8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pasangan Putus Asa


__ADS_3

”Dasar pasangan gila. Yang satu mogok makan dan minta dikirim ke daerah konflik. Yang satu lagi bersedia menerima tuduhan keji yang tidak pernah dilakukannya.” Gumam Bara setelah masuk ke dalam mobil.


Dimas melirik bosnya itu dari balik kaca spion. “Pasti sudah ketemu yah?”


“Sudah. Dia cowok paling gila dan ngga realistis yang paling gue kenal. Bayangin aja, dia jelas-jelas ngga ngelakuin pembunuhan itu. Tapi dia terima-terima aja, diem aja dituduh dan dipenjarain kaya gitu. Ngga cuma itu dia juga dipecat dengan tidak hormat dari jabatannya sebagai walikota. Apa lo pikir itu sepadan dengan apa yang bisa mereka dapat? Dia hanya butuh Ajeng tetap hidup dan bahagia. Gila ngga tuh?!”


“Jadi, dia pasti juga sudah tahu kalau itu sengaja dilakukan sama Pak Suryo.” Gumam Dimas menanggapi cerita bosnya yang menggebu-gebu itu.


“Nah, itu dia! Gobloknya lagi, dia sudah tahu siapa dalangnya tapi dia tetep memilih tutup mulut. Ngga masuk akal kan?”


“Dia pasti tahu kalau akan sangat berbahaya kalau dia sampai buka mulut dan menentang Pak Suryo. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga Non Ajeng. Pak Suryo tidak akan diam saja kalau sampai buka mulutnya pria itu berdampak pada pencalonannya.”


Bara terlihat berfikir sambil mengelus-elus dagunya dan menerawang ke luar jendela. “Jadi menurut kamu, dia ngelakuin itu buat nyelametin Ajeng dan keluarganya?”


“Seperti yang Mas Bara bilang tadi. Dia hanya butuh Non Ajeng hidup dan bahagia.”


Bara kembali melamun.


“Sepertinya itulah yang Non Ajeng ingin Mas Bara tahu dari seorang Wira.” Imbuh Dimas.


Bara menghela nafas dalam-dalam lalu menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil sambil memejamkan mata.


"Cinta apa yang sedang mereka bicarakan. Kalau memang dia cinta sama Ajeng kenapa dia ngga cemburu waktu gue bilang kalau gue calon suaminya Ajeng. Dia malah nyuruh gue bulan madu di bukit dan bangun rumah bertaman." gumam Bara sambil menerawang keluar jendela mobil.


"Cinta yang penuh rasa putus asa."


"Kenapa harus gue yang jadi orang jahat di sini? Bukannya ini seharusnya kisah gue sama Ajeng? Ckckckck.. Kadang penulis emang suka kelewatan."


"Mas Bara juga yang aneh. Ngapain juga mau terlibat sama hubungan yang rumit kaya mereka. Mending Mas Bara cari perempuan lain yang lebih simple dan menghargai Mas Bara."


Buk.

__ADS_1


"Aduh!" Dimas menggosok-gosok kepalanya yang baru saja menerima toyoran dari arah belakang.


"Ngga usah sok bijak kalau sampai sekarang aja lo juga masih jomblo!"


**********************


Sebelum kembali ke bandara, Bara memutuskan untuk singgah ke salah satu warung makan yang ada di dekat perbatasan kota.


“Mau pesen apa, Mas?” tanya Bu Edi, si pemilik warung, ramah.


“Adanya apa, Bu?”


“Nasi pecel sama nasi rawon mas.”


“Ya sudah rawon aja dua. Minumnya teh panas satu, kopi satu.”


“Baik, Mas.”


“Oh, Pak Wali? Ya kenallah.. tapi kabarnya beliau sedang dirawat di rumah orang tuanya karena sakit.“


“Mantan.” Ralat Bara.


“Meskipun beliau sudah dicopot dari jabatannya, tapi bagi kami Pak Wira tetaplah walikota terbaik yang pernah dimiliki Carang Sewu.”


