
Melihat Ajeng langsung masuk ke dalam kamarnya meskipun Manda dan Rega ada di ruang tamu, Wira yakin bahwa gadis itu sama sekali tidak berniat untuk menemaninya menyambut kedua tamunya itu. Jadi Wira berusaha mengatasi situasi itu seorang diri.
“Pak Wira, Bu Ajeng emang sering keluar malam-malam sendirian gitu yah?” tanya Manda. “Banyak yang bilang melihat Bu Ajeng keluyuran malam-malam sendirian. Harusnya Pak Wira larang. Kalau sampai kejadian kaya gini, Pak Wira juga kan yang repot.”
“Ajeng kan baru tinggal di sini. Jadi dia pengen tahu setiap sudut kota dengan mata kepalanya sendiri. Dan saya tidak punya waktu untuk menemaninya, jadi yah... mau gimana lagi? Dia terpaksa harus pergi sendirian.”
“Yang namanya istri tuh ngga boleh keluar rumah tanpa ijin suami. Bisa kualat kaya gini kan?” imbuh Manda lagi.
“Saya tidak pernah melarang Ajeng pergi kemanapun karena saya percaya dia bisa menjaga diri. Dan kejadian ini adalah kecelakaan, bukan karma.” Sahut Wira tegas.
Mendengar pembelaan Wira itu, Ajeng memutuskan untuk keluar dari kamarnya dengan mengenakan dres bahan katun berwarna hitam dengan motif bunga kecil berwarna putih, dipadukan dengan cardigan berwarna putih tulang dan sandal jepit. Sesimple itu tapi terlihat sangat anggun dan cantik dimata Wira.
“Kenapa ngeliatin aku kaya gitu?” tanya Ajeng sambil berjalan pelan lalu duduk di samping Wira. “Ada yang aneh?”
Wira buru-buru menggeleng karena tidak ingin terlihat konyol karena terkesima oleh pesona kecantikan Ajeng.
Gadis itu kemudian melingkarkan tangannya di lengan Wira. “Makasih yah, kamu sudah selalu percaya sama aku.”
Wira buru-buru meraih cangkir tehnya dan langsung menenggaknya hingga habis tak bersisa. Tiba-tiba saja ia merasa gerah dan kehausan padahal hanya mengenakan kaos putih berkerah dan celana kapri yang longgar dan nyaman.
“Oh ya, maaf karena saya belum sempat menyapa Pak Rega dan Bu Manda dengan benar. Selamat datang di rumah kami.” Sambut Ajeng kepada kedua tamunya itu.
“Gimana keadaan Bu Ajeng. Kami dengar Bu Ajeng terluka saat sedang berkelahi sama preman.” Sahut Manda basa-basi.
“Bu Ajeng hebat karena punya keberanian melawan penjahat seperti itu.” puji Rega menimpali istrinya.
“Apa hebatnya kalau malah nyusahin Pak Rega dan Bu Manda kaya gini.” Timpal Ajeng sambil menunjukkan oleh-oleh yang diterimanya dari Manda.
“Kalau boleh tahu, Bu Ajeng ini asalnya darimana ya? Dan gimana ceritanya bisa kenal sampai nikah sama Pak Wira?” tanya Manda membuka pembicaraan setelah mereka duduk bersama di kursi tamu.
“Dari –“ gumam Ajeng ragu.
“Jala Dasa.” Tukas Wira mendahului Ajeng. “Iya kota Glulu di provinsi Jala Dasa.”
“Wah, jauh yah?” sahut Manda. “Terus kok bisa ketemu sama Pak Wira?”
__ADS_1
“Kami kebetulan bertemu di Bukit Braksi Siliwangi.” Imbuh Wira.
“Oh....”
Awalnya mereka berbincang santai soal kabar, hobi, keluarga dan topik ringan lainnya. Lalu Manda minta ijin ke kamar kecil dan topik pembicaraan beralih menjadi semakin berat dan membosankan karena membahas pekerjaan.
“Oh ya, Pak. Soal pencopet itu, kami sudah membawanya ke kantor polisi.” Jelas Rega setelah membahas tentang relokasi pasar sebelumnya.
“Kenapa dibawa ke kantor polisi?” protes Ajeng. “Saya kan bilang kalau saya ngga kehilangan apa-apa dan baik-baik saja. Lagi pula dia sudah mengakui kesalahannya dan minta maaf. Apa lagi?”
“Tenang, Jeng! Kasih Pak Rega kesempatan untuk menjelaskan.”
“Maaf Bu, saya sudah menyampaikan seperti yang Ibu sampaikan. Tapi pihak keamanan dan polisi berasumsi bahwa perbuatan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau saja waktu itu Tegar tidak bertindak cepat, hal buruk bisa saja terjadi sama Bu Ajeng.”
