
Menjelang peringatan hari ulang tahun dharma wanita yang akan segera digelar, di beberapa tempat di kota Carang Sewu, Ajeng jadi sangat rajin memanfaatkan jam kerjanya untuk mempelajari tentang karakter pembicara dan tamu undangan lain yang akan hadir pada acara tersebut. Ia yakin bahwa hal itu akan memegang lima puluh persen keberhasilan acara.
Siang itu mereka kembali mengadakan rapat panitia persiapan hut dharma wanita untuk finalisasi menu jamuan, susunan acara dan proses pembayaran vendor-vendor yang bekerjasama dengan mereka.
**************
Persiapan sudah mencapai sembilan puluh persen dan hanya tinggal menunggu proses pelaksanaannya saja. Hari itu Ajeng mendatangi bagian humas dan protokoler karena materi seminarnya belum juga diserahkan padahal pelaksanaan acaranya tinggal dua hari lagi.
“Maaf Bu, kami masih sibuk mengurusi pekerjaan yang lain. Besok akan kami rampung dan serahkan kepada ibu.”
Ajeng kembali dengan perasaan kesal. Membuat materi bukanlah pekerjaan berat bagi mereka yang sudah terbiasa mengerjakan tugas seperti itu. apalagi topik pembahasannya sangat umum dan luas. Tapi melihat bagaimana mereka tidak mengutamakan kepentingan Ajeng membuat Ajeng yakin bahwa ia harus siap dengan rencana cadangan.
“Bu Ajeng!”
“Dito?! Ada apa?”
“Bisa bicara sebentar?”
“Kalau tidak ada urusannya dengan pekerjaan sebaiknya tunda saja lain waktu.”
“Tidak Bu. Ini soal pekerjaan.”
Ajeng menatap Dito lalu mengajaknya duduk di meja tamu di ruangan Wira.
“Apa tidak bisa kita bicara di sini saja?” pinta Dito ketika mereka melewati kursi tunggu yang ada di sekitar lorong depan ruang kerja.
“Saya tidak mau menambah salah paham orang terhadap saya.”
Dito terpaksa mengikuti Ajeng menuju ruangan Wira dan ternyata Wira dan Abdi juga sedang berada di sana untuk membicarakan sesuatu.
“Siang Mas.”
“Siang Jeng. Ada apa ini?”
“Dito bilang perlu bicara sama saya. Boleh kami bicara disini?”
“Tentu.” Wira beranjak dari kursinya berniat keluar agar Ajeng bisa bicara leluasa dengan Dito.
“Mas Wira di sini aja. Kami akan membahas soal pekerjaan, jadi aku rasa Mas Wira juga berhak tahu.”
Wira kembali ke tempat duduknya sementara Abdi bergegas keluar karena tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.
“Ada masalah apa Dit?” tanya Wira.
__ADS_1
“Jadi begini Pak. Sebenarnya saya tidak berhak untuk mengatakan masalah ini. Tapi saya merasa perlu untuk memberi tahu Bu Ajeng dan Pak Wira.”
“Lanjutkan!”
“Jadi subbag penyiaran berencana untuk tetap meliput acara itu secara besar-besaran. Menurut mereka, ini adalah momen yang sangat tepat untuk mempromosikan kota kita kepada dunia luar.”
“Yakin mau mempromosikan kota kita? Bukannya mempopulerkan Rega dan Manda?” tukas Ajeng.
“Maksud Bu Ajeng apa?”
“Ngga usah dimasukin hati, Dit. Bu Ajeng emang suka becanda kaya gitu orangnya. Apa Pak Parto sudah acc?”
“Sudah Pak. Karena itu saya merasa perlu memberitahu Bu Ajeng.”
“Apa yang kamu harapkan dengan memberitahu kami tentang itu.”
“Saya tidak berani, Pak.”
“Saya memberi kamu ijin. Katakan!”
“Saya berharap agar Bu Ajeng tidak hadir dalam acara itu.”
Ajeng siap menyambar tapi Wira langsung menahan dan menenangkannya.
“Kalau bagitu saya permisi, Pak.”
“Mas, kok kamu malah nahan aku sih?” protes Ajeng setelah Dito pergi.
