
Abdi buru-buru pergi untuk membuatkan Wira kopi di pantry.
“Ada apa Di? Kok buru-buru?”
“Eh, Bu Ajeng.. Ini Pak Wira minta dibuatkan kopi.”
“Loh bukannya kamu bilang Pak Wira ngga suka kopi?” sela Rega
“Ngga tahu, Pak. Tiba-tiba aja minta dibuatin kopi.”
Rega yang mendengar percakapan keduanya hanya senyam-senyum saja. Sebagai sesama pria yang telah tiga tahun mengenal Wira, ia tahu persis bahwa rekan kerjanya itu sedang bertingkah aneh karena cemburu. Rega senang karena berhasil mendapatkan satu lagi kelemahan Wira.
Ajeng kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Rega tentang semua yang sudah Rega bicarakan dengan para pedagang dan bagaimana penilaian Rega terhadap karakter mereka. Dengan mengetahui hal itu, Ajeng berharap dapat menemukan cara terbaik untuk mendekati mereka.
“Saya permisi dulu ya Pak, Bu.” Pamit Abdi kepada Rega dan Ajeng yang asyik mengobrol sambil tertawa.
Rega melanjutkan cerita dan pengalaman kerjanya di pasar Kalijaten kepada Ajeng. Ia merasa sangat bangga dan jumawa karena Ajeng terdengar sangat terpesona dan kagum dengan peran besarnya dalam proyek relokasi pasar Kalijaten. Bahkan dengan bangga Rega mengklaim bahwa relokasi itu adalah idenya dan ia sendiri yang mengupayakan realisasinya berjalan lancar selama ini.
Ajeng sempat merasa terganggu dengan gaya bicara Rega yang selalu mengunggulkan dirinya sendiri. Tapi ia merasa terlalu cepat menilai, jadi memutuskan untuk lebih mengenal sosok Rega lebih jauh sebelum bertindak.
Lalu tak lama kemudian seorang wanita berlipstik merah datang, menghampiri dan memeluk Rega. “Kok ngga bilang-bilang sih kalau kamu sudah pulang? Aku kan kangen banget sama kamu.”
Rega membalas pelukan wanita itu dengan hangat dan Ajeng hanya bisa terpaku menyaksikan adegan mesra yang terjadi di hadapannya itu.
“Iya maaf. Tadi aku langsung ketemu sama Pak Wira terus diajak ngobrol sama Bu Ajeng. Jadi belum sempat ngabarin kamu. Maaf yah?” jawab Rega ramah.
Ajeng jadi semakin kesengsem dengan kelembutan hati dan keramahan Rega yang memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan dan kemesraan bahkan di hadapan wanita cantik sepertinya. Ia sudah langsung bisa menyimpulkan bahwa Rega adalah pria setia dan apa adanya yang selalu didambakannya selama ini. Tapi sayang karena pria itu ternyata sudah beristri.
‘Ah, ngga masalah. Aku juga sudah bersuami. Tapi apalah arti status pernikahan. Hati dan perasaan kami jauh lebih penting.’ Batin Ajeng dalam hati.
“Baiklah, kalau gitu saya permisi dulu Pak Rega. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
“Baik, silakan Bu Ajeng.”
“Dasar sok sibuk!” umpat Manda lirih setelah Ajeng pergi.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan sih sayang? Mana boleh ngatain Bu Wali kaya gitu?”
“Loh emang bener kok. Dia itu cuman cewek yang tiba-tiba aja kejatuhan duren dan jadi istri walikota. Tapi bukan berarti dia jadi sama sibuknya sama Pak Wira. Pake berlagak sok banyak kerjaan.” Gerutu Manda.
“Istri Wali memang sesibuk itu. Banyak banget tugas Pak Wali yang harus dibagi dengan Bu Wali. Jadi pasti karena itu Bu Ajeng jadi sangat sibuk.”
“Kok kamu belain dia terus sih? Kamu suka sama dia?”
“Loh kok jadi marah? Aku kan cuma bilang apa adanya? Bukan berarti aku suka sama Bu Ajeng kan?”
“Alaaah, alasan aja kamu! Cowok itu dimana-mana sama. Ngga bisa liat yang cakepan dikit pasti langsung linglung klepek-klepek.” Cerocos Manda sambil pergi meninggalkan Rega. Dan Rega berusaha untuk mengejarnya sebelum perang dunia kembali pecah di dalam rumahnya.
*************
Melihat progres Pekan Pasar Wisata yang belum signifikan, Ajeng merasa perlu untuk melakukan siaran radio demi mempromosikan acara tersebut kepada warga lokal kota Carang Sewu. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Radio Carang Fm untuk melakukan tugasnya yang sempat tertunda kemarin.
Usai melakukan promosi secara langsung lewat radio, Ajeng minta Yuni untuk mengantarnya ke kantong-kantong tempat pedagang UMKM binaan dinas koperasi kota Carang Sewu biasa berkumpul dan ia dibawa ke salah satu gedung serba guna milik salah satu kantor kecamatan di Carang Sewu.
Rupanya disana sedang diadakan seminar dan pembinaan terkait cara mengawetkan makanan yang dihadiri hampir tujuh puluh persen pedagang binaan. Di sana mereka dijamu dengan hidangan yang lezat, ruangang yang sejuk dan juga goodie bag yang menggiurkan
“Yun, kenapa bisa diadakan acara disini dan sekarang? Bukannya mereka seharusnya ada di Pasar Wisata?” tanya Ajeng
“Ngga mungkin. Coba saya lihat surat ijinnya!”