“Jadi kalian mau bilang kalau dia mengalami semua ini karena saya? Dia dipenjara padahal saya tidak menuntut hanya karena saya istri pejabat?” tanya Ajeng penuh emosi.
“Bu, tindak kejahatan sekecil apapun, apalagi itu yang berurusan dengan orang penting seperti Bapak dan Ibu, merupakan tindakan besar yang wajib diwaspadai. Apa Bu Ajeng pernah membayangkan apa jadinya kota ini kalau sampai ibu walikotanya terluka karena perbuatan iseng orang yang tidak bertanggung jawab? Sebagai pemerintah, kami harus bijak menimbang kepentingan yang lebih besar.” Jelas Rega panjang lebar.
“Bagi anda, keselamatan istri walikota mungkin lebih penting. Tapi bagi anak dan istri dari pencopet itu, keselamatan ayah dan suami mereka adalah yang paling penting. Saya jadi penasaran dengan timbangan yang anda gunakan.” Ajeng masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Wira dan Rega dengan tampang kesal.
“Ngga usah khawatir. Biar saya yang urus Ajeng.”
“Tapi Pak, sepertinya Bu Ajeng salah paham terhadap saya dan saya merasa tidak enak.”
“Kenapa anda peduli apakah istri saya salah paham atau tidak. Bukankah tugas anda hanya menjelaskan?” sindir Wira yang merasakan sikap janggal yang ditunjukkan Rega kepada Ajeng.
“Maaf Pak, saya tidak punya maksut lain. Saya hanya tidak ingin ada kesalahpahaman.”
“Pastikan saja pencopet itu menerima hukuman paling ringan. Kalau perlu, berikan jaminan supaya dia bisa segera keluar.”
Rega menatap Wira ragu tapi kemudian menyerah. “Baik, Pak.”
***************
Ketika masuk ke dalam rumah, Ajeng berpapasan dengan Manda yang baru kembali dari kamar kecil tapi Ajeng seolah sengaja melewatinya begitu saja. Karena merasa penasaran dan sedikit tidak terima, Manda mendatangi kamar yang dimasuki Ajeng dan mengetuk pintunya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ajeng membuka pintu, “Ada apa?”
“Boleh saya masuk? Saya merasa tidak nyaman ngobrol sama Bapak-Bapak di luar.”
Ajeng melebarkan pintunya dan mempersilakan Manda masuk. Manda mengamati dengan detail seisi kamar Ajeng. Mulai dari tempat tidur, lantai, atap, penyejuk ruangan, meja dan semua benda yang ada di atasnya.
“Bu Ajeng ngga tidur sekamar sama Pak Wira?”
“Apa?!” Ajeng tidak menyangka bahwa Manda akan menanyakan urusan seperti itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Kamar ini lebih terlihat seperti kamar gadis remaja yang masih single daripada pasangan suami istri.”
“Ini tempat istirahat dan ruang kerja saya. Sedangkan tempat tidur saya ada di sebelah, di kamarnya Mas Wira. Kenapa? Ada masalah?”
Manda cepat-cepat menggeleng. “Saya hanya penasaran akan banyak hal tentang Bu Ajeng.”
“Kenapa kamu begitu tertarik sama saya?” tanya Ajeng langsung ke intinya.
“Tertarik?” Manda berpura-pura tertawa. “Bukannya wajar kalau seorang rekan kerja merasa penasaran dan ingin tahu banyak hal tentang satu sama lain? Apalagi baru kenal dan ketemu.”
“Apa lagi yang mau kamu tahu dari saya?” tanya Ajeng sambil berdiri dan bersendekap di hadapan Manda.
“Apa benar Bu Ajeng berasal dari Glugu, siapa orang tua dan keluarga Bu Ajeng dan kenapa Pak Wira buru-buru menikahi Bu Ajeng?”
“Kalau saya beritahu kamu, apa kamu bakal percaya?”
“Coba aja!”
“Oke..” Ajeng meregangkan tangannya dan berjalan melewati Manda lalu duduk di tepi ranjangnya. “Saya berasal dari tempat yang sangat jauh, dari keluarga yang sangat terpandang yang tidak pernah kamu bayangkan dan saya berada di sini karena Mas Wira mencintai dan membutuhkan saya.”
“Hahaha....” Manda kembali memaksakan tawanya. “Baiklah. Anda benar, saya tidak akan bisa mempercayai perkataan anda. Kalau begitu saya permisi.”
‘Sabar Man, sabar... Ngga masalah kalau dia ngga mau jujur tentang latar belakangnya. Lo bakal nemuin fakta yang berusaha dia tutupi mati-matian itu dan ngehancurin dia sampai ngga berani lagi nujukin mukanya dihadapan elo. Tunggu aja! Lo pasti bisa Manda.’ Gumam Manda pada dirinya sendiri.
**************************************
__ADS_1