
Mereka akhirnya tiba di kaki bukit dan mulai melewati jalanan yang lebih landai.
“Mas, jalannya udah bagus. Mas Wira bisa turunin aku sekarang.” Ujar Ajeng yang mulai merasa salah tingkah karena melanggar salah satu aturan kontrak yang tidak memperbolehkan kontak fisik intens diantara mereka.
Alih-alih menurunkan Ajeng, Wira malah membenahi gendongannya agar Ajeng merasa lebih nyaman.
“Kaki kamu masih sakit. Kalau dipaksakan jalan, aku takut senin besok kamu jadikan alasan buat mangkir dari rapat dharma wanita.” Elak Wira.
“Selalu aja soal kerjaan.” Gerutu Ajeng lirih.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tiba di pasar pagi yang sudah mulai sepi pengunjung. Wira sengaja menurunkan Ajeng di warung tempat ia membelikan kopi untuk Tegar tadi.
“Tempat ini lagi..”
“Kenapa?”
“Tadi aku beliin Tegar kopi disini karena aku sudah bicara kasar sama dia.”
“Oh ya? Kamu juga neriakin aku tadi.”
“Mau dibeliin kopi juga?”
“Kenapa ngga?”
“Bu! Tolong bikinin satu kopi yang paling enak yah?” pinta Ajeng kepada pemilik warung.
“Baik, Neng.”
“Mas, aku ngga mau ada pengawalan lagi. Aku takut.”
“Tenang aja! Mulai sekarang, aku sendiri yang bakal jagain kamu.”
Ajeng tersenyum senang. Pegawalan benar-benar menimbulkan trauma dan ketakutan tersendiri bagi Ajeng. Terlebih lagi kalau pengawalnya psiko dan terobsesi kepadanya seperti Tegar.
“Lain kali jangan membelikan hadiah secara khusus kepada pria lain seperti tadi!” celoteh Wira sambil meniup kopinya yang masih panas.
“Mas Wira mau dibeliin baju juga?”
“Bukan itu masalahnya. Kadang orang bisa salah mengartikan kebaikan kita dan justru menjadi boomerang untuk kita sendiri.”
Ajeng merenungkan perkataan Wira. “Sejak kapan Mas Wira sadar kalau Tegar memiliki obsesi mengerikan seperti itu?”
“Sejak dia menolak untuk bertugas sesuai jadwal, menolak dirotasi dan bersikeras untuk selalu menjaga kamu.”
“Kapan tepatnya?”
“Setelah menyelamatkan kamu sepulang dari jalan Gajahmada.”
Ajeng terbelalak sambil bergidik ngeri. “Kenapa Mas Wira ngga pernah bilang-bilang sih? Serem tau!”
“Karena kita harus mendapatkan bukti sebelum berasumsi. Tapi kejadian hari ini sudah sangat keterlaluan. Aku ngga bisa lagi mentolerir semuanya.”
Ajeng menggenggam tangan Wira sambil tersenyum. “Bener kan yang aku bilang, gak semua orang yang ada di sekeliling kita bisa kita percayai.”
“Ngga semua bukan berarti ngga ada satupun.” Ralat Wira.
__ADS_1
Ajeng mencebik kesal karena Wira masih saja setia membela Abdi di hadapannya.
**************
Wira kembali menggendong Ajeng sampai ke penginapan. Di sepanjang jalan, mereka bercerita tentang hal-hal lucu yang membuat mereka tertawa. Wira juga menceritakan masa kecilnya yang selalu dimanjakan oleh ibu dan kakak perempuannya, diperlakukan seperti anak kecil yang hanya bisa dilindungi dan diperintah.
“Emang Mas Wira seimut itu?” ledek Ajeng setelah mendengar cerita Wira.
“Entah kenapa kadang dianggap imut dan menggemaskan itu sangat menyebalkan bagi kaum laki-laki.”
“Seenggaknya, Mas Wira beruntung karena masih mempunyai seorang ibu yang sayang sama Mas Wira.”
“Memangnya ibu kamu ngga sayang sama kamu?”
Ajeng menggeleng. “Ibu tiba-tiba saja menghilang saat aku masih umur tujuh tahun. Orang bilang ibu jatuh sakit dan meninggal dunia. Tapi ngga ada seorang pun yang bisa menunjukkan dimana ibu dimakamkan.”
“Jadi kamu masih yakin kalau ibu kamu masih hidup?”
Ajeng mengangguk. “Tapi semakin dewasa, aku semakin menyesali keyakinan itu. Karena kalau benar masih hidup, ibu seharusnya berusaha mati-matian untuk nemuin aku.”
“Orang pasti punya alasan atas tindakannya. Paling ngga, ayah kamu berhasil membesarkan kamu dengan baik.”
Ajeng menggeleng. “Bukan ayah yang membesarkan aku. Melainkan seorang wanita malang yang kehilangan seluruh keluarganya karena kecelakaan. Namanya Bibi Husna. Hanya dia yang selalu menjaga dan merawat aku sampai sebesar ini.”
Wira mulai bingung dengan cerita Ajeng. Tapi ia tidak berniat bertanya lebih jauh. “Bukan hanya Bibi, tapi sekarang ada aku juga yang bakal jagain kamu.”
“Kalau sampai aku kenapa-napa, Mas Wira harus bayar kompensasi yang sangat besar atas pelanggaran kontrak.”
Wira yang kedua tangannya memegang tubuh Ajeng hanya bisa mengangguk lalu Ajeng menempelkan jari kelingkingnya di kening Wira. “Janji!”
****************
Setibanya di penginapan, kakek dan nenek pemilik penginapan langsung menyambut Ajeng dan membantunya duduk di kursi lobi. Mereka terlihat sangat cemas dengan keadaan Ajeng.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya si nenek.
“Ngga papa, Nek. Ini hanya terkilir waktu main di air terjun tadi.”
“Kek, cepat obati! Jangan sampai mencelakai Den Ayu.”
Ajeng jadi takut mendengar perkataan si nenek. Bagaimana bisa kecelakaan sekecil itu mencelakai dirinya.
Si kakek meminta ijin untuk memegang telapak kaki Ajeng dan memeriksanya. Ia kemudian memijit dan mengurut jari-jari kaki Ajeng lalu memeriksa daerah di sekitar mata kaki. Sementara itu si nenek justru terus saja memandang Wira dengan tatapan aneh yang membuat Wira merasa tidak nyaman.
“Kenapa nenek ngelihatin saya kaya gitu?”
“Apa benar kamu suaminya?” tanya si nenek.
“Nek!” tegur si kakek.
Si nenek kemudian masuk dan meninggalkan mereka semua di lobi. Lalu tiba-tiba saja Wira merasa perutnya sebah dan tidak nyaman.
“Ini agak sakit, tolong tahan sebentar yah!” si kakek menekan salah satu titik di kaki Ajeng sambil menekuk telapak kaki Ajeng.
“Au!” Ajeng berteriak kesakitan tapi kemudian kakinya bisa kembali digerakkan dengan leluasa seperti semula.
__ADS_1
“Terima kasih ya, Kek?” ujar Wira yang merasa sangat lega.
Si kakek hanya mengangguk kecil sambil masuk ke dalam penginapan tanpa memandang Wira seperti selayaknya.
“Apa mereka pemiliknya?” tanya Wira heran.
“He’eh.. “ jawab Ajeng. “Kenapa?”
“Aneh aja.”
“Semalam aku juga sempat berfikir kaya gitu. Tapi ternyata mereka baik banget sama aku.”
“Oh ya? Syukur deh..”
“Ya udah masuk yuk!” ajak Ajeng.
Wira membantu memapah Ajeng naik ke lantai dua menuju kamarnya karena khawatir kakinya masih sakit. Tapi ternyata Ajeng sudah bisa berjalan dengan normal seperti sebelumnya meskipun sesekali masih mengaduh karena merasa sakit.
“Ini kamar kamu?” tanya Wira berkeliling memperhatikan seisi kamar dengan seksama. “Bagus.”
“Semalam mereka bilang sudah ngga ada kamar. tapi tiba-tiba aja mereka bilang ada dan ngasih aku kamar ini. Tadi sih pas lewat, aku sempat lihat kamar yang dibawah ternyata ukurannya lebih kecil dari ini.”
“Mereka pasti menganggap kamu tamu istimewa. Makanya ngasih kamu kamar yang istimewa juga.” Ujar Wira sambil tidur meringkuk di kasur.
“Mas Wira kenapa?”
“Perut aku sebah. Kamu mandi duluan aja.”
“Mau aku ambilin minum?”
“Ngga usah, bentar lagi juga sembuh.” Tolak Wira yang mulai berkeringat dingin.
Ketika selesai mandi, Wira sudah terlihat lebih baik meskipun wajahnya masih pucat.
“Mas Wira beneran ngga papa?”
Wira mengangguk.
“Kenapa sih tiba-tiba sakit perut?”
“Mungkin kecapean habis gendong beras dua karung.” Gurau Wira.
“Enak aja disamain ama beras.”
Ajeng memukul-mukul tubuh Wira lalu Wira menangkap kedua tangan Ajeng dan menghentikannya. Keduanya berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat sehingga membuat jantung keduanya berdebar kencang.
Ajeng memberanikan diri menatap wajah tampan Wira, bulu mata lentik, hidung mancung dan dagu lancip yang membuat hati Ajeng berdebar tak menentu. Begitu juga dengan Wira.
Mereka hampir saja melupakan soal kontrak mereka. Tapi tiba-tiba saja Ajeng membuyarkan momen romantis itu karena melihat ada luka kecil di sudut bibir Wira. “Bibir Mas Wira berdarah.”
Ajeng buru-buru membongkar ranselnya dan mencari salep luka dan plester yang selalu dibawanya saat bepergian jauh.
“Jeng yang bener aja dong.. Masa iya aku harus make plester segede itu. Yang ada aku ngga bakal bisa makan karena semua mulut aku ketutup sama plester.”
Ajeng tertawa terpingkal-pingkal membayangkan mulut Wira tertutup plester. “Ya sudah, aku kasih salep aja.”
__ADS_1
****************