8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Aspri Baru


__ADS_3

Setelah sarapan, Ajeng duduk di teras ditemani Bu Emi melihat Wira, Abdi dan Alda yang sedang sibuk mencuci mobil sebelum pulang ke Carang Sewu.


“Ibu senang melihat mereka akrab seperti ini.” Gumam Bu Emi.


“Ibu sudah lama mengenal Mas Wira?”


Bu Emi mengangguk. “Sejak ayahnya Abdi meninggal dunia. Meskipun dia lebih tua dari Abdi, tapi mereka sangat akrab. Saya sudah menganggap Wira seperti anak sendiri.”


“Dia seharusnya beneran jadi anak ibu setelah menikah dengan Alda.” Celetuk Ajeng.


“Alda?! Hahaha...” Bu Emi tertawa mendengar celetukan Ajeng. “Wira bukan tipe orang yang mau sembarangan nikahin cewek. Apalagi Alda yang sudah dianggapnya adik sendiri. Dulu kalau bukan karena paksaan dari keluarganya, Wira juga ngga bakalan pernah mau nikah sama Monica. Itu adalah keputusan terberat yang diambilnya saat itu. tapi toh semua sudah terjadi dan waktu pada akhirnya menunjukkan bahwa mereka tidak sanggup bertahan.”


“Itu karena mereka sama-sama terpaksa dan tidak saling mencintai. Tapi Alda sepertinya sangat menyukai Mas Wira.”


Bu Emi melirik Ajeng lalu tersenyum. “Mau sekeras apapun Alda memakasakan cintanya, kalau Wira sudah memutuskan untuk menyerahkan hatinya kepada orang lain, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.”


“Bu, tapi pernikahan kami tidak seperti yang ibu pikirkan. Entah bagaimana saya bisa menjelaskannya tapi yang pasti, Alda masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Mas Wira.”


Bu Emi kembali melirik Ajeng dan tersenyum. “Ajeng, Ajeng, tadinya ibu pikir kamu gadis yang sangat sempurna, cantik, sopan dan cerdas. Tapi sepertinya masih ada satu kekurangan kamu, kurang peka.”


“Maksut ibu?”


“Jangan mikir macem-macem. Kalian harus selalu saling menjaga dan percaya. Wira itu adalah tipe orang yang akan selalu melindungi orang-orang di sekelilingnya, apalagi orang itu adalah kamu, istrinya.” Ujar Bu Emi sambil bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah untuk menemani Nanda.


Ajeng mengamati dari jauh bagaimana Wira dan Abdi berusaha menghindar dari air yang disemprotkan Alda, juga bagaimana gadis itu tertawa riang sambil menjulurkan selang air untuk membasahi kedua pria di hadapannya itu. Pemandangan sederhana yang tidak pernah sempat dialaminya semasa hidupnya.


Tiba-tiba saja Wira menghampiri Ajeng dan mengajaknya untuk bergabung, menikmati permainan air bersama Abdi dan Alda. Tapi Ajeng bersikeras menolak karena sudah tidak punya baju lain untuk ganti. karena semua yang terjadi dua hari itu benar-benar di luar prediksinya.


Wira yang sudah tidak sabar langsung membopong Ajeng untuk bergabung bersama kedua sahabatnya itu. Tapi Abdi langsung berhenti dan melemparkan slang airnya begitu melihat Wira datang bersama Ajeng.

__ADS_1


"Ngapain lo?!" tanya Alda dengan tatapan kesal. "Ngerusak suasana aja sih?"


"Ngngng, itu.... Anu.... Udah cukup main-mainnya." jawab Abdi ragu.


"Siapa bilang?! Ini baru permulaan." sahut Ajeng yang baru turun dari gendongan Wira.


Ia kemudian menghampiri Abdi sambil berbisik. "Lanjutkan! Ini perintah."


"Siap, laksanakan!" jawab Abdi cepat.


