8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Kopi


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan menata diri, Ajeng mengantar Bu Rangga menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama. Mereka berempat duduk bersama dalam satu meja, dimana Ajeng berhadapan dengan Pak Rangga dan bersebelahan dengan Wira di sisi kirinya, serta Bu Rangga di sisi kanannya.


“Silakan dinikmati hidangannya!”


“Terima kasih, selamat makan!”


“Ngomong-ngomong, apa kita pernah bertemu sebelumnya, Bu Wira?” tanya Pak Rangga membuka obrolan.


Ajeng yang sedari tadi menunduk untuk menghindari tatapan mata Pak Rangga hanya menggeleng kecil menyembunyikan tangannya yang berkeringat dingin dan bergetar hebat di bawah meja. Ia khawatir kalau-kalau pria itu kenal dekat dengan ayahnya dan tahu siapa ia sebenarnya.


“Apa Bu Wira sakit?” tanya Bu Rangga yang menyadari perubahan wajah Ajeng yang tiba-tiba saja memucat.


Ajeng lagi-lagi hanya bisa menggeleng. Lalu tiba-tiba saja Wira menggenggam tangannya di bawah meja. “Mana mungkin Pak Rangga pernah bertemu istri saya? Saya bahkan belum sempat mengajak dia jalan-jalan kemanapun saking sibuknya.”


“Ah, iya benar. Saya pasti terlalu banyak nonton Ada Apa Dengan Cinta. Saya rasa Bu Wira sangat mirip sama Cinta.”


Wira tertawa mendengar kelakar garing Pak Rangga. Tapi ia merasa bersyukur karena setidaknya tangan Ajeng tidak lagi gemetar. Gadis itu terlihat lebih santai setelah Wira menggenggamnya.


Mereka mulai sesi sarapan bersama sambil membahas tentang rumah dinas yang Wira tempati, taman yang Wira buat dan juga balai kota yang terlihat asri dari jauh.


Setelah selesai makan, pelayan langsung mengelukarkan minuman penutup untuk mereka. Menyadari ada yang terlewat, Ajeng mohon diri untuk ke dapur sebentar.


“Apa kalian tidak menyiapkan hidangan penutup?” tanya Ajeng kepada para koki walikota.


“Maaf Bu, kami sudah menyiapkan puding buah tapi karena mendadak, suhunya masih kurang dingin dan kami tidak berani untuk menyajikannya. Kami pikir tidak akan ada yang menyadari kalau hidangan penutupnya terlewat.” Jawab salah satu juru masak.


Ajeng mengambil semangka, melon dan buah-buahan lain yang ada di dalam kulkas. Mengupas lalu memotongnya dengan sangat terampil menjadi aneka bentuk yang tertata indah di atas piring.


"Bagaimana Bu Ajeng bisa membuah hiasan buah sebagus itu?" Puji para pelayan.


"Cepat bawa keluar! Jangan sampai tamu kita menunggu terlalu lama!"


"Baik, Bu!"


Seorang pelayan mengikuti langkah Ajeng menuju meja makan sambil membawa nampan berisi buah yang sudah disulapnya menjadi bentuk-bentuk yg sangat indah menyerupai bunga dan aneka binatang. “Silakan dicicipi buahnya!”


“Ah, tidak masalah Bu Wira. Apalagi sampai Bu Wira repot-repot menyiapkannya sendiri seperti ini.”


Bu Rangga bahkan minta agar diijinkan membawa buah hias itu pulang karena merasa sayang untuk memakannya. Dan tentu saja Ajeng mempersilakannya dengan senang hati. Tak lama setelah sarapan dan bersantai sejenak, rombongan Pak Rangga pamit untuk melanjutkan agenda dinas mereka di kota lain.


“Kami sangat senang berada di sini. Lain kali kami akan mengagendakan waktu untuk singgah lebih lama di sini.” Puji Pak Rangga sebelum pergi.


“Tentu, Pak. Kami akan sangat menantikan kunjungan Bapak dan Ibu.”


"Bu Ajeng juga hebat. Tidak hanya cantik tapi juga pintar membuat karya seni dari buah seperti ini." Imbuh Bu Rangga.

__ADS_1


Sebelum pergi, Bu Rangga memberikan kenang-kenangan berupa syal kepada Ajeng karena beliau merasa sangat senang dengan sambutan hangat Ajeng hari itu. Terlebih lagi karena ia juga sangat terpesona dengan penampilan Ajeng mengenakal syalnya hari itu.


“Darimana kamu belajar mengukir buah seperti itu?” tanya Wira setelah tamunya pergi.


“Majalah.” Jawab Ajeng asal.


***********************************


Sukses menyambut tamu kehormatan pagi itu bukan akhir segalanya bagi Ajeng. Setelah tamunya pergi, Wira langsung menggiring Ajeng menuju balai kota yang terletak sekitar dua ratus meter saja dari rumah dinasnya.


