
Tiba-tiba saja Bara merasa bahwa keputusannya datang ke Carang Sewu adalah sebuah kesalahan besar. Ia seharusnya tidak pernah tahu kehidupan macam apa yang Ajeng jalani selama beberapa bulan belakangan ini. Karena itu semua bukan membuat hatinya tenang, tapi malah semakin gelisah dan merasa bersalah.
“Kita langsung ke bandara?” tawar Dimas setelah mereka kembali ke dalam mobil.
Bara menggeleng. “Kita ke rumah dinas walikota saja. Kita sudah tahu sebanyak ini. Sayang kalau ceritanya kurang lengkap.”
“Mas Bara yakin?”
Dimas memutar arah mobilnya dan kembali ke pusat kota menuju rumah dinas walikota Carang Sewu.
Sebagai orang yang sangat paham dengan tata aturan birokrasi, Bara sudah mengatur sedemikian rupa sehingga kedatangannya ke rumah dinas walikota itu tampak seperti kunjungan dinas biasa dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
Rega dan Manda menyambut kedatangan Bara dengan sangat meriah. Mereka mengundang para pejabat tinggi Kota Carang Sewu untuk ikut menyambut, juga menampilkan tari-tarian lokal dan upacara penyambutan formal lainnya demi menyenangkan Bara.
Tapi malah sebaliknya, Bara merasa hal itu membuatnya merasa tidak nyaman karena sebenarnya ia datang ke sana untuk alasan pribadi. Jadi upaca penyambutan seperti itu lebih terkesan pemborosan biaya operasional daripada menghargai tamu.
Setelah ngobrol basa-basi bersama para pejabat dan jajarannya, Bara akhirnya menyatakan niatnya untuk singgah semalam di rumah dinas itu. Dan tentu saja Manda dan Rega langsung menyambut senang niat Bara itu.
Malam harinya, setelah para tamu pulang, Bara mengajak Rega berbincang santai di teras.
“Apa Pak Rega kenal dengan Bu Ajeng?”
“Tentu saja. Beliau orang yang sangat baik dan kami juga menjaganya dengan sangat baik selama beliau tinggal di sini. Oh ya, kalau Pak Bara bertemu dengan Bapak Presiden, tolong sampaikan bahwa sayalah yang memberikan informasi sangat berharga itu.”
“Informasi?”
“Iya, informasi tentang keberadaan Bu Ajeng. Kalau bukan karena saya, mereka mungkin akan terlambat untuk menjemput Bu Ajeng. Dan dengan kondisi Bu Ajeng malam itu, bisa kita bayangkan apa yang mungkin terjadi pada Bu Ajeng kalau sampai terlambat mendapat penanganan.”
“Ah.... iya, saya mengerti. Jadi anda pasti sangat berjasa karena menyelamatkan Bu Ajeng kan?”
“Iya... Begitulah kenyataannya.”
‘Jadi dia orang yang menyebabkan semua kekacauan ini? Dasar penjilat!’ gumam Bara dalam hati.
__ADS_1
“Oh ya, Pak Rega. Saya sangat tertarik dengan gapura hidup yang ada di perbatasan kota. Ide siapa itu?”
“Tentu saja ide saya.” Sahut Manda yang datang dari dalam rumah sambil membawa teh dan cemilan. “Saya yang memikirkan semua ide itu dan suami saya merealisasikannya dengan sangat baik. Berkat kami, Carang Sewu berhasil meraih piala adipura untuk pertama kalinya.”
“Wah! Saya baru tahu kalau walikota Carang Sewu ternyata sangat hebat dan berdedikasi tinggi. Tapi kenapa memilih bambu? Padahal saya lihat sekilas tidak banyak bambu yang ditemukan di kota ini. Lagipula tidak mudah merawat gapura yang terbuat dari bahan hidup dalam jangka panjang."
"Yah soal itu saya rasa karena pertimbangan harga saja. Bambu lebih murah daripada gapura permanen. Soal perawatan jangka panjang, itu bukan masalah karena yang terpenting kami sudah mendapatkan penghargaan Adipuri yang kami inginkan." jelas Rega lugas.
"Ah, seperti itu rupanya...."
"Kalau Pak Menteri tahu betapa putus asanya kami karena tidak pernah berhasil masuk semifinal kota terbersih dan terindah, Pak Mentri pasti tahu kenapa kami memilih seperti itu. Hehe... Jadi, apa kira-kira ada kategori penghargaan yang bisa pemerintah pusat berikan kepada pejabat negara seperti kami ini?” tanya Rega penuh harap.
“Saya tidak yakin.” Jawab Bara diplomatis. “Tapi jika memang ada, saya akan menginformasikannya kepada Anda.”