“Ngga ada gunanya kamu marah sama dia. Dia ngga punya wewenang apa-apa.”
“Tapi kan dia berhak untuk menolak kebohongan kalau emang tahu dan ngga setuju.”
“Untuk dimutasi ke tempat yang lebih mengerikan?”
“Ya ngga gitu maksut aku.” Jawab Ajeng merasa tidak enak.
“Ajeng. Tempat ini ngga jauh beda dengan medan perang. Hanya saja senjata yang digunakan dan pertempuran yang dilakukan tidak kasat mata meskipun lebih mengerikan dan mematikan. Kita tidak bisa menghadapi ini dengan otot aja.”
“Terus, Mas Wira setuju kalau aku ngga perlu hadir di acara itu?”
“Kamu tetap harus hadir karena kamu adalah pembicara utama.”
“Mas –“
__ADS_1
“Kita ngga bisa merusak persiapan yang sudah sematang ini hanya karena peliputan. Ada banyak orang yang akan dirugikan kalau kamu sampai ngga datang.”
“Jadi menurut Mas Wira mereka semua jauh lebih penting daripada privasi aku, Mas?”
“Jeng!”
*************
Karena Ajeng harus datang ke acara itu, maka Wira berusaha untuk melindunginya dengan cara lain. Pertama ia mendatangi panitia dan minta agar jadwalnya diatur kembali agar pada saat Ajeng mengisi seminar, ia bisa mendampingi dan terus bersama Ajeng sampai acara berakhir. Tapi permintaan sesederhana itupun menjadi tidak mudah bagi Wira karena panitia menolak dan tetap bersikeras bahwa Wira harus tetap menghadiri acara pameran di alun-alun kota pada saat yang bersamaan.
“Oke. Terserah kalau kalian tetap bersikeras. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tidak bisa menghadiri acara itu karena ada acara lain yang lebih penting.”
“Pak, jangan gitu dong! Ada Pak Gubernur juga di sana.”
“Apa saya harus peduli sementara kalian sama sekali tidak peduli dengan kepentingan saya?”
“Tapi Pak –“
“Pak Wira! Bisa kita bicara sebentar?” Rega tiba-tiba saja menghampiri Wira.
Mereka duduk di salah satu lorong yang jarang dilalui orang di lantai satu.
“Bisa langsung ke intinya? Saya punya banyak urusan.”
“Pak Wira, apa bapak lupa kenapa Bapak harus selalu tunduk dan patuh pada keputusan yang sudah saya buat sekalipun Bapak adalah atasan saya?” tanya Rega memprovokasi.
“Pak Rega, ini hanya masalah sepele. Apa tidak bisa kita bicarakan baik-baik.”
Rega menyeringai. “Pak Wira ini lucu, masa iya mengesampingkan pertemuan penting hanya demi menemani istri yang sedang seminar. Apa Bu Ajeng setakut itu datang ke sana sendiri tanpa Pak Wira?”
“Pak Rega, ini bukan soal takut atau tidak. Tapi saya merasa bahwa saya perlu mendampingi istri saya yang sedang berjuang menginisiasi dan menginspirasi banyak wanita di luar sana. Saya rasa itu jauh lebih penting dari pada sekedar menemani Pak Gubernur minum kopi.”
“Apa Pak Wira baru saja mau bilang kalau Bu Ajeng lebih penting dari pada Pak Gubernur?”
“Tentu, bagi saya dia lebih penting dari segalanya. Kalau Pak Rega pikir Pak Gubernur begitu penting, kenapa bukan Pak Rega saja yang mendampingi beliau dan membicarakan tentang dukungan untuk Pak Rega.”
“Pak Wira!” bentak Rega tersulut emosi. “Saya akan pastikan Pak Wira menyesal jika berani menentang saya.”
“Maaf Pak Rega, saya permisi dulu. Masih banyak hal penting yang harus saya lakukan.”
“Pak Wira!” Rega mengepalkan tangannya melihat Wira berani mengabaikannya dan meninggalkannya begitu saja.
“Kamu bakal nyesel sudah berani menentangku.” Gumam Rega setelah Wira benar-benar meninggalkannya.
__ADS_1
*******************************