
Sesampainya di kantor, Yuni menyerahkan laporan kegiatannya hari itu langsung kepada walikota karena Wira memintanya.
“Apa?!” tanya Wira setelah mendengar semua laporan yang Yuni sampaikan kepadanya. “Jadi, ngga jadi siaran?”
Yuni mengangguk. “Bu Wali bilang jam kerjanya sudah habis.”
Wira mendesah. “Jadi, dimana Bu Wali sekarang?”
“Sudah pulang, Pak.”
Wira mengernyitkan dahinya sambil membatin, ‘Bisa-bisanya kamu pulang dalam situasi seperti ini.’
“Oke. Yuni, kamu juga boleh pulang. Terima kasih sudah mendampingi Bu Wali hari ini. Tolong bantu Bu Wali yah?”
“Baik, kalau begitu saya permisi, Pak.”
Meskipun kesal, Wira berusaha menghormati kesepakatan yang sudah mereka buat. Waktu memang sudah lewat dari jam empat sore, tapi ia tidak menyangka bahwa Ajeng akan setepat waktu itu ketika bekerja.
Demi mengurangi setresnya, Wira berjalan-jalan menuju alun-alun kota untuk meninjau progres acara pasar wisata sore itu. Dan betapa kagetnya ia melihat bahwa sore itu jumlah pedagang yang bergabung meningkat pesat, begitu juga dengan para pengunjungnya. Tukang parkir sampai kewalahan mengarahkan kendaraan yang hendak mencari parkir karena tempatnya sudah hampir penuh.
Wira akhirnya bisa mengulas senyum di bibirnya. Meskipun caranya cukup ekstrim dan peningkatan partisipasinya belum maksimal, tapi setidaknya apa yang Ajeng kerjakan hari itu membuahkan hasil. Jadi Wira menutup seragamnya dengan jaket, memakai kacamata hitamnya, lalu masuk ke dalam lokasi pasar wisata dan membaur bersama para pengunjung lainnya.
****************
Karena terlalu asyik berbelanja, Wira sampai lupa waktu. Ketika tiba di rumah dinasnya, hari sudah gelap dan suasana mulai sepi.
“Ibu kemana, Bi?” tanya Wira begitu tiba di rumahnya.
“Ibu keluar pak. Sudah dari tadi sore.”
“Kemana?”
__ADS_1
“Katanya mau ke jalan Gajahmada.”
“Gajahmada? Naik apa? Sama siapa?”
“Sendirian Pak. Pake sepeda, Pak.”
“Sepeda? Sepeda angin yang biasanya Bibi pake belanja?”
“Iya Pak.”
Wira menyerahkan semua makanan yang dibelinya di pasar wisata tadi kepada Bi Sumi, “Bi tolong bawa masuk yah?”
“Baik Pak.”
“Di, kumpulkan tim keamanan. Saya perlu membahas sesuatu.”
“Baik, Pak!”
**************
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian semua. Mulai hari ini, Tegar dan Galang akan bergantian mengawal Bu Ajeng dari jauh. Karena tidak terbiasa dengan pengawalan, saya tidak mau keberadaan kalian membuat Bu Ajeng merasa kurang nyaman. Kalian juga tidak perlu mengenakan segaram seperti ini agar tidak terlalu mencolok.”
“Baik, Pak.”
“Saya sendiri yang akan memberikan perintah dan pengaturan. Jadi jangan bertindak tanpa sepengetahuan saya!”
“Baik, Pak.”
****************
Sementara itu, ketika hendak pulang dari berbelanja pakaian di jalan Gajahmada yang merupakan pusat keramaian kota Carang Sewu, Ajeng tidak sengaja melihat seorang pria memukuli seorang gadis kecil di pinggir jalan. Awalnya Ajeng hanya melihat, tapi pria itu terus-terusan membentak dan memukuli gadis itu. Karena tidak ada seorangpun yang peduli, maka Ajeng menghampiri mereka dan menghentikan aksi pria itu.
__ADS_1
“Kamu siapa?” protes pria itu kepada Ajeng.
“Saya hanya kebetulan lewat dan melihat Bapak memukuli anak ini.”
“Jangan ikut campur yang bukan urusan kamu. Ini anak saya, jadi terserah mau saya apakan.” Timpal si Bapak berang.
“Kalau Bapak ini bapak yang baik, Bapak ngga akan mukulin anak Bapak sendiri. Bapak ngga lihat dia ketakutan dan kesakitan?”
“Kurang ajar ya, kamu! Berani-beraninya nyeramahin saya. Kamu pikir saya takut sama kamu?!”
Si anak gadis bersembunyi ketakutan di belakang Ajeng. Ajeng kemudian berniat membawa gadis itu pergi dengan sepedanya tapi si Bapak menarik pundaknya dengan kasar dan menampar pipi Ajeng.
Seolah belum cukup puas dengan menampar pipi Ajeng, pria itu makin brutal dan berusaha meninju wajah Ajeng tapi ia berhasil menghindar dan menangkis serangan tangan si Bapak. Perkelahian diantara merekapun tidak bisa terelakkan lagi. Warga yang melihat berusaha melerai dan menghentikan pertikaian mereka tapi pria yang tengah tersulut amarah itu malah mencakar lengan Ajeng dan hendak menjotosnya. Untung saja Tegar lebih dulu datang dan membantu Ajeng mengatasi pria yang tengah menggila karena amarah itu.
Tegar membawa pria itu ke kantor polisi sementara Ajeng menenangkan gadis itu dan membawanya pulang kembali ke rumahnya.
********************
Ketika tiba di rumah, Wira sudah menunggu Ajeng di teras. Ajeng meletakkan sepedanya lalu menghampiri Wira yang terlihat sudah siap melahapnya habis-habisan.
“Kamu ngapain sih bikin ribut di pinggir jalan? Kamu tahu ngga kalau besok cerita tentang aksi brutal kamu bakalan nyebar di seluruh pelosok kota. Orang bakal tahu kalau Bu Walikota mereka suka main kasar.” Omel Wira begitu Ajeng duduk di kursi.
“Mas Wira pikir aku seneng ribut-ribut di pinggir jalan? Anak itu dipaksa nikah dan dipukuli habis-habisan sama bapaknya. Mas Wira mau aku diem aja? Maaf Mas, aku ngga bisa.”
“Tapi kamu ngga harus turun tangan sendiri. Gimana kalau kamu terluka? Tugas dan tanggung jawab kamu sebagai ibu walikota akan terbengkalai. Berapa banyak warga yang akan dirugikan?”
“Mas, buat aku satu nyawa yang bisa diselamatkan di depan mata itu juga tugas dan tanggung jawab yang sangat penting sebagai sesama manusia.”
Wira menghembuskan nafas kasar. “Mulai sekarang, kamu ngga boleh pergi tanpa meminta ijin.”
“Terserah!” Ajeng bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Keesokan paginya ketika bangun, Ajeng melihat luka bekas cakaran di tangannya sudah diobati dan dibalut dengan plester luka. Ia menatap keluar jendela kamar kemudian menyambar handuk dan sepatunya lalu pergi berlari pagi.
************************