“Terima kasih, Pak Bara. Anda masih muda tapi sudah menjadi menteri. Bu Ajeng seharusnya memilih pria seperti anda untuk dinikahi. Bukannya penjahat seperti Pak Wira.” Imbuh Manda.
Bara hanya manggut-manggut tidak jelas sambil menyeruput tehnya.
***********************
Ajeng sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kepada Wira siang tadi sampai ia begitu enggan menerima panggilan telpon darinya. Ia juga benci karena tidak berani memberitahu nama aslinya kepada petugas karena takut ketahuan dan disadap.
“Baiklah, kalau begitu saya ingin meninggalkan pesan. Tolong anda catat dan sampaikan kepada Pak Wira!”
“Baik. Silakan!”
Susi tiba-tiba saja masuk untuk merampas ponsel milik Ajeng.
“Susi! Ini punya saya.” Tolak Ajeng memberontak.
“Maaf, Non. Tapi Bapak barusan nelpon saya dan marah-marah karena Non Ajeng main ponsel di kamar. Bukannya Bapak sudah bilang kalau Non Ajeng ngga boleh berkomunikasi dengan siapapun sebelum resmi menikahi Den Bara?”
“Bullshit! Kalian cuma mau menjarain aku disini. Kalian takut kalau orang di luar sana tahu kalau saya ada. Iya kan?”
__ADS_1
“Maaf, Non, saya permisi.” Susi tidak berani menjawab Ajeng dan buru-buru pergi dengan membawa ponsel Ajeng.
Ajeng membuang semua barang di mejanya dengan kasar. Ia juga melempar semua bantal dan selimutnya ke sembarang arah. Ia benar-benar marah karena ayahnya sendiri mengawasinya bahkan saat ia berada di dalam kamarnya sendiri. Ajeng mengambil sebuah botol parfum di meja lalu melemparkannya ke arah kamera cctv yang ada di pojok kamarnya. Sayangnya meleset dan membuat Ajeng semakin marah.
***************************
Seorang petugas lapas mendatangi Wira dan menyerahkan secarik kertas kepada Wira. “Ada titipan pesan buat kamu.”
Tapi Wira masih bergeming. Ia tidur meringkuk menghadap tembok dan bersikap seolah tidak mendengar perkataan siapapun. Ia benar-benar malas bicara dengan siapapun. Pikirannya tidak bisa memikirkan hal lain selain Ajeng, hatinya tidak bisa merasakan apapun selain rasa sakit karena kehilangan Ajeng dan mulutnya tak bisa mengatakan apapun karena rasa sakit yang tengah dideritanya itu.
“Woi! Ambil A*j*ng!” maki petugas itu kepada Wira karena merasa diabaikan padahal sudah bersikap baik mau menyampaikan pesan itu kepada Wira.
Salah seorang teman sesel Wira mengambilnya dari petugas. “Nanti biar saya sampaikan. Terima kasih,Pak.”
Petugas itu kemudian pergi kembali ke tempatnya berjaga.
“Pak Wali, silakan ambil ini!”
Wira masih bergeming.
“Mau saya bacakan?” tanya Pak Hasan. Pria itu adalah teman satu sel Wira yang dihukum karena dituduh membunuh seseorang.
Karena tidak mendapat jawaban, Pak Hasan memberanikan untuk membuka kertas itu lalu membacanya. “Semua akan baik-baik saja. Jaga diri dan aku tetap percaya bahwa hanya timbangan kitalah yang paling benar.”
Wira langsung bangun dan merebut kertas itu dari tangan Pak Hasan. Ia membaca ulang isinya dengan jantung yang berdetak kencang seolah sedang bicara dengan Ajeng yang sudah sangat lama dirindukannya.
‘Ajeng?’ gumam Wira yang mulai meneteskan air matanya dengan deras setelah berhasil menahannya sekian lama.
“Pak! Pak Wali ngga papa?” tanya Pak Hasan cemas ketika melihat Wira duduk meringkuk sambil mendekap kertas itu dan menahan suara tangisnya.
Meskipun sudah beberapa hari tinggal bersama Wira di dalam sel, tapi itu adalah kali pertama ia melihat orang yang sangat dihormati dan diseganinya itu menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.
Meskipun sangat ingin berteriak sejadi-jadinya, tapi pria itu toh tetap berusaha menahan suaranya dengan cara menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan tangan sambil meringkuk. Dan itu membuatnya terlihat semakin memprihatinkan.
__ADS_1
Entah kenapa, tapi Pak Hasan jadi tidak tahan untuk tidak ikut bersedih. Ia kemudian mengambil selimut dan menutupkannya ke tubuh dan kepala Wira agar ia bisa bersembunyi dan menangis sepuasnya tanpa khawatir akan membuat orang lain mencemaskannya lagi.
*********************************