8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Masa Lalu


__ADS_3

“Di, kamu sudah lama kerja sama Mas Wira?” tanya Ajeng sambil mengorak daging ayam goreng yang ada di atas nasi liwetnya.


“Sudah delapan tahunan sih, Bu. Jauh sebelum Pak Wira dilantik jadi walikota.”


“Kamu tahu banyak dong soal Mas Wira? Seperti bagaimana keluarganya atau teman-temannya?”


“Pak Wira paling ngga suka membahas masalah pribadi sih, Bu. Jadi saya ngga tahu banyak soal itu. Saya hanya tahu kalau ayahnya ketua partai dan petinggi di lembaga legeslatif provinsi. Itu aja sih..”


“Kalau pacar? Apa Mas Wira punya pacar sebelum nikah sama saya?”


“Pacar?! Ngga mungkinlah. Mana ada? Pak Wira itu terkenal sebagai pria paling dingin di Carang Sewu. Hampir semua cewek di balai kota pasti punya dendam kesumat karena ditolak mentah-mentah sama Pak Wira.”


“Oh ya??”


“Bener Bu. Pertama kali datang ke Carang Sewu, Pak Wira hampir ngga bisa kerja karena selalu diganggu sama cewek-cewek dan ibu-ibu pegawai, mulai dari yang paling berpangkat sampai ibu tukang bersih-bersih taman, semuanya kesengsem sama Pak Wira. Tapi Pak Wira sama sekali tidak berminat untuk menanggapi."


“Kira-kira kenapa yah dia jadi kaya gitu?” gumam Ajeng.


“Mungkin karena perceraiannya sama Bu Monica, Bu.”


“Cerai?!”


“Loh, Bu Ajeng belum tahu kalau Pak Wira itu duda?”


“Hahaa.. Ya taulah. Masa iya saya ngga tahu kalau nikah sama duda?” sahut Ajeng berusaha menyembunyikan kekagetannya yang memalukan. Bisa-bisanya dia tidak tahu menahu tentang status pria yang dinikahinya. “Kamu kenal sama Bu Monica?”


Abdi mengangguk. “Pak Wira menikahi Bu Monica tapi kemudian bercerai setelah dua tahun menikah.”


“Karena selingkuh?” tebak Ajeng yakin.


Abdi kembali mengangguk.


“Sudah aku duga.”


“Tapi bukan Pak Wira yang selingkuh, melainkan Bu Monica. Dia bahkan menikahi selingkuhannya itu tidak lama setelah bercerai dari Pak Wira. Pak Wira juga menjadi walikota karena mereka, karena Pak Wira ingin mengalahkan Pak Haris, suami Bu Monica, yang menjadi rival politik Pak Wira dalam pilkada tiga tahun lalu.”


‘Apa dia masih secinta itu sama mantan istrinya sampai rela menjadi walikota boneka seperti sekarang?’ batin Ajeng kesal.


“Bu, Bu Ajeng kenapa? Kok nasinya diacak-acak kaya gitu?” tanya Abdi ketika melihat Ajeng mencabik-cabik empal gimbalnya dengan sadis dan mengacak-acak nasi liwetnya sampai berantakan kemana-mana.


********************


Ketika pulang malam harinya, Wira mendapati Ajeng sedang bersantai sambil membaca daftar nama tamu undangan hut darma wanita di teras rumahnya.


“Malem, Jeng.”


“Malem.” Jawab Ajeng singkat.

__ADS_1


“Sudah makan?”


“Sudah.”


“Gimana rapatnya tadi?”


“Oke.”


Dari situ saja Wira sudah tahu ada yang tidak beres dengan istri bayarannya itu. Jadi ia menunda niatnya untuk segera mandi karena gerah dan malah memilih untuk duduk bersama Ajeng di teras.


“Ada apa?”


“Kenapa Mas Wira ngga pernah bilang kalau Mas Wira pernah nikah?”


Wira menghela nafas dalam-dalam. Di satu sisi, ia senang karena Ajeng tipe cewek yang suka berterus terang dan apa adanya. Tapi di sisi lain, ia merasa jengah harus selalu dibenturkan dengan masalah status yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan.


“Apa itu jadi masalah buat kamu?”


“Berapa lama kalian menikah? Sudah punya anak? Kenapa kalian bercerai?”


“Dua tahun, kami belum punya anak dan bercerai karena ketidakcocokan.”


“Kenapa nikah kalau ngerasa ngga cocok?”


“Demi bisnis keluarga.”


Ajeng terperanjat mendengar penjelasan Wira yang singkat, jelas dan padat itu.


Ajeng menatap Wira. “Apa Mas Wira masih cinta sama dia?”


Wira kembali menghela nafas, lalu menggeleng dengan mantap.


“Lalu kenapa Mas Wira mau menjadi walikota? Demi dia?”


Kali ini Wira tertawa kecil, sambil menggut-manggut. “Aku memang menjadi walikota karena dia, tapi bukan demi dia.”


“Maksud Mas Wira?”


