
“Bu Ajeng!” Yuni datang tergopoh-gopoh ke rumah Ajeng. “Syukurlah Bu Ajeng sudah pulang.”
“Ada apa, Yun?” tanya Ajeng sambil menenangkan Yuni yang nafasnya masih terengah-engah.
“Gawat, Bu!”
“Ada apa? Yang jelas kalau ngomong.”
“Pak Rega!”
“Pak Rega kenapa?”
“Pak Rega menyuruh divisi penyiaran untuk merilis berita tentang Pak Wira.”
“Berita apa?”
“Pembunuhan.”
Ajeng tercekat. ‘Pembunuhan.’
“Sebaiknya Bu Ajeng kesana sebelum beritanya terlanjur dirilis ke publik.”
Yuni mengikuti Ajeng yang bergegas menuju kantor divisi penyiaran untuk mendapatkan klarifikasi dan kejelasan berita. Belum sempat ia masuk ke dalam ruangan, Dito sudah lebih dulu menyambar tangannya menjauhi ruang penyiaran.
__ADS_1
“Dito?!”
Dito memberikan kode kepada Yuni agar memberi kesempatan untuk ia dan Ajeng bicara empat mata.
“Ini sangat berbahaya. Kamu tidak boleh terlibat.”
“Kamu ngomong apa sih?”
“Wira terlibat dalam kasus pembunuhan lima tahun yang lalu. Pak Rega menemukan bukti dan saksi. Wira akan sangat sulit keluar dari permasalahan ini.”
Ajeng berusaha melepaskan diri dari cengkraman Dito dan kembali masuk ke ruang divisi penyiaran, tapi Dito makin mengeratkan cengkramannya. “Jeng, kamu harus ingat siapa kamu. Bukan hanya kamu yang akan hancur, tapi juga keluarga kamu dan bangsa ini akan ikutan kacau.”
Ajeng diam sejenak.
Ajeng masih bergeming. Pikirannya kalut. Apa yang Dito katakan ada benarnya, tapi jika ia diam saja dan tidak berbuat apa-apa, Wira dan keluarganya juga akan hancur.
Yuni keluar dari ruang divisi penyiaran dengan tergesa-gesa. “Bu Ajeng! Mereka sudah merilis beritanya. Sebentar lagi beritanya akan masuk ke dalam media nasional.”
Tubuh Ajeng lemas seketika. Kakinya seolah tidak sanggup lagi menopang berat tubunya sehingga ia nyaris jatuh kalau saja Dito tidak menahannya. Ajeng melepaskan tangan Dito lalu masuk ke ruang penyiaran untuk melihat sendiri apa yang sedang mereka berusaha ungkapkan kepada dunia.
“Bu Ajeng?” sapa Rega dengan wajah penuh memar dan bekas luka.
Ajeng meraih koran yang baru saja terbit dan tertumpuk di atas meja. Ia membaca judul utama Suara Rakyat hari itu, ‘Kasus Pembunuhan yang Lima Tahun Ditutupi Akhirnya Terkuak, Walikota Carang Sewu Terlibat.’
__ADS_1
“Pak Rega sudah keterlaluan! Atas dasar apa Pak Rega merilis berita seperti ini? Dan kalian semua! Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan demi melindungi warga kota kalian?!” teriak Ajeng penuh emosi.
Ia kemudian mengambil tumpukan surat kabar itu dan merobek juga menginjak-injaknya.
“Sebanyak apapun koran yang akan Bu Ajeng hancurkan tidak akan mampu lagi menutupi kejahatan Pak Wira. Ini adalah balasan atas penghinaan dan keberanian kalian meremehkan saya. Dan karena kalian membuat saya menjadi seperti ini.” Balas Rega sambil menunjukkan bekas luka di wajahnya.
Pria itu juga berjalan terseok-seoak keluar dari ruang penyiaran dan meninggalkan Ajeng yang masih emosi tingkat tinggi.
‘Apa yang sudah Ka Alvin lakuin sama tu orang?’ gumam Ajeng dalam hati.
*******************
Sore itu, Nia baru saja pulang dari kantornya dan melihat sebuah surat kabar terjulur di kotak surat. Tidak biasanya ada surat kabar yang diletakkan di tempat itu. Jadi, Nia turun dari mobilnya, memungut koran itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Sebelum turun, ia membaca judul utama koran hari itu dan terbelalak melihat isinya.
“Papa! Mama!” Nia bergegas masuk untuk menunjukkan surat kabar itu kepada kedua orang tuanya. Mereka harus tahu apa yang baru saja menimpa Wira.
“Ada apa sih, Nia?”
“Ma, lihat ini. Wira Ma –“ ujar Nia sambil menyodorkan harian Suara Rakyat.
“Wira kenapa?” Bu Prabu membaca isi surat kabar itu dan langsung menangis histeris, lalu pingsan. Ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena memiliki riwayat penyakit jantung dan depresi akut.
***********************************
__ADS_1