“Ini tugas kamu selanjutnya.” Ujar Wira setelah menyerahkan dokumen tentang relokasi pasar sayur Kalijaten. “Para pedagang yang mayoritas wanita menolak direlokasi. Mereka menggunakan cara-cara licik dengan memprovokasi petugas agar melukai mereka dan mendapat kecaman masyarakat luas.”


Ajeng membaca berkasnya dengan seksama, terutama pada bagian laporan tentang serangkaian upaya yang telah dilakukan dan kendala yang dihadapi di lapangan.


“Apa Mas Wira belum pernah menemui mereka secara langsung?”


“Untuk apa?”


“Bicara, berdialog, dari hati ke hati.”


“Kamu lihat sendiri kan kalau Rega sudah melakukan sosialisasi kepada mereka.”


“Rega?”


“Wakil walikota.”


“Membujuk orang yang tidak berniat untuk membuka diri itu hal yang sia-sia dan melelahkan. Waktu aku terlalu berharga untuk dibuang-buang demi melakukan hal yang tidak berguna seperti itu.”


Ajeng meletakkan dokumennya dengan kasar di atas meja. “Sekarang sudah jelas dimana akar permasalahnnya. Mereka itu bukan barang yang bisa dipindahkan seenaknya, Mas. Mereka punya perasaan dan keinginan yang harus ditampung dan didengar. Dan yang ingin mereka ajak bicara itu Mas Wira bukan orang lain.”


Tok..Tok..


“Masuk.”


“Selamat pagi, Pak Wira.”


“Selamat Pagi Pak Rega. Gimana? Apa perjalanannya lancar?”


“Alhamdulillah, Pak. Bagaimana dengan Pak Rangga.”


“Clear. Beliau sudah melanjutkan perjalanannya dan kita juga berhasil mendapatkan investasi dari Mr. Suzuki. Oh ya, kenalkan! Ini Ajeng.”


Rega menghampiri Ajeng yang masih duduk ternganga di tempatnya kemudian menjulurkan tangannya dengan sopan.


“Perkenalkan! Saya Rega, Bu. Wakil Walikota Carang Sewu.”

__ADS_1


Ajeng yang sempat terpesona oleh wajah tampan dan ramah Rega segera bangun dari lamunannya dan menjabat tangan Rega. “Ah, iya. Saya Ajeng yang kebetulan sekarang menjabat sebagai Ibu Walikota.”


Rega mengalihkan pandangan kepada Wira, Ajeng lalu Wira lagi. Ia agak aneh mendengar Ajeng memperkenalkan dirinya seperti itu.


“Oh ya, selamat atas pernikahan Bapak dan Ibu. Saya minta maaf karena tidak bisa hadir.”


“Iya ngga papa.” Sahut Ajeng dengan mata yang masih terpaku pada paras Rega.


Untuk urusan usia, Rega tidak terpaut jauh dengan Wira, hanya dua tahun lebih tua dari Wira. Tapi wajah Rega terlihat lebih ramah dan bersahabat daripada Wira. Rega juga murah senyum dan pandai berbicara sehingga terasa lebih menyenangkan dan mudah didekati. Sedangkan Wira terlihat lebih garang dan misterius karena lebih banyak diam dan tidak pandai bicara untuk menyenangkan orang lain alias ceplas-ceplos.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.”


“Tunggu! Pak Rega, bisa bantu saya menjelaskan soal relokasi pasar Kalijaten?”


Rega kembali mengalihkan pandangannya dari Ajeng menuju Wira dan kembali ke Ajeng lagi.


“Soal yang mana? Bukannya semuanya sudah jelas tertuang disana?” balas Rega sambil menunjuk dokumen yang sedari tadi Ajeng pegang.


“Ada beberapa hal yang belum saya temukan disini. Bagaimana kalau kita ngobrol sambil ngopi?” tawar Ajeng langsung menggiring Rega pergi meninggalkan ruangan Wira.


***************


Ketika masuk, Abdi mendapati Wira tengah mondar-mandir di dalam ruangannya sambil bergumam, “Kenapa tatapannya seperti itu?”


“Permisi Pak, ini saya bawakan laporan yang Bapak minta dan ini permintaan disposisi dari Pak Anang.” Ujar Abdi sambil meletakkan tumpukan dokumen di meja Wira.


Wira masih saja mondar-mandir seolah tidak menyadari keberadaan Abdi disana.


“Apa artinya tatapan seperti itu?” gumam Wira.


“Apa ada masalah, Pak?”


Wira manggut-manggut, “Masalah besar.”


“Apa?”


“Kopi.”


“Hah?!”


“Buatkan saya kopi!”


“Kopi? Tapi Pak, bukannya Pak Wira ngga bisa minum kopi?” tanya Abdi dengan lugunya.


“Makanya itu harus belajar, Abdi!”

__ADS_1


“Siap, Pak!” Abdi buru-buru pergi untuk membuatkan Wira kopi di pantry.


************************


__ADS_2