8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Main Api


__ADS_3

Semua perkataan kasar Wira tentang pernikahan kontrak mereka membuat hati Ajeng hancur berkeping-keping. Selama perjalanan menuju penginapan Sudi Mampir, Ajeng terus saja menangis sambil meremas dadanya yang terasa sangat sesak.


Ia tahu bahwa pernikahan mereka hanya kontrak, tapi ia tidak menyangka bahwa Wira akan setega itu menyerahkannya kepada si bajingan Rega. Harga dirinya sebagai wanita terluka sangat dalam. Bagaimanapun ia adalah wanita terhormat dari kalangan pejabat tertinggi negara. Tidak sepantasnya ia diperlakukan layaknya wanita murahan seperti itu.


Ojek yang membawa Ajeng akhirnya tiba di penginapan Sudi Mampir dan kebetulan kamar yang pernah ditempati Ajeng waktu itu juga masih kosong. Jadi Ajeng langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di dalamnya semalaman. Ia bahkan menolak makanan dan minuman yang dikirimkan oleh nenek pemilik penginapan.


Melihat mata sembab Ajeng saja sudah cukup membuat pasangan pemilik penginapan itu tahu bahwa ia sedang mengalami masalah berat. Dan rasa benci si nenek kepada Wira semakin menjadi-jadi.


“Kek, berani-beraninya pria itu menyakiti hati Den Ajeng.” Ujar si nenek.


“Jangan langsung menyimpulkan kalau kita tidak tahu keseluruhan ceritanya!” tukas si kakek.


“Siapa lagi yang bisa menyakiti hati Den Ajeng selain pria itu. Nenek yakin hanya dia yang dikenal dan dekat dengan Den Ajeng.”


“Dito juga kenal sama Den Ajeng.” Jawab si kakek lagi.


“Dito kan cuma pegawainya, Kek. Dan dia tidak mungkin berani macam-macam sama Den Ajeng.”


“Sudah. Biarkan saja dia menenangkan diri dulu. Mudah-mudahan besok sudah lebih baik.”


“Dia pasti sudah tinggal nama kalau sampai Bapak tahu ada pria yang berani kurang ajar dan membuat putri tunggalnya menangis seperti itu.” celoteh si nenek masih kesal.


“Sssst!!! Jangan keras-keras, Nek! Nanti ada yang denger.”


**************


Keesokan paginya si nenek kembali mengetuk pintu kamar Ajeng untuk mengantarkan makanan, tapi Ajeng masih enggan membukanya.


“Saya belum lapar, Nek. Nanti kalau sudah lapar saya turun.” Tolak Ajeng dari dalam kamar.


Pagi itu, sebelum memenuhi panggilan polisi, Wira menyempatkan diri untuk mengunjungi Ajeng di penginpaan. Tapi ia malah bertemu dengan Dito. Karena tidak punya pilihan lain, jadi Wira terpaksa menitipkan pakaian milik Ajeng yang dibawanya kepada Dito. Ia tahu bahwa Ajeng tidak sempat berkemas seperti biasanya, saking marahnya.

__ADS_1


“Tolong berikan ini kepada Ajeng!” ujar Wira menyerahkan nasi goreng buatannya kepada Dito.


“Pak Wira ngga mau nunggu sampai Bu Ajeng keluar dari kamarnya?”


“Saya masih harus ke kantor polisi dan ke rumah sakit. Nanti kalau sudah beres, saya akan kembali ke sini lagi.”


“Kantor polisi?”


“Ada kasus keracunan masal di Kalijaten dan polisi menduga kalau saya menjadi penyebab keracunan itu.”


“Iya. Saya tahu soal itu. Semalam, Suara Warga, merilis berita tentang keracunan masal itu. Tapi saya tidak menyangka kalau polisi berasumsi sama dengan koran sampah itu.”


Wira tersenyum. “Begitulah faktanya. Isu itu diracik dengan sangat lezat dan sekarahg sudah sampai pada ranah hukum.”


“Siapa yang menuntut sampai Pak Wira dipanggil pihak kepolisian?”


“Tidak penting karena mereka hanyalah korban. Saya nitip Ajeng sama kamu. Tolong kabari saya kalau dia sudah mau keluar!”


***************


Dito naik ke lantai dua dan langsung menggedor-gedor kamar Ajeng dengan keras. Kakek dan neneknya yang mendengar dari bawah langsung ikutan naik untuk menghalau Dito. Mereka memarahi Dito karena berani mengganggu tamu agung mereka.


“Kek, Nek, dia ngga boleh enak-enakan di sini sementara keadaan di luar jadi semakin kacau.” Terang Dito.


“Kacau apanya?” tanya si nenek bingung.


Dito kembali menggedor pintu kamar Ajeng. “Bu Ajeng keluar! Tidak perlu membuang-buang waktu untuk menunggu sampai Pak Wira datang karena dia sedang berada di kantor polisi sekarang.”


Pintu kamar Ajeng langsung terbuka. “Kantor polisi? Apa maksut kamu?”


Dito meminta kakek dan neneknya turun untuk memberi mereka kesempatan berbicara.

__ADS_1


“Pak Wira dituduh sengaja meracuni pedagang Kalijaten.”


“Apa?”


“Kemarin ada kasus keracunan massa setelah kalian datang ke Kalijaten dan membagikan makanan kepada mereka.” Imbuh Dito.


“Omong kosong! Kami tidak membagikan makanan apapun. Ini jelas-jelas fitnah. Ngga bisa. Aku harus ke kantor polisi sekarang.”


Dito menahan Ajeng. “Untuk apa?”


“Aku adalah saksi. Aku ada di sana sama Mas Wira dan tahu persis apa yang terjadi.”


“Apa kamu pikir ini murni kesalahpahaman belaka?”


“Maksut kamu?”


Dito masuk ke dalam kamar Ajeng dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Ia kemudian duduk di kursi kayu yang ada di dekat jendela kaca. “Coba kamu pikir baik-baik. Bukankah ini kejadian ini terlalu sempurna untuk disebut kebetulan? Kebetulan kalian kesana, kebetulan kalian membagikan bingkisan dan kebetulan terjadi keracunan.”


“Maksut kamu ada orang yang sengaja mendalangi kejadian ini dan untuk menyudutkan kami?”


“Bu Ajeng. Tidak bisakah Bu Ajeng kembali ke tempat Bu Ajeng berasal dan jauh dari Pak Wira. Terlalu banyak orang yang ingin menjatuhkan Pak Wira. Akan sangat berbahaya bagi Bu Ajeng jika terus berada di dekat Pak Wira.”


“Keluar kamu! Berapa kali harus saya bilang sama kamu? Kalau kamu ngga berhak mengatur hidup saya dan Wira seolah kamu mengenal saya.” Bentak Ajeng.


“Saya tahu siapa Bu Ajeng.”


“Keluar!” perintah Ajeng lagi.


“Pak Presiden pasti sedang cemas menunggu anda bermain-main dengan bahaya di sini.”


Mata Ajeng terbelalak mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Dito.

__ADS_1


*******************************


__ADS_2