
Pekan Pasar Wisata berakhir dalam tujuh hari sesuai yang direncanakan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa angka partisipasi dan nilai perdagangan yang dihasilnya mencapai sembilan puluh persen dari angka yang ditargetkan dan dinyatakan sebagai sebuah kesuksesan besar dalam sejarah pemerintahan Wira.
Untuk merilis laporan tersebut, pemerintah kota mengadakan jumpa pers di aula serba guna yang ada di lantai satu. Pagi itu, puluhan wartawan datang untuk melakukan liputan dan mendengarkan cerita di balik suksesnya acara pasar wisata yang rencananya akan dijadikan sebagai agenda rutin tahunan itu.
Rega didampingi kepala dinas koperasi dan UMKM, kepala Dinas Perdagangan dan Pariwisata, juga kepala dinas Pemberdayaan Masyarakat Kota telah siap menempati posisinya masing-masing. Lalu sesuai waktu yang dijadwalkan, Wira datang dan ikut bergabung bersama stafnya untuk memberikan sedikit sambutan.
Tapi kenyataannya, Wira hanya diberikan waktu untuk mengucapkan salam pembuka, ucapan terima kasih dan salam penutup. Sisanya, diambil alih oleh Rega. Begitu juga dengan sesi tanya jawab. Rega menjawab semua pertanyaan seorang diri seolah ia tahu akan segalanya tentang acara itu.
Yang Ajeng tidak mengerti bukannya menghentikan Rega, Wira justru pergi meninggalkan tempat duduknya dengan sopan tanpa aksi perlawanan sedikitpun. Seolah belum cukup membuat Ajeng geram menyaksikan adegan plot twist hari itu, para wartawan juga tak kalah lancangnya menanyakan alasan dibalik kesuksesan Rega dalam menyukseskan acara itu seolah mengklaim dan meyakini bahwa memang Regalah dalang dibalik kesuksesan pasar wisata itu. Dan tiba-tiba saja penilaian Ajeng terhadap Rega berbalik seketika.
Merasa jengah dengan semua omong kosong di dalam ruangan serba guna itu, Ajeng memilih untuk keluar dan mencari keberadaan Wira. Tapi ia tidak bisa menemukan pria itu dimanapun.
“Pak, apa bapak lihat kemana perginya Pak Wali?” tanya Ajeng pada salah satu pegawai yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Pak Wali sudah berangkat, Bu.”
“Berangkat? Kemana?”
“Ke Desa Suka Maju. Katanya Bapak mau meresmikan pembukaan TK disana.”
‘Bisa-bisanya dia tetap bekerja dalam situasi seperti ini.’ Gumam Ajeng dalam hati.
Ajeng menuju mobil dinasnya dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke Desa Suka Maju tempat Wira berada.
**********************
Setelah menempuh kurang lebih lima puluh menit melewati jalan berkelok dan berbatu terjal, Ajeng akhirnya tiba di sebuah desa terpencil bernama Suka Maju. Dari kondisi jalan, rumah warga dan kendaraan yang berlalu lalang saja, Ajeng sudah bisa menyimpulkan bagaimana kondisi masyarakat disana.
__ADS_1
Dari tempat mobil parkir, Ajeng harus berjalan kaki sekitar setengah kilo melewati jalan setapak berbatu untuk bisa sampai ke TK yang akan diresmikan oleh Wira. Karena tidak memahami kondisi jalan, Ajeng yang hari itu mengenakan sepatu hak tinggi terpaksa harus menahan sakit karena kakinya yang lecet di sana sini.
“Ajeng?” tanya Wira kaget ketika melihat gadis itu tiba-tiba sudah ada di sana. “Ngapain kamu disini?”
“Ikut peresmian.” Jawab Ajeng sambil terengah-engah.
Wira tersenyum lalu menyambut Ajeng dan mengajaknya duduk di kursi yang telah disediakan. Ia juga meminta panitia untuk mengganti es teh manis yang mereka hidangkan untuk Ajeng, dengan air mineral biasa alias tidak dingin.
Waktu Wira memberikan sambutan tiba. Warga sangat antusias untuk mendengarkan apa yang akan Wira katakan seolah ia adalah jelmaan ulama yang patut didengarkan tausiahnya. Semua yang hadir duduk tenang dan khidmad mendengarkan penuturan Wira, menjawab setiap pertanyaannya, mengiyakan setiap pernyataannya dan menertawakan setiap lelucon yang dilontarkannya.
Ia juga mendapat tepukan riuh ketika mengucapkan terima kasih kepada Ajeng dan memperkenalkannya sebagai istrinya. Pria berhidung mancung itu juga mendapat tepukan sangat meriah dan sambutan hangat saat selesai menyampaikan sambutannya. Sangat bertolak belakang dengan kejadian di aula tadi.
Entah apa yang Ajeng pikirkan. Tapi meskipun masih kesal dengan sikap Wira tentang Abdi, tapi ia merasa sangat senang dan bangga ketika Wira menyebutkan namanya di dalam sambutannya tadi. Ia menyentuh pipinya yang menghangat dan berusaha keras menahan senyumnya yang terus memaksa untuk mengembang.
Panitia kemudian mempersilakan keduanya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Warga bahkan banyak yang membawakan oleh-oleh berupa hasil bumi seperti tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur dan kelapa. Ada juga yang memberikan beberapa ekor itik dan mentok yang masih hidup kepada Ajeng dan Wira.
Warga sangat senang dengan kebaikan dan kemurahan hati walikotanya itu. mereka bahkan mendoakan agar Wira kembali terpilih menjadi walikota lagi pada pilkada berikutnya. Yang tentu saja langsung ditolak Ajeng yang tidak ingin berlama-lama menjadi istri kontraknya Wira.
“Sudