8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Serangan Balik


__ADS_3

Di kursi belakang mobil, Ajeng bersengut-sengut sambil memunggungi Wira yang ternyata tetap memilih untuk membawa Alda pulang bersamanya. Abdi sesekali mengamati sikap kedua pasangan itu tapi Wira terlihat sangat santai menghadapi Ajeng yang sedang merajuk.


Mobil mereka tiba-tiba berhenti di jalan bawah viaduk Jambon. Ada sebuah mobil van hitam dan sedan putih sudah menunggu mereka di sana. Wira mengajak Ajeng turun, memeluknya sebentar lalu membawanya berpindah ke dalam sedan putih. Meskipun bingung dan tidak mengerti, Ajeng berusaha untuk tetap percaya kepada Wira.


“Hati-hati di jalan dan tunggu aku di rumah!” ujar Wira ketika menutup pintu mobil.


"Loh, Mas Wira mau kemana? Kita ngga pulang sama-sama?"


Dari arah samping, Alda masuk lalu duduk di kursi kemudi. “Mbak Ajeng sudah siap?”


“Ini ada apa sih sebenarnya?”


“Mbak Ajeng tenang aja. Saya akan mengantar Mbak Ajeng selamat sampai tujuan.” Cerocos Alda sambil mengemudikan mobilnya dengan penuh kewaspadaan.


“Bisa kamu jelaskan? Saya ngga suka dibuat bingung seperti ini.”


Alda mengabaikan pertanyaan Ajeng karena pandangannya sedang fokus pada mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya. Alda menambah kecepatannya untuk menghindari mobil itu. Tapi pada akhirnya, mobil itu berhasil menyalip dan memotongnya di tengah jalan sepi.


“Mbak Ajeng tenang aja. Kunci pintunya setelah aku keluar!” ujar Alda sebelum keluar dan menutup pintu mobil dengan keras. Ia kemudian menghadapi tiga orang pria yang turun dari mobil itu seorang diri.


Ajeng panik dan berusaha menelpon Wira untuk meminta pertolongan, tapi sia-sia. Ponsel Wira tidak aktif. Alda berhasil mengalahkan salah satu dari mereka, lalu Ajeng melihat seorang pria lain bangkit dari belakang saat Alda bertarung melawan satu pria lainnya.


Ajeng turun dari mobil, mengambil batu yang tergeletak di pinggir jalan untuk dilemparkan kepada pria yang hendak menyerang Alda dari belakang itu. tapi tiba-tiba saja ia teringat perkataan Abdi bahwa Wira memukul preman itu sampai mati dan batu itu lepas begitu saja dari tangan Ajeng.


Pria yang hendak menyerang Alda menyadari keberadaan Ajeng dan malah balas menyerangnya. Ajeng yang segera sadar dari lamunannya berusaha melawan pria itu dengan segenap kemampuannya. Meskipun telah melakukan banyak hantaman dan tendangan, tapi pria yang dihadapinya itu ternyata tidak mudah untuk ditumbangkan. Alih-alih menang, Ajeng justru jatuh dibanting ke tanah oleh pria itu.


Punggungnya terasa sakit luar biasa, tapi Ajeng tak mau menyerah dan membiarkan Alda berjuang seorang diri. Dengan sisa kemampuan yang dimilikinya, Ajeng melompat ke kap mobil, lalu menguncikan kedua kakinya ke leher pria itu, memukul kepalanya dengan kedua siku dengan sangat keras. Ia jatuh ke tanah bersama tubuh pria yang sudah mulai tumbang tak berdaya itu.


Tapi kemudian, seorang pria lagi kembali bangkit dan mencekik leher Ajeng dari belakang dengan lengannya. Alda yang melihat itu langsung menendang tengkuk pria itu dari belakang. Pria itu berbalik dan menjotos wajah Alda juga memukul punggungnya dengan sangat keras. Ajeng yang sudah terbebas, kembali menyiram wajah pria itu dengan pasir. Ketika kehilangan konsentrasi, Alda dan Ajeng menendangnya dengan sangat keras dan memukulnya berkali-kali hingga pingsan.


“Mereka ngga mati kan?” tanya Ajeng panik.


Alda langsung menarik Ajeng ke kursi penumpang. Tapi Ajeng justru mendorong Alda masuk dan ia malah menggantikan Alda di kursi kemudi.

__ADS_1


“Mbak Ajeng yakin?”


Ajeng bergeming, menyalakan mesin lalu menginjak pedal gas dengan penuh percaya diri. Alda terkesima melihat kemampuan mengemudi Ajeng. Ia jelas sangat terlatih dan profesional, bukan pengemudi jalanan yang belajar autodidak sepertinya. Dan ia merasa sedikit lega karena Wira berada pada tangan yang tepat.