Dalam sepersekian detik, ia langsung mengambil ember yang penuh berisi air lalu menuangkannya ke kepala Ajeng. Ajeng terkejut dan gelagapan karena tidak menyangka Abdi akan menyiramnya seperti itu. Sementara Alda dan Wira masih terbelelak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Abdi!!!!!!!!!!!! Jangan kabur kamu!!!" Ajeng langsung memburu Abdi untuk membalaskan dendamnya dan permainan mereka kembali dimulai.


Wira membantu Ajeng membalas dendam. Namun Alda tidak terima kembarannya dikeroyok. Jadi perang air diantara mereka tidak terelakkan lagi. Namun yang membuat Ajeng senang adalah bahwa bahkan dalam permainan konyol itupun Wira tetap saja berusaha menjaga dan melindunginya. Tak peduli seberapa banyak air yang disemprotkan dan disiramkan kepadanya, Wira selalu saja memasang badan agar Ajeng tidak terkena serangan iseng kedua saudara kembar itu.


Itu adalah kali pertama ia merasakan pengalaman penuh keakraban dan kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya, yang disebutnya sebagai kebersamaan keluarga.


"Lihat! Sekarang baju aku basah semua dan aku sudah ngga punya baju ganti lagi. kamu sih...."protes Ajeng kepada Wira ketika mereka selesai bermain.


"Tenang nyonya besar, saya sudah mempersiapkan semuanya untuk Anda. Taraaa..." Wira membuka bagasi mobilnya dan ada sebuah koper di dalamnya.


"Itu baju aku?"


Wira mengeluarkan koper itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar bersama Ajeng. Karena penasaran, Ajeng langsung membukanya dan menemukan beberapa setel pakaian lengkap dari lapisan terluar sampai terdalam.


"ini kamu yang siapin, Mas?" tanya Ajeng sambil buru-buru menutup kopernya ketika menemukan bra dan ****** ******** juga di dalam koper.


Wira mengangguk sambil berdiri bersendekap di dekat Ajeng. "Heeem, aku ngga tahu kamu mau pake yang mana. Jadi aku bawa aja semuanya."

__ADS_1


"Emangnya kita mau pindahan? Banyak banget yang dibawa." gerutu Ajeng sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


Bagaimana tidak, pria itu bahkan tidak segan mengemasi pakaian dalamnya yang selama ini sangat bersifat rahasia, dan hanya dia dan petugas laundry yang tahu.


'Duh malunya....'


****************


Setelah Ajeng mandi dan mengganti pakaiannya, Wira mengajaknya bicara serius di dalam kamar.


“Jeng, gimana kalau kita ajak Alda pulang ke Carang Sewu. Dia bisa jadi asisten pribadi kamu, seperti Abdi. Selain karena dia perempuan, dia bisa bela diri, juga pandai mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari bersih-bersih, mencuci sampai berkebun. Masakan dia juga enak.”


“Kalau dia begitu sempurna di mata kamu, kenapa ngga kamu nikahin sekalian aja sih, Mas?”


“Kamu cemburu?”


“Cemburu? Ngga mungkinlah. Aku cuma heran sama kamu. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Carang Sewu itu kota kecil, malam ini Alda nginep di rumah kita, besok pagi gosip bakal menyebar. Tapi kamu malah mau ngebawa Alda yang bukan siapa-siapa kamu ke rumah.”


“Dia kan adiknya Abdi? Dan Abdi tinggal di rumah kita. Jadi wajar kan kalau dia ada di sana juga?”


“Wajar kamu bilang? Kalau Nanda yang ikut, itu baru wajar Mas. Ini cewek, lajang tinggal di rumah orang lain yang bukan apa-apanya. Apa menurut kamu itu wajar?”


“Kan dia datang untuk bekerja, sama kamu.”


“Pokoknya aku ngga setuju! Aku ngga butuh aspri dan aku ngga mau tinggal serumah sama dia. Kalau kamu tetap bawa dia pulang, aku bakal pindah dari rumah kamu.”


“Jeng! Tunggu! Aku belum selesai ngomong.”


Brak!

__ADS_1


“Fiuh.....”


*********************************


__ADS_2