8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
D-Day


__ADS_3

Hari pernikahan tiba.


Bara berjalan mondar-mandiri di depan kamar Ajeng. Waktu acaranya sudah hampir tiba, tapi Ajeng belum juga siap.


Seorang penata rias keluar dari dalam kamar Ajeng.


“Gimana?” tanya Bara cemas.


“Maaf, Mas. Tapi kami kesulitan memoleskan bedak dan eyeliner. Mempelai wanitanya tidak berhenti menangis. Kamu bahkan sudah melakukan banyak hal untuk menutup mata bengkaknya tapi sepertinya tidak banyak membantu.” Jelas si penata rias.


Bara masuk ke kamar Ajeng dan melihat pantulan wajah sembab Ajeng di depan cermin. “Itu sudah cukup. Bawa dia keluar!”


“Tapi Mas –“


“Ngga ada waktu lagi. Bawa dia apa adanya. Itu sudah cukup buat saya.” Titah Bara sebelum meninggalkan kamar Ajeng.


Acara dimulai dan Bara memainkan perannya dengan sangat baik. Prosesi pernikahan berjalan lancar dan Bara telah dinyatakan sah sebagai suami Ajeng. Ajeng diminta mencium tangan Bara dan Bara mengecup kening Ajeng lalu turun ke bibir Ajeng. Itu adalah ciuman basah Bara untuk pertama kali. Benar-benar basah karena Ajeng tidak berhenti mengalirkan air matanya. Dan tiba-tiba saja gadis itu pingsan tak sadarkan diri.


“Ajeng!!!!”


*******************


Ketika sadar, Ajeng sudah berada di kamar Bara dan pria itu dengan setia menemaninya duduk di kursi di samping ranjang Ajeng.


“Sudah bangun, Jeng?”


“Dimana ini?”


“Kamar kita.”


Ajeng langsung bangun dan membuka selimut hendak kabur. Tapi Bara buru-buru mendorong tubuhnya kembali ke posisinya semula. “Kamu baru sadar dan masih harus banyak beristirahat.”


“Ngga.” Tolak Ajeng sambil terus berusaha kabur.


Tapi Bara lagi-lagi mendorongnya kembali ke tempatnya. “Mulai hari ini kamu adalah istri aku. Dan kamu tidak punya pilihan selain menuruti perintahku.”


“Aku ngga mau!”


Bara kembali mendorongnya dan saking kuatnya usaha Bara, tubuhnya sampai oleng dan malah nyaris menindih tubuh Ajeng yang terjerembab jatuh ke ranjang. Ajeng langsung menyodok kepala Bara dengan kepalanya dan membuat Bara terhuyung kesakitan. Ajeng memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Tapi saat keluar dari kamar ia malah berpapasan dengan kedua orang tua Bara.


“Mau kemana, Jeng?” tanya Pak Taufik.


Dan mereka mendengar erangan Bara mengaduh kesakitan.

__ADS_1


“Bara kenapa?” tanya Bu Taufik cemas.


“Ngga papa. Kami cuma main-main.” Ajeng buru-buru kembali ke kamarnya dan menutup pintunya.


“Sial!” gumam Ajeng sambil mondar-mandir di kamarnya.


Dan tiba-tiba saja erangan Bara berhenti seketika. “Makan yuk! Laper..”


“Makan aja sendiri. Aku ngga laper.” Jawab Ajeng masih mondar-mandir di kamar Bara.


“Kalau kamu ngga makan, aku juga ngga akan makan.” Ujar Bara sambil naik ke atas tempat tidur dan mulai menyalakan televisi.


“Jeng!” panggil Bara.


Ajeng menoleh dan tiba-tiba saja Bara melemparkan ponselnya kepada Ajeng. Untung saja Ajeng menangkapnya dengan sigap. Kalau tidak ponsel itu pasti sudah jatuh dan hancur berkeping-keping. Ajeng melihat layarnya dan sebuah pesan singkat dari Alvin muncul disana.


(Wira sudah dibebaskan.)


Singkat tapi cukup untuk membuat Ajeng bernafas sangat lega. Ia kemudian duduk di kursi sambil menggenggam ponsel Bara dengan kedua tangannya. Ajeng kemudian mengembalikan ponsel itu kepada Bara.


“Makasih.”


“Sudah lapar?” tanya Bara lagi


Bara menghentak-hentakkan kakinya ke ranjang karena kesal. Dan Ajeng sama sekali tidak mempedulikannya. Ia malah membuka pintu balkon dan berdiri lama di sana menikmati teriknya matahari sore itu.


