
Setelah mandi dan bersih-bersih Ajeng dan Wira turun untuk menikmati makanan lezat yang nenek janjikan kepada Ajeng semalam. Dan benar saja, ketika si kakek membawa mereka masuk ke rumah mereka yang ada di belakang penginapan, aneka hidangan lezat menggugah selera sudah terhidang semua di atas meja.
Mulai dari lemper daun pisang muda, sayur lodeh tewel super pedas, tempe goreng, daging rendang, sayur bening daun kelor dan tumis daun pepaya ikan asin. Dilengkapi wedang rempah dan teh gaharu juga krupuk puli. Senyum Ajeng yang awalnya mengembang indah perlahan memudar begitu menyadari bahwa rangkaian menu yang tersaji di meja adalah menu jamuan kesukaan ayahnya. Lengkap dan tak kurang sedikitpun.
“Silakan dinikmati hidangannya.” Ujar si nenek kepada Ajeng.
Beliau juga mulai menuangkan daging rendang di piring Ajeng ditemani krupuk puli. Wira yang baru pertama kali melihat hal itu merasa aneh. Karena pada umumnya orang akan menuangkan nasi lebih dulu baru lauk, sayur-mayur dan yang lainnya. Tapi ini malah daging rendang dulu dan ditemani dengan krupuk puli pula. Sungguh di luar kebiasaan.
“Kenapa ada sayur bening padahal sudah ada lodeh?” tanya Wira iseng.
“Karena aku ngga bisa makan pedas.” Tukas Ajeng cepat. Ayahnya memang selalu memesankan sayur tidak pedas khusus untuknya setiap kali makan bersama keluarga besarnya.
Tak ingin terlalul banyak berfikir, Wira menyeruput segelas teh gaharu yang ada di hadapannya.
“Apa ini, Nek? Kenapa rasanaya sepat kaya gini?”
“Teh gaharu.” Jawab Ajeng mendahului si nenek.
“Silakan dicicipi Den Ayu!”
__ADS_1
Ajeng menahan diri lalu mulai mencicipi rendang buatan si nenek yang rasanya sangat enak dan sesuai dengan selera ayahnya. Dan tentu saja itu membuat Ajeng tersiksa oleh rasa rindu bercampur rindu, marah, benci dan rasa bersalah.
Wira yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi kepada Ajeng mulai menuangkan nasi ke dalam piringnya. Lalu si nenek tanpa diminta mengambilkan rendang untuk diletakkan di piring Wira. Wanita tua itu kemudian pergi meninggalkan Ajeng yang sedang berjuang menahan air matanya.
Wira mencoba daging rendangnya tapi sial karena bukan daging yang nenek berikan kepadanya melainkan lengkuas.
***********
Setelah makan pagi itu, Ajeng jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Apapun yang Wira katakan dan tanyakan ia hanya menjawab dengan ‘Hah’, ‘Oh’, ‘He’eh’, ‘Hemm’, dan senyum yang dipaksakan.
Wira kemudian mengajak Ajeng ke tempat parkir untuk mengambil motor sport yang dibawanya.
“Mas Wira dateng kesini pake ini?” tanya Ajeng yang wajahnya mulai kembali sumringah. “Ini punya Mas Wira?”
Dengan menahan rasa perutnya yang tak karuan, Wira menemani Ajeng mendatangi banyak tempat, melihat banyak pemandangan baru, mencoba banyak hal, mencicipi banyak makanan dan membeli banyak barang yang diinginkannya.
Hari mulai sore dan Ajeng ingin Wira menemaninya melihat matahari terbit di tepi pantai. Tapi tanpa sengaja Ajeng menyentuh dahi Wira dan baru menyadari bahwa pria itu sedang sakit. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat.
“Mas Wira beneran ngga papa?” tanya Ajeng setelah membantu Wira rebahan di tempat tidur. Ia juga membawakan obat maag dan segelas teh hangat untuk Wira. “Kenapa sih ngga bilang aja kalau ngga bisa minum kopi? Kaya gini kan jadinya?”
__ADS_1
“Bukan ngga bisa. Hanya belum terbiasa.”
“Cih! Ngga ada yang memalukan dengan orang yang ngga bisa minum kopi. Jadi buat apa menyiksa diri kaya gini?!”
“Tapi kamu suka minum kopi dan aku pengen bisa nemenin kamu ngobrol sambil ngopi.” Gumam Wira lirih.
Dan entah kenapa pengakuan itu membuat wajah Ajeng menghangat. Ia merasa senang Wira berusaha untuk membuatnya merasa nyaman meskipun ia tidak tahu apakah itu hanya bagian dari kontrak atau karena pria itu benar-benar menyukainya.
Beberapa saat kemudian, Wira terlihat sudah tertidur jadi Ajeng membenahi selimutnya lalu duduk membelakangi Wira di tepi ranjang sambil membaca buku dan menunggu matahari terbenam dari balik jendela kaca berukuran besar yang ada di kamarnya.
Setelah membaca beberapa bab dalam bukunya, langit mulai menguning dan Ajeng mulai melihat kilau keemasan di ufuk barat dari tempatnya duduk.
“Wah! Indah....” gumam Ajeng lirih.
“Cantik.” Sahut suara di sampingnya.
“Astaga!” Ajeng terlonjak kaget karena tiba-tiba saja Wira sudah duduk di belakangnya sambil memandang wajahnya dari samping.
“Ih,.... Mas Wira bikin kaget aja deh!”
__ADS_1
Wira kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Ajeng dan begitulah mereka menikmati matahari terbenam senja itu.
***********************************