans sedang menuju Macau menjemput Desta, Leezha bersama suaminya segera terbang menuju rumah induk. Sedang kedua anaknya bersama mertua, di Jakarta.


"Ah, Desta... Mommy seperti mimpi melihatmu pulang kembali hari ini. Kau baik-baik saja kah chan?" Mrs. Lee masih terlihat lemah, namun semangat hidupnya terlihat masih berkobar. Tangan Desta tetap dipeganginya.


"Alhamdulillah nyonya, saya selalu dalam lindunganNya. Apakah anda sudah pulih semula, maaf membuat anda cemas." Desta juga ikut memegangi tangan mertuanya.


"Haish, Desta chan...Kau lupa harus panggil padaku apa hah?" Mrs. Lee mencubit pelan dagunya.


"Iya mom.. maaf." Desta menuruti keinginan mertuanya yang tetap ceria meski masih terlihat pucat.


"Desta chan... aku sangat khawatir tak akan pernah punya adik ipar lagi jika kau tidak kembali." Leezha berkata dengan tersenyum pada Desta. Kemudian keduanya tersenyum dengan ekspresi berbeda.


"Sudah..sudah, Leehans bawa istrimu ke dalam, bawa ke ruang makan dulu!" Mr. Lee menepuk-nepuk pelan punggung Desta sembari memandang Leehans yang tengah berbincang dengan Reynaf, abang iparnya. Leehans mengangguk, lalu diambil koper dan dibawanya untuk menuju ruang makan.


"Desta, ayolah makan dulu." Leehans mengajak Desta dengan menepuk lengannya pelan. Desta mengikuti dan berjalan bersama menuju ruang makan.


Formasi makan kali ini, Mr.Lee berhadapan dengan istrinya, Leehans dengan Desta dan Reynaf dengan istrinya, Leezha. Mereka membincangkan seputar perkembanngan usaha keluarga. Sesekali sambil membicarakan perihal penculikan Desta dan siapa dibaliknya. Namun semua seperti kompak tidak menanyakan sementara pada Desta dengan detail, karena khawatir akan membuat gadis itu trauma.


"Desta, untuk saat ini kalian hanimun di rumah saja, di kamar besar suamimu ya." Desta menatap Mrs. Lee serba salah.


"Saya pun ingin cepat kembali mom, rasanya begitu lama tidak melihat kalian. Saya rindu." Desta tidak menutup-nutupi perasaannya.


"Kakak tahulah, Desta... Kau sangat rindu pada suamimu kan..?" Kali ini Leezha yang menggoda Desta dengan ucapannya.


"Ha..ha..ha..Itu sangat bagus.. Hans, lihatlah, Desta sudah siap menerima ajakanmu untuk membuatkanku cucu baru. Itu kakakmu datang jauh ke sini, tapi tidak membawa cucuku satupun." Mrs. Lee dan Leezha memandang Leehans dan Desta sambil menahan senyum.


Desta menunduk menyembunyikan ekspresi kedua matanya, pada makanan sedap di piring. Leehans yang duduk tepat di depannya, melihat jelas wajah Desta yang nampak memerah.


"Desta, jika sudah habis isi piringmu, cepat pergi dan istirahatlah di kamar." Desta mengerti perkataan Leehans yang berusaha mengeluarkannya dari situasi canggung itu. Segera diminum isi gelasnya dan bergegas mengikuti Leehans. Lelaki itu telah beranjak pergi sambil membawa kopernya menuju tangga.


"Haih, kalian ini sungguh terlalu. Mereka baru datang.. lagipula Desta pasti masih banyak pikiran kan?" Mr. Lee menegur tingkah istri dan anak perempuannya.


"Mereka harus terus disemangati dad.. Leehans modelnya kaku begitu, Desta.. bukan gadis yang genit. Kalau kita biarkan, pernikahan itu bisa bubar." Leezha bersemangat membela sikapnya.


"Apakah Desta selamat dan tidak disentuh mafia itu?" Reynaf yang terus diam rupanya juga ikut memperhatikan. Dan pertanyaan itu memang sebenarnya ada pada pikiran mereka semua. Tapi enggan untuk mengungkitnya.

__ADS_1


"Ah hubbiku.. hal itu jangan dulu dibahas, kita akan tahu nanti pelan-pelan. Jika memang iya, kasihan Desta, itu bukan salahnya. Aku sangat tidak tega membayangkan hal itu." Leezha berkata sambil melirik ibunya yang nampak sedih dengan pertanyaan suaminya.


"Betul, kita pasti akan tahu hal itu nanti. Tugas kita harus membuat Desta bersemangat." Mr. Lee ikut menimpali obrolan keduanya.


*****


Desta yang berjalan di muka segera membelok ke kamar yang dua bulan lalu ditempatinya. Desta lupa akan status dirinya. Dan tersadar saat pintu kamar itu tidak lagi bisa dibukanya. Sedang anak kunci pun, Desta tak memegangnya.


"Desta!" Suara Leehans yang terdengar, membuatnya berbalik. Lelaki itu masih berdiri di ujung tangga menatapnya. Desta perlahan mendekat dengan perasaan berdebarnya.


"Aku sudah mengosongkan kamar itu." Leehans menunjuk kamar di belakang Desta.


"Lalu, kamar saya di mana sekarang?" Desta nampak ragu bertanya.


"Di sebelah sana. Mari, ku tunjukkan padamu!" Leehans berkata tegas agar Desta segera mengikutinya.


Leehans tidak menunjukkan satu kamar pun, tapi hanya menuju kamar miliknya yang berada di ujung lorong lantai dua. Desta yang paham, hanya diam saat Leehans menarik tangannya untuk masuk bersama dalam kamar besarnya.


*****


"Desta, kau mandilah. Tapi jika di kamarku, tukar dulu gamismu dengan baju di almari itu, semuanya baru!" Desta yang duduk merenung di sofa kamar, terkaget oleh seruan Leehans dari pintu kamar mandi. Leehans nampak segar dengan rambut basah berantakan habis mandi.


Desta berusaha mengabaikan pemandangan itu dan berjalan menuju almari. Banyak dress cantik dan menarik tergantung di dalam, tapi tidak ada satupun gamis panjang di almari. Sedang almari di sebelahnya terkunci rapat-rapat.


"Otto Hans..Hanya ada inikah?" Desta menoleh pada Leehans yang berjalan mendekatinya.


"Kenapa, apa masih kurang?" Leehans bertanya sambil tersenyum.


"Tidak ada gamis." Desta menjelaskan.


"Ada..di sebelah situ. Tapi aku tidak ingin kau mengenakan gamismu saat di kamarku. Pakai saja yang itu. " Leehans menunjuk lemari yang terkunci, lalu berganti menunjuk baju-baju yang tergantung di hadapan Desta.


"Ah, cepat sedikit Desta! Sholat dzuhur hampir habis. Kita akan kerjakan sholat bersama!" Desta merasa terdesak. Seruan Leehans barusan, telah mendorongnya untuk menyambar sembarang baju itu. Desta bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya buru-buru. Leehans melirik tingkah Desta itu dengan senyum terkulum tak ada habisnya.


#####πŸ™πŸ™ Mohon dukungannya.. Dukung juga pada novel baru otor BUKAN KACUNG KALENG-KALENG πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€

__ADS_1


__ADS_2