
Ajeng memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah bernomor tiga puluh. Melihat kondisi rumah yang sudah sepi dan lampu dimatikan, Ajeng yakin para penghuninya sudah terlelap. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
“Mas, kamu yakin kita mau nginep di sini?” tanya Ajeng ragu.
“He’em..”
Tak lama kemudian seorang pria keluar dari dalam rumah itu.
“Abdi?! Jadi kita mau nginep di rumahnya Abdi?”
“Ini adalah tempat yang paling aman dan bisa kita datangi pada jam segini. Siapa suruh pake acara kabur-kaburan segala. Udah tahu malem juga..” tutur Wira sambil keluar dari mobil dan menyapa Abdi.
Ajeng terpaksa mengikuti keduanya masuk ke dalam rumah.
“Mas WIra!!!!” seorang gadis berambut pendek yang sangat mirip dengan Abdi tiba-tiba saja menghampiri dan memeluk Wira dengan sangat erat. “Kangen banget sama Mas Wira.”
Wira menjitak dahi gadis itu. “Dasar preman kecil!”
“Au! Sakit tahu!” rutuknya sambil kembali memeluk Wira dengan akrab. “Kenapa Mas Wira ngga pernah datang ke sini lagi? Padahal kan udah janji bakal sering-sering nemuin aku.”
“Iya maaf. Mas Wira sibuk banget akhir-akhir ini.”
Gadis itu merenggangkan pelukannya lalu menatap Ajeng. “Ini?”
“Ini Bu Ajeng, istrinya Pak Wira.” Sahut Abdi
“Oh...” hanya itu kalimat yang keluar dari mulut gadis itu.
Ia lalu membawa Wira masuk ke dalam sebuah kamar dengan riang gembira tanpa memperdulikan keberadaan Ajeng.
__ADS_1
“Maaf, Bu. Itu Alda, adik kembar saya.” Ujar Abdi ketika melihat wajah Ajeng yang tiba-tiba saja merengut kesal dengan tingkah adiknya.
“Oh, jadi kalian kembar? Pantes aja mirip banget.”
“Iya.. seperti itulah, kami kembar tidak identik. Maaf kalau dia membuat Bu Ajeng merasa tidak nyaman. Karena dia memang selalu seperti itu kalau bertemu Pak Wira. Dia bahkan selalu menolak untuk segera dijodohkan dengan alasan tidak ingin menikahi pria lain selain Pak Wira.”
Ajeng terlihat kaget, jadi Abdi buru-buru meralatnya. “Tapi dia hanya bercanda. Kami sudah seperti keluarga. Pak Wira menganggap Alda seperti adik kandungnya sendiri.”
Abdi menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Ajeng. "Silakan dicicipi, Bu. Tadi Pak Wira minta saya siapin makanan buat Bu Ajeng. Katanya ibu belum makan apa-apa seharian."
Ajeng melihat sekeliling dan pandangannya terpaku pada sebuah foto keluarga milik Abdi. “Itu ibu saya, kebetulan beliau sedang menginap di rumah paman saya bersama adik bungsu saya. Kalau yang itu ayah saya, tapi beliau sudah lama meninggal.”
Ajeng mendekatkan piring nasi goreng ke arahnya dan mulai menyantapnya perlahan. Wira benar, ia benar-benar kelaparan hingga nyaris pingsan. Dan nasi goreng buatan Abdi telah menyelamatkannya malam itu.
“Meninggal? Karena apa?”
“Dibunuh oleh para lintah darat.”
“Beliau berhutang banyak kepada para rentenir demi mengobati adik bungsu saya yang menderita kelainan jantung. Saat itu saya masih SMP. Suatu hari mereka mendatangi ayah dan memaksa ayah untuk menjual rumah kami ini untuk melunasi hutang. Ayah menolak dan mereka menghajarnya habis-habisan. Karena ketakutan, saya meninggalkan ayah untuk meminta pertolongan dan saya bertemu dengan Mas Wira. Dia bersedia membantu saya meskipun kami tidak saling kenal. Tapi saat kami kembali ke tempat ayah saya bertemu preman itu, ayah saya sudah tergeletak tidak bernyawa. Mas Wira marah dan menghajar mereka. Lalu salah seorang dari mereka hendak menikam saya dengan belati. Untung saja Mas Wira menyelamatkan saya tepat waktu dengan memukul kepala preman itu menggunakan batu. Sayangnya preman itu tidak bangun lagi. Dan Mas Wira membawa saya pergi jauh dari sana. Beberapa hari kemudian, beredar kabar bahwa pria itu meninggal dunia dan Mas Wira dituntut atas dugaan pembunuhan. Berkat kekuasaan ayahnya, ia berhasil menghindari kurungan penjara. Tapi ia malah terbelenggu dalam pernikahan yang tidak pernah dia inginkan. Dan semua itu karena saya dan keluarga saya.”
Ajeng tiba-tiba saja melihat pria itu mulai menitikkan air mata tapi buru-buru menghapusnya karena tidak ingin dilihat siapapun. “Itulah kenapa saya selalu mengabdikan diri saya kepada Pak Wira. Saya tidak pernah berniat mencelakai beliau sedikitpun.”
“Saya minta maaf, soal itu. Saya hanya tidak mudah mempercayai orang lain. Terlebih lagi orang yang baru saya kenal.”
“Ngga papa. Saya sama sekali tidak menyalahkan Bu Ajeng. Saya yang salah karena terlalu banyak bersikap mencurigakan. Tapi Bu, meskipun begitu, saya yakin Pak Wira tidak pernah punya niat jahat kepada Bu Ajeng. Setelah memikirkan semuanya, saya mengerti kenapa Pak Wira memilih kontrak itu. Karena dengan menjadikan Bu Ajeng sebagai istrinya, Pak Wira jadi punya lebih banyak kewenangan untuk melindungi Bu Ajeng dengan caranya. Hanya dengan melihat sikapnya saja, saya tahu bahwa Pak Wira sangat peduli kepada Bu Ajeng.”
“Itu karena dia membutuhkan saya.”
“Kalau dia hanya butuh wanita untuk dipamerkan kepada Bu Monica dan keluarganya, ia bisa menikahi gadis manapun yang sudah lama mengantri untuknya. Tapi toh dia memilih Bu Ajeng yang baru sekali ditemuinya.”
__ADS_1
“Itu karena Mr. Suzuki.”
“Kalau hanya karena Mr. Suzuki, Pak Wira pasti akan melakukan negosiasi ulang dengan segala cara dan kemampuan yang dimilikinya kalau proyek itu sampai gagal. Pak Wira adalah seorang pengusaha yang sangat cerdas dan berbakat sebelum menjadi Walikota.”
“Kalau dia peduli sama saya, lalu kenapa dia menjebak saya dalam seminar itu?”
“Bu, apa Bu Ajeng tahu bahwa sehari sebelum seminar itu dilaksanakan, Pak Wira mendatangi semua kantor berita dan memohon agar mereka tidak melakukan peliputan untuk acara itu. Pak Wira bukan tipe orang yang mau memohon kepada siapapun. Bahkan saat itu diancam hukuman penjara, ia sama sekali menolak untuk memohon bantuan kepada ayahnya. Tapi hari itu Pak Wira merendahkan harga diri yang dijunjungnya tinggi selama ini demi Bu Ajeng.”
Ajeng kembali terdiam.
“Hari inipun ia rela meninggalkan agenda pentingnya di Carang Sewu demi menyelamatkan Bu Ajeng dari Pak Rega. Dia nyaris melakukan segala hal yang tidak pernah dilakukannya untuk orang lain hanya demi Bu Ajeng.” Imbuh Abdi.
Lalu Alda tiba-tiba saja keluar dari dalam kamar. “Abdi, kamu tidur dimana?”
“Bu, Ajeng, karena kami tidak memiliki banyak kamar, apa tidak masalah kalau Bu Ajeng tidur di kamar saya bersama Pak Wira?”
“Apa? Ah, ngga! Nggak! Ngga bisa. Kamu tidur sama Mas Wira, dia tidur sama aku.” Tolak Alda.
“Biar saya tidur di sini aja.” Tolak Ajeng. Ia tidak terbiasa berbagi kamar dengan orang asing, apalagi dengan gadis yang menjadi saingan terberatnya.
“Mana boleh seperti itu. Pak Wira ngga bakal ijinin.” Tolak Abdi.
“Ya udah, kalau gitu, kamu boleh pake kamar saya, biar Abdi yang tidur di sofa.” Usul Alda.
“Kamu?” tanya Abdi dan Ajeng bersamaan.
“Aku mau tidur di kamar Abdi sama Mas Wira.” Tukasnya cepat.
Abdi langsung menyentil dahi adik kembarnya itu dengan sangat keras. Dan Ajeng tertawa melihat kelakuan kakak beradik itu. Andai saja ia memiliki hubungan sedekat itu dengan kedua kakaknya, mungkin hidupnya akan seceria dan semenyenangkan Alda.
__ADS_1
“Ya sudah, Abdi, kamu tidur sama Mas Wira aja. Biar aku tidur sama Alda. Tapi aku mau cek kondisi Mas Wira bentar yah?” putus Ajeng pada akhirnya.
**************************