“Pernikahan kami berakhir buruk, kami bercerai dan beberapa bulan kemudian dia dilamar pria lain. Sementara aku, karir dan hidup aku hancur, aku jadi pengangguran dan tiba-tiba saja ada parpol yang nawarin aku jadi walikota karena papa. Awalnya aku nolak karena aku ngga suka jadi pegawai pemerintahan. Tapi begitu aku tahu bahwa lawan politik aku adalah Haris, suami baru Monica, aku jadi berusaha mati-matian untuk menang. Dan disinilah aku sekarang.”


“Supaya dia mau balik lagi sama Mas Wira?”


“No! Kamu salah besar. Hanya supaya dia tahu kalau aku jauuuuh lebih baik dan hebat dari pria pilihannya. Itu aja.”


Ajeng terdiam. “Kalau sekarang dia sadar bahwa Mas Wira lebih baik dari pria itu dan minta Mas Wira untuk kembali, apa Mas Wira mau?”


Wira menatap Ajeng. “Karena kita masih terikat kontrak, tentu saja aku akan menolak. Aku ngga mau bayar denda sebesar itu hanya karena wanita yang sudah pernah ngancurin hidup aku.”

__ADS_1


‘Jadi hanya karena kontrak?’ batin Ajeng geram.


Ajeng tersenyum. “Well, mari tuntaskan kontrak kita dengan baik!”


Wira menatap kertas yang ada di tangan Ajeng. “Untuk apa membaca daftar sepanjang itu? bukannya ini sudah di luar jam kerja kamu?”


“Apa dia ada di dalam daftar ini?”


Wira menggeleng. “Namanya tidak terdaftar, tapi dia pasti bakal datang buat ketemu sama kamu.”


Ajeng menatap punggung kekar dan bidang Wira yang berjalan masuk ke dalam rumah. ‘Ketemu sama aku?’


**********


Karena tidak kunjung menemukan informasi yang relevan tentang tamu-tamu penting yang akan ditemuinya pada acara hut dharma wanita minggu depan, Ajeng berinisiatif untuk mencari tahu kepada orang-orang di sekelilingnya. Karena Wira sangat sibuk menggurus banyak hal, jadi ia memilih untuk menjadikan Abdi sebagai narasumber utamanya.


Ajeng menunggu Abdi di ruangan Wira tapi pemuda berambut klimis itu tak kunjung datang. Tak ingin membuang lebih banyak waktu, Ajeng keluar untuk mencari Abdi sambil berjalan-jalan di sekitar kantor. Saat melintasi ruang pantry, Ajeng tidak sengaja melihat Abdi bercakap-cakap serius dengan Manda di depan pintu pantry. Ajeng mengamati dari jauh dan gelagat mereka terlihat sedikit mencurigakan. Jadi Ajeng membiarkan Abdi pergi lebih dulu lalu berpura-pura mencarinya agar tidak terlihat mencolok.


Mereka akhirnya bertemu di depan ruang arsip di lantai satu.


“Abdi!”


“Pagi Bu Ajeng. Ibu nyari saya?”


“Iya. Ada yang mau saya tanyakan sama kamu. Tapi semalam kamu malah ngga pulang.”


“Iya Bu. Saya ada sedikit urusan di rumah dan Pak Wira juga sudah memberi saya ijin untuk pulang. Ada yang bisa saya bantu, Bu?”


“Iya. Kita duduk di situ aja yuk!”


Ajeng kemudian menunjukkan daftar nama tamu undangan VIP kepada Abdi.


“Apa kamu mengenal mereka semua?”


“Ngga bisa dibilang kenal sih, Bu. Saya kan cuma asistennya Pak Wira. Tapi saya tahu siapa mereka. Pertama Bu Sri Pangestu, seorang pengajar di sekolah wanita di Kota Siliwangi. Beliau tokoh penggerak wanita yang sangat populer dengan pemikiran beliau tentang pentingnya pendidikan tinggi bagi kaum wanita.” Abdi menyerahkan salah satu makalah Sri Pangestu yang cukup populer di kalangan masyarakat.


“Yang kedua, Ibu Heni Cahyo, penggerak wanita berkarya. Beliau sangat memperhatikan masalah akses pekerjaan bagi kaum wanita.” Abdi kembali menyerahkan salah satu makalah karya Heni Cahyo kepada Ajeng.


“Dan yang terakhir Ibu Ratih Susilo ini adalah istri gubernur, Susilo Bahri.”


“Seperti apa orangnya?”


“Usia sekitar akhir lima puluhan, tapi masih modis dan gesit. Orangnya kaku dan perfeksionis, cenderung ketus dan tidak bersahabat dengan orang baru yang belum beliau kenal. Banyak yang bilang kalau beliau agak cerewet, termasuk soal jamuan dan fasilitas.”


“Ada lagi?” tanya Ajeng menunggu kalau-kalau wanita itu juga memiliki prestasi lain atau makalah untuk Ajeng baca.


“Beliau adalah mantan ibu mertuanya Pak Wira.”

__ADS_1


“Hah?”


*************************************


__ADS_2