8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pilihan Ajeng


__ADS_3

Saat kembali ke kamarnya, Ajeng melihat sebuah obat tergeletak di meja kamarnya.


“Sudah tidur, Jeng?” tanya Alvin yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.


Ajeng buru-buru menyimpan obatnya ke dalam saku celananya. “Ka Alvin? Ada apa?”


“Obatnya udah diminum?”


“Sudah. Ngomong-ngomong itu obat apa? Aku kan ngga sakit apa-apa?”


“Hanya vitamin supaya kamu bisa beristirahat dengan nyaman. Ini pasti hari yang berat buat kamu.”


“Heeem..”


“Apa kamu tahu siapa pria itu?” tanya Alvin sambil berdiri di depan jendela kaca kamar Ajeng.


“Pria? Maksud Ka Alvin, Mas Wira?”


Alvin mengangguk.


“Dia hanya walikota biasa, naif dan bodoh. Meskipun begitu, tapi dia adalah orang yang tulus mengabdikan diri kepada warganya.”


“Bagaimana dengan kamu? Apa dia juga menganggap kamu lebih penting dari mereka?”


“Kok Ka Alvin nanyanya gitu sih?”


“Kamu seharusnya bilang dari awal kalau kamu bukan cewek sembarangan. Kamu wanita terhormat yang layak disembahnya. Tapi dia malah ngebiarin kamu ngerjain pekerjaan pegawai rendahan dan pergi berdua sama cowok lain.”


“Ka, Ka Alvin tenang dulu. Mas Wira ngelakuin itu karena terpaksa.”


“Jadi kamu juga sudah tahu kan kalau dia itu ngga lebih dari seorang pengecut?!” cerocos Alvin geram. “Apapun alasannya, Kakak ngga mau kamu ngerendahin harga diri kamu hanya untuk cowok kaya dia.”


“Ka –“


“Jeng, kakak tahu kita tidak punya hubungan yang bisa untuk kamu sebut dekat sebagai keluarga. Kakak juga bukan kakak kandung kamu. Tapi kakak ngga rela kalau keluarga kita diinjak-injak dan direndahin orang rendahan kaya dia.”


“Ka –“


“Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat.”


**************


Ajeng tidak pernah menyangka kalau Alvin yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga terdekatnya ternyata juga menentang hubungannya kontraknya dengan Wira. Melihat apa yang Alvin katakan kepadanya tadi dan obat penenang yang Alvin siapkan untuknya, Ajeng yakin bahwa kakak keduanya itu memiliki maksut dan tujuan lain.


Ajeng berpura-pura tidur. Tapi saat suasana sudah mulai senyap, Ajeng mengganti baju tidurnya dengan kemeja putih yang tergantung di lemari pakaian lalu menyelinap diam-diam ke kamar Wira. Ia membangunkan Wira dan memaksanya ikut keluar diam-diam dari rumah besar, tempat Alvin singgah itu.


Setelah berhasil lolos dari pengamatan para petugas yang berjaga, Ajeng mengajak Wira masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


“Au!...” rintih Wira saat berusaha menginjak pedal gas.


“Mas Wira kenapa?” bisik Ajeng.


“Ngga papa.”


“Pindah!” titah Ajeng yang langsung keluar lagi dari mobil dan pindah ke kursi kemudi menggantikan Wira.


“Kamu –?“


“Udah buruan!”


Ajeng menyalakan mobilnya lalu memacunya dengan kencang sebelum ada orang yang berhasil menghentikan ataupun menangkapnya.


**************


Setelah Ajeng keluar dari kamar Wira, seorang penjaga menyampaikan informasi itu kepada Alvin.


“Mereka berusaha kabur, Pak.”


Alvin hanya tersenyum dari balik tirai sambil mengamati tingkah kedua orang itu saat mencoba menyalakan mobilnya dan melarikan diri.


“Apa perlu kami kejar, Pal?”


Alvin mengangkat tangannya tanda menolak.


“Jadi kamu lebih memilih dia daripada kami?” gumam Alvin sambil tersenyum di depan jendela kaca.


*************


Wira masih tidak percaya bahwa Ajeng bisa mengendarai mobil melebihi kepiawaian seorang pembalap profesional. Ia bahkan rela mengakui bahwa gadis itu mengemudikan mobil dengan jauh lebih baik darinya dan para sopirnya yang lain.


“Kenapa?” tanya Ajeng ketika melihat mata Wira terbelalak dan terus saja tertuju padanya.


“Aku ngga nyangka kalau kamu ngga hanya pandai bicara bahasa asing dan olahraga. Tapi kamu juga sangat ahli dalam berkendara.” Puji Wira tulus. “Ngomong-ngomong kita mau kemana?”


“Pulang.”


“Tapi kenapa pake acara menyelinap dan kabur kaya gini segala? Bukannya Alvin itu kakak kamu dan sudah banyak membantu kita?”


“Dia pasti berencana ngebawa aku pulang diam-diam sebelum pagi. Dia sudah mempersiapkan semuanya.”


“Maksut kamu?”


“Dia memberi aku pilihan dan aku sudah menentukan pilihan.” Ajeng yakin dugaannya benar. Alvin pasti membiarkannya memilih antara tinggal atau pergi karena kakaknya itu sengaja meninggalkan kunci mobil Wira menggantung di tempatnya.


“Perjalanan kita masih panjang dan kamu pasti lelah karena belum beristirahat seharian. Aku akan menelpon Abdi agar mencarikan sopir untuk kita.”

__ADS_1


Ciit.... Ajeng tiba-tiba saja menginjak remnya karena melihat kucing yang tiba-tiba melintas.


Karena terkejut, ponsel Wira jatuh ke lantai mobil. Ajeng terpaksa membantu Wira mencarinya. Ketika membungkuk, Wira baru menyadari bahwa ada noda darah di punggung Ajeng.


“Jeng! Kamu berdarah?”


Ajeng kembali mendongak. “Darah apa?”


“Punggung kamu.”


Pantas saja Ajeng merasa nyeri di punggungnya. Tapi karena tidak bisa meraba dan melihatnya dengan jelas, Ajeng terpaksa membiarkan dan menahannya. Sementara itu, Wira mulai mencari-cari kotak p3knya di laci. “Minggirin mobilnya!”


Ajeng menepikan mobilnya sesuai permintaan Wira. “Mas Wira mau ngapain sih. Kita mesti buru-buru pergi jauh dari sini.”


“Alvin pasti sudah muncul kalau memang berniat mengejar kita.” Tukas Wira sambil sibuk mencari obat luka dan plester di dalam kotak p3knya. “Buka kemeja kamu!”


“Apa?!”


“Gimana mau diobatin kalau ngga dibuka, Jeng?”


Ajeng terpaksa membuka kancing bajunya dan membiarkan Wira melihat punggungnya yang telanjang. Pria itu membersihkan luka Ajeng dan mengolesinya dengan obat luka lalu menutupnya dengan plester.


“Lukanya cukup lebar dan ada banyak memar juga di sini.” Ujar Wira berusaha menyembunyikan jantungnya yang berdebar kencang melihat punggung mulus Ajeng terhalang tali bra. “Apa ada luka di tempat lain?”


Ajeng kembali menutup kemejanya sambil menggeleng. “Aku ngga tahu. Mungkin cuma memar-memar sedikit aja.”


“Lain kali, jangan membayakan diri sendiri seperti tadi. Kalau ada orang-orang jahat seperti mereka, lari! Jangan malah ngelawan!”


“Terus ngebiarin Mas Wira dihajar habis-habisan sama mereka?”


“Jeng, mereka urusan aku. Jadi kamu ngga usah khawatir. Tugas kamu hanya menjadi istri walikota yang bekerja untuk warga dari jam delapan sampai empat sore, bukan berkelahi melawan bajingan-bajingan tengik seperti mereka. Ngerti?!”


Ajeng bergeming dan kembali menyalakan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.


“Kalau terjadi sesuatu sama Mas Wira, apa Mas Wira pikir aku bisa tenang?” gumam Ajeng lirih.


“Aku bisa ngehadepin mereka dan semua resikonya, Jeng. Tapi kalau sampai kamu kenapa-napa, aku ngga bakalan bisa nanggung rasa bersalah aku. Bagaimanapun juga, saat ini kamu adalah istri aku dan keselamatan kamu adalah tanggung jawab aku.” Jelas Wira panjang lebar.


“Kalau aku ngga nambahin klausul itu dalam surat kontrak kita, apa Mas Wira bakal tetep ngelakuin hal yang sama?”


“Tentu. Aku ngga bakalan ngebiarin orang-orang di sekeliling aku terluka gara-gara aku. Apalagi orang itu adalah kamu.”


Dan tiba-tiba saja jawaban Wira itu membuat Ajeng teringat kembali akan pertanyaan klise kakaknya.


(Bagaimana dengan kamu? Apa dia juga menganggap kamu lebih penting dari mereka?)


“Di depan sana ada persimpangan. Ambil belokan ke arah kiri! Malam ini kita menginap dan istirahat di sana dulu. Besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan.”

__ADS_1


**************************************


__ADS_2