Dan ternyata benar, Wira sudah membubuhkan tanda tangan persetujuannya disana. Kaki Ajeng lemas seketika. Bagaimana mungkin para pedagang yang diburunya akan datang ke pasar wisata kalau mereka mendapat tawaran untuk acara lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan.
Ajeng masuk ke dalam ruangan dan ikut mendengarkan isi penyuluhan yang sedang disimak oleh para pedagang binaan itu. Pembicaranya berasal dari dinas koperasi, kemudian praktisi dari sebuah perusahaan swasta ternama dan pelaku usaha mandiri yang sudah sukses mengembangkan dagangannya sampai ke ibu kota.
Ajeng mulai menikmati isi penyuluhannya. Setidaknya ia merasa lega karena para pedagang itu tetap mendapatkan ilmu yang bermanfaat meskipun mungkin melewatkan peluang lain di pasar wisata.
Tapi semakin lama, Ajeng mulai menyadari bahwa dalam seluruh isi pembahasan tidak sedikitpun mereka menyinggung soal Wira. Bahkan dalam ucapak terima kasih yang disampaikan si pelaku usaha mandiri dan staf dinas koperasipun, tidak sekalipun mereka menyebut nama Wira, melainkan nama Regalah yang mereka agung-agungkan dan unggul-unggulkan sebagai pencetus dan penginisiasi program penyuluhan tersebut.
Tidak sampai di sana, mereka juga berkali-kali menyebut nama Manda sebagai salah satu penggerak wanita yang mendorong para pedagang untuk lebih maju dan berkembang. Padahal Ajeng tahu sendiri faktanya, wanita itu malah mengambil alih stand jatah para pedagang itu untuk menggelar dagangannya sendiri secara besar-besaran di pasar wisata.
“Apa-apaan ini?” gumam Ajeng dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Sekali lagi, beri tepuk tangan yang meriah untuk Bapak Rega beserta Ibu Manda!” ujar si moderator yang langsung diikuti penuh semangat oleh peserta seminar.
Ajeng melihat seseorang sedang menghampiri si moderator untuk memberitahukan keberadaan Ajeng. Tapi karena tidak ingin menimbulkan keributan, Ajeng memutuskan untuk keluar ruangan sebelum ada seorangpun yang mengenalinya dan menyadari keberadaannya.
*******************
Ajeng memilih untuk bersantai di kantin kantor kecamatan sambil menikmati sebotol air mineral yang sudah dioplosnya agar tidak terlalu dingin. Tak lama kemudian acara berakhir dan para peserta mulai berdatangan ke kantin untuk memesan rokok dan minuman.
“Bapak habis ikut penyuluhan?” tanya Ajeng kepada salah satu peserta.
“Iya Mbak. Nih dapat suvenir.” Jawabnya riang sambil menunjukkan goodie bag yang didapatnya.
“Loh, Bapak ngga jualan di pasar wisata?”
“Tadinya sih mau jualan disana. Tapi karena ada acara ini dan katanya digagas oleh Pak Rega, jadi saya lebih memilih untuk datang kesini.”
“Memangnya kenapa kalau Pak Rega yang menggagas?”
“Loh Mbak belum tahu tho? Pak Rega itu ngga hanya muda dan gagah, tapi juga tampan dan hebat. Dia lebih hebat daripada Pak Wali yang ngga ada apa-apanya. Dia yang menggagas semua pengembangan dan pembangunan di kota ini. Istrinya ngga kalah hebat. Selain cantik juga baik dan pintar. Mereka berdua yang berjasa pada kota kita ini.”
“Memangnya mungkin mereka melakukan semua itu tanpa sepengetahuan dan ijin dari Pak Wali?” tanya Ajeng yang masih belum juga puas dengan jawaban mereka.
“Yah, tapi faktanya Pak Wali ngga pernah berbuat apa-apa. Kerjanya cuma nanam tanaman. Kenapa ngga jadi petani aja daripada repot-repot jadi walikota?”
“Iya benar. Apalagi Pak Wali itu duda. Ngurus rumah tangga sendiri aja ngga bisa, apalagi ngurus warga?” imbuh warga yang lain.
Lalu Yuni datang menghampiri Ajeng, “Bu Wali, ini fotokopi surat ijin yang ibu minta.”
“Terima kasih. Kalau gitu saya permisi dulu bapak-bapak, ibu-ibu.”
“Hah? Bu Wali? Jadi itu tadi Bu Wali?”
Ajeng berjalan meninggalkan warga mulai sibuk berbisik-bisik di belakangnya. Tapi tiba-tiba saja ia memutuskan untuk kembali lagi dan menunjukkan potongan surat kabar yang sempat dibawanya tadi pagi.
“Ini.” Ajeng menunjukkan sebuah artikel di koran yang berjudul ‘Pekan Pasar Wisata ramai dibanjiri pengunjung, Omzet pedagang UMKM naik drastis’.
__ADS_1
“Acara yang digagas Pak Walikota sukses besar. Kalian seharusnya mendapatkan omzet ratusan ribu bahkan jutaan jika datang kesana daripada hanya sekantong suvenir seperti itu.”
********************************