Ketika kembali ke dalam kamar, Bara sudah terlelap sementara televisinya masih menyala. Ajeng mematikan tivi lalu menyelimuti tubuh Bara. Setelah memastikan kodisi beres, ia masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dan pikirannya. Meskipun terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah diinginkannya, Ajeng tetap merasa senang karena Wira sudah dibebaskan.


Ketika kembali dari kamar mandi, hari sudah mulai gelap dan seseorang mengetuk pintu untuk menyuruh keduanya makan malam.


“Den Bara masih tidur. Mereka akan makan nanti kalau Den Bara sudah bangun.” kata si pelayan yang memanggil Ajeng di kamarnya tadi.


“Pa, apa ngga sebaiknya kita bangunkan saja Bara? Papa tahu kan kalau dia tidak bisa terlambat makan?” tanya Bu Taufik cemas.


“Sudahlah, Ma. Bara itu sudah dewasa dan sudah menikah. Mungkin dia masih ingin melakukan hal lain dan belum merasa lapar. Mama kaya ngga tahu aja gimana kelakuan pengantin baru seperti mereka.”


“Iya tapi kan gastritis Bara ngga bisa dianggep remeh, Pa?”


“Sudah ngga papa. Sebentar lagi juga mereka bangun.”


*****************


Setelah puas membaca beberapa buku milik Bara, Ajeng akhirnya melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Bara masih juga belum terbangun. Ajeng berniat membangunkan Bara agar dia mau pindah tidur di sofa, tapi saat menyentuh tangan Bara ia merasa kaget karena tangannya sangat panas. Ajeng mengecek kening Bara dan pria itu sedang demam tinggi.

__ADS_1


“Bara! Bangun! Bara!” Ajeng mengguncang-guncang tubuh Bara.


Bara hanya menggumam tidak jelas. Ajeng buru-buru turun untuk mengambil kompres air hangat.


“Non Ajeng cari apa?” tanya salah satu pelayan.


“Kompres hangat. Bara demam.” Jawab Ajeng panik.


Si pelayan segera memberikan apa yang Ajeng butuhkan lalu Ajeng bergegas kembali ke kamar sementara si pelayan melapor kepada Bu Taufik.


“Ada apa, Jeng?” tanya Bu Taufik yang datang bersama Pak Taufik ke kamar Bara.


“Bara demam, Tan. Tadi dia tidur tapi waktu Ajeng mau bangunin, badannya sudah demam.” Jawab Ajeng sambil terus mengompres Bara.


“Minggir!” perintah Bu Taufik yang ingin menggentikan posisi Ajeng merawat Bara. Tapi Bara menarik tangan Ajeng dan menahannya.


“Bara sudah punya istri, Ma. Dia yang seharusnya merawat Bara sekarang. Bukan Mama.” Gumam Bara sambil terus menggenggam tangan Ajeng.


“Bara! Kamu ini sudah sakit masih aja becanda.” Sahut Bu Taufik.


Tapi Bara tetap tidak mau melepaskan tangan Ajeng. “Bara maunya dirawat sama Ajeng, Ma.”


Bu Taufik menghembuskan nafas kasar.


“Sudahlah, Ma. Bara benar. Sudah ada Ajeng, jadi Mama ngga perlu repot-repot lagi.” Imbuh Pak Taufik.


“Tuh kan, papa aja ngerti.”


Bu Taufik mendengus kesal. “Ya sudah buruan minum obat kamu. Setengah jam lagi turun! Mama bakal siapin makan buat kamu.”


“Obat apa, Tan? Bukannya harus diperiksa sama dokter dulu baru bisa dikasi obat?” tanya Ajeng.


“Bara itu menderita gastritis akut. Dia ngga bisa makan telat dan ngga bisa stres. Akibatnya bisa fatal.”


Dan tiba-tiba saja Ajeng merasa bersalah. Ia tdiak tahu bahwa Bara memiliki riwayat sakit gastritis tapi malah menyuruhnya ikutan mogok makan padahal tidak perlu.


“Tunggu Tan! Biar Ajeng aja yang siapin makannya. Tante boleh tetap disini temani Bara.”


“Aku maunya ditemenin sama kamu, Jeng.” Tolak Bara manja.


Dan Ajeng buru-buru menjitak dahinya lalu melepaskan genggaman Bara dari tangannya. “Tunggu aja disini!”


******************************

__ADS_1


__ADS_2