
Setelah selesai makan malam, dr. Husein mendekati Wira dan menceritakan kejadian bersama Ajeng tadi siang.
“Apa? Diah Sekar? Istri Pak Suryo?”
Dr. Husein mengangguk. “Apa Ajeng mengenalnya? Kenapa dia tiba-tiba pergi seperti itu?”
“Apa anda tahu siapa Pak Suryo?”
Dr.Husein kembali mengangguk sambil berbisik. “Pak Presiden.”
“Dan apa anda pernah bertemu beliau sebelumnya?”
Dr. Husein tampak berfikir sejenak sambil menamatkan gambar wajah Pak Suryo yang tertempel di tiang penyangga sekolah samping rumah Ajeng.
“Tunggu! Apakah dia orang yang datang ke klinik waktu itu?”
“Sssssttttt!”
Dr. Husein langsung memelankan suaranya. “Jadi benar?”
Dan sekarang giliran Wira yang manggut-manggut.
“Jadi –“ dr. Husein menatap gambar Suryo lalu menatap Ajeng dan kembali ke gambar Suryo lagi dan kembali ke Ajeng lagi. “Ajeng –?”
Wira kembali mengangguk membenarkan tebakan dr. Husein sambil menempelkan telunjuknya di bibir tanda bahwa dokter senior itu harus menyembunyikan fakta besar itu dari siapapun.
***************
Sementara Wira berbincang dengan dr. Husein, Dara justru mendekati Ajeng untuk meminta maaf karena telah menyebabkan kesalahpahaman diantara Ajeng dan Wira.
__ADS_1
“Saya ngga marah sama kamu, kok.”
“Tapi kami benar-benar tidak sengaja tadi.” Kata Dara kekeh dengan pendapatnya.
“Sekarang kamu jujur sama saya, kamu suka kan sama suami saya?”
“Bohong kalau saya bilang ngga suka sama Pak Wira. Dia gagah, tampan, cerdas dan sangat berkharisma. Saya sudah jatuh hati sejak pertama kali ia datang ke sini. Dan saya juga marah besar karena Mbak Ajeng tiba-tiba saja datang dan mengacaukan hubungan kami.”
“Hubungan?” ulang Ajeng memastikan.
“Pendekatan. Saya bertekad untuk mendekati bahkan menikahi Pak Wira.”
“Apa?!”
“Mana ada gadis normal yang bakal menolak dinikahi sama Pak Wira?”
“Iya saya tahu kalau hatinya milik Mbak Ajeng sejak awal. Tekad saya hancur setelah karantina. Awalnya saja bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk berdekatan dengannya dan memenangkan hatinya. Saya malah sempat berniat untuk tidur dengannya demi merebutnya dari Mbak Ajeng. Tapi jangankan tidur, duduk berdekatan saja susah. Setiap kali senggang, yang dilakukannya hanya mondar-mandir di depan pagar menunggu kedatangan anda. Setiap hal yang dibicarakan selalu tentang anda. Dia bahkan melarang saya membantunya bercukur padahal sudah banyak luka di dagu dan pipinya karena tidak bisa bercukur dengan baik.”
“Jadi Mas Wira mencukur jambangnya sendiri?.”
Dara mengangguk. “ Luar biasa bukan. Dia benar-benar membuat saya rela menjadi istri kesekiannya. Belum pernah saya menemukan pria sejantan dan sesetia Pak Wira. Kalau saja tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri tentang bagaimana kehebatan anda, mungkin saya tidak akan pernah bisa merelakan Pak Wira untuk perempuan manapun. Bagaimana pun juga, kalian adalah pasangan paling serasi yang pernah saya temui. Kalian pasti memang ditakdirkan untuk saling bertemu sejak awal.”
Ajeng tertawa sambil menggeleng. “Semua berawal dari delapan ke empat.”
“Hah?”
***************
Malam semakin larut, Ajeng dan Wira masih saja sibuk membersihkan sampah sisa makan malam bersama mereka dengan warga pulau yang berserakan di atas pasir di sekitar rumah mereka. Wira memapah tubuh Ajeng untuk duduk di teras.
__ADS_1
“Istirahat aja, sayang! Biar aku yang beresin sisanya.” Bisik Wira
Ajeng menarik tangan Wira yang hendak kembali bersih-bersih, sehingga keduanya bertatapan pada jarak yang sangat dekat.
“Mas, kalau aku ngga kembali dan kita ngga ketemu lagi, siapa orang yang mau kamu nikahi?”
“Kamu.”
“Kalau aku sudah nikah sama orang lain?”
“Maka aku akan menduda selamanya.”
“Bohong! Baru juga dateng ke pulau ini, kamu sudah deket-deket sama Dara.”
“Kenapa sih, kamu selalu aja ngerusak momen romantis kita? Susah tahu bikin momen kaya gini.” Protes Wira kesal.
“Hehehe... Jadi, beneran milih menduda selamanya?”
Wira mengangguk. “Karena aku yakin kalau pada akhirnya, kamu bakal tetep balik sama aku.”
“Pede amat!” ledek Ajeng.
“Ya sudah, jadi kamu maunya apa?”
“Kamu.”
Tiba-tiba saja Wira membatalkan semua niatnya untuk bersih-bersih. Ia meraih tengkuk Ajeng lalu mulai mengulum bibirnya dengan penuh gairah. Tak puas hanya dengan saling ******* bibir, Wira membawa tubuh wanitanya itu masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu agat tak seorang pun berani mengganggu mereka, bahkan angin dan ombak malam itu.
***************************
__ADS_1