“Jangan lewat situ!” larang Alda ketika melihat Ajeng menyalakan lampu ritingnya. “Kita lewat jalan perbatasan aja. Mas Wira sudah menyiapkan orang untuk menjemput kita di sana.”


Ajeng mematikan lampu ritingnya dan memilih jalan lurus seperti yang Alda perintahkan kepadanya. Dan benar saja, ketiak tiba di perbatasan, segerombolan pria berseragam menyambut dan mengamankan mereka sampai tiba di rumah dengan selamat.


“Siapa mereka? Sepertinya mereka bukan orang pemkot dan kalian saling kenal?” tanya Ajeng ketika mereka tiba di rumah dinas Wira.


“Orang-orangnya Mas Wira.” Jawab Alda singkat sambil duduk di kursi tamu.


“Maksut kamu?” tanya Ajeng sambil membawa kompres es dan kotak obat.


“Mereka adalah orang suruhan Mas Wira yang ditugaskan untuk mengamankan daerah perbatasan.”


“Sejak kapan? Dan untuk apa?”


“Jadi ini bukan sistem yang sudah ada sejak lama? Tapi sistem yang baru aja Mas Wira buat?”


Alda mengangguk. “Auuu!”


Punggungnya yang terkena pukulan masih terasa sakit.


“Kamu ngga papa?”


“Ngga papa. Mas Wira pasti punya alasan. Dia tidak akan melibatkan mereka kalau tidak mendesak.”


‘Jadi, Mas Wira sengaja melakukan itu untuk melindungi aku?’ batin Ajeng.


“Tapi siapa orang-orang itu? Mereka tidak terlihat seperti satpam biasa.”


“Tentu bukan. Mereka adalah orang-orang yang sudah sangat terlatih dan profesional.”

__ADS_1


“Mafia?” tebak Ajeng.


“Bukankah itu terlalu kasar?” gumam Alda. “Tapi seperti itulah mereka. Dulu Mas Wira mempunyai perusahaan yang sangat berkembang.”


“Perusahaan?”


“Bergerak di bidang pendanaan, investasi dan saham. Dia salah satu dari pengusaha muda paling berbakat waktu itu. Dalam waktu kurang dari dua tahun saja, perusahaannya sudah berhasil mengungguli The Borton Fund, yang menjadi perusahaan terbaik di Indonesia saat itu.”


“Jadi maksut kamu, Mas Wira sangat berpengalaman dalam hal investasi?”


“Tentu.” Alda meminum minuman yang baru saja Bi Sumi suguhkan kepadanya. “Mr. Suzuki adalah salah satu rekanan lamanya. Ia yang mengajak Mr. Suzuki untuk berinvestasi di Carang Sewu melalui pemprov. Tapi pemerintah provinsi malah mengajukan proposal yang memberatkan Mr. Suzuki, sehingga kesepakatan mereka nyaris dibatalkan waktu itu.”


“Darimana kamu tahu?”


“Mas Abdi yang bilang. Dia tahu semuanya tentang Mas Wira. Dan karena kami kembar, kami nyaris tidak bisa menyembunyikan apapun satu sama lain.”


“Apa Abdi juga cerita bagaimana kami bertemu?”


“Apa?! Apa kalian bertemu di Siliwangi juga?” Alda balik bertanya.


‘Syukurlah. Sepertinya Abdi tidak cerita apa-apa soal itu.’ batin Ajeng lagi.


“Jadi bagaimana kalian bertemu? Apa Abdi juga tahu soal ini?” giliran Alda yang penasaran bukan kepalang.


“Tentu saja Abdi ngga tahu. Makanya tadi aku nanya, karena pasti aneh kalau Abdi tahu soal cerita pertemuan aku sama Mas Wira juga.” Ajeng berusaha menghindar.


‘Jadi, kalau Mas Wira mengenal Mr. Suzuki sebaik itu, untuk apa dia meminta bantuanku? Apa benar ia tidak bisa menangani Mr. Suzuki tanpa bantuanku seperti yang Abdi katakan? Atau benar seperti yang Abdi katakan semalam? Bahwa itu hanya alasan Wira saja supaya bisa menikahiku?’ gumam Ajeng dalam hati. Ada banyak tanda tanya di benaknya dan ia butuh jawaban atas setiap pertanyaan itu.


“Jadi, apa yang Mas Wira lakukan sekarang? Kenapa dia menyuruh kita pulang lebih dulu?”


“Memberangus mafia prostitusi dan pedagangan orang.”


**************************************

__ADS_1


__ADS_2