“Kalau Bu Ajeng?” tanya Dimas lagi.


“Ya kenal banget, Mas...” sahut Bu Edi sambil meletakkan dua piring nasi rawon di hadapan Bara dan Dimas. “Bu Ajeng adalah Bu Wali paling ramah dan baik hati yang pernah kami kenal. Beliau hobi blusukan, masuk ke pasar-pasar untuk mendengar keluhan warga. Meskipun masih muda dan sangat cantik, tapi beliau tidak segan menggunakan daster dan sandal jepit untuk berbincang dengan pedagang di pasar.”


“Daster? Sandal jepit?” tanya Bara terbelalak.


“Bener, Mas. Bu Ajeng paling suka makan rujak buahnya Bu Minten di pasar Kalijaten. Pak Wira selalu mampir kesana dua minggu sekali buat belikan Bu Ajeng makanan favoritnya itu. Padahal tempatnya lumayan jauh, tapi Pak Wira ngga pernah absen membelikan semua kesukaan Bu Ajeng di seluruh pelosok kota ini. Mereka adalah pasangan paling manis yang pernah kami miliki.” Jelas Bu Edi panjang lebar.

__ADS_1


“Ajeng makan di pasar? Tanpa pengawalan?” tanya Bara lagi dengan tatapan ngeri. Bagaimana tidak, ia bahkan harus melewati dua kali pengecekan hanya demi bisa membawa masuk pizza yang ia belinya langsung dari sebuah gerai ternama dan terjamin keamanannya, ke dalam kamar Ajeng.


“Pengawalan apa? Bu Ajeng itu istri pejabat yang paling benci dikawal. Satu-satunya pengawal yang Bu Ajeng miliki ya Pak Wira itu. Kemana-mana mereka selalu berdua. Bikin iri saja.”


“Apa ibu tahu apa saja yang dilakuin Ajeng selama tinggal di sini?” tanya Dimas sambil menerima kopi pemberian Bu Edi.


“Banyak. Tapi yang paling saya ingat, beliau adalah orang yang berusaha keras mengeluarkan suami saya dari penjara padahal suami saya nyarie menjambretnya. Beliau juga menyelamatkan nyawa anak saya yang sedang sakit.” Mata Bu Edi tiba-tiba saja berkaca-kaca. “Pak Wira dan Bu Ajeng menyelamatkan hidup keluarga saya bahkan memberi kami modal untuk mendirikan warung ini.”


Dimas tersenyum sambil melirik Bara yang berpura-pura sibuk menyantap nasi rawonnya yang masih panas.


Lalu seorang remaja masuk ke warung. “Nasi pecel dua, Bu.”


“Bagus banget baju kamu, An? Cantik. Beli dimana?”


“Ini kan baju pemberian Bu Ajeng, Bu.” Jawab remaja itu


“Oh, jadi kamu juga dapat?”


“Dapat, Bu. Banyak banget baju yang Bu Ajeng sumbangkan ke panti. Hampir semua remaja putri di sini punya baju bagus seperti ini berkat Bu Ajeng.” Sahut remaja itu dengan wajah berbinar.


Tapi raut keceriaan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba saja wajahnya berubah muram dan matanya juga mulai berkaca-kaca. “Mudah-mudahan Bu Ajeng selamat dan segera sembuh ya, Bu? Aku pengen dia kembali, Bu.”


“Memangnya kenapa, An? Kamu mau apa kalau Bu Ajeng balik ke sini?” tanya Bu Edi sambil menyodorkan dua bungkus nasi pecel kepada Ani.


“Mau minta maaf dan bilang makasih, Bu. Aku pengen dia tahu kalau aku ngga pernah benci sama dia. Aku cuma malu karena sudah salah sangka sama dia.”


“Kamu anak baik, An. Bu Ajeng pasti tahu kalau kamu bakal bikin Bu Ajeng bangga sama kamu. Iya kan?”


Ani mengangguk, menyerahkan dua lembar uang kepada Bu Edi lalu pamit.


*********************************

__ADS_1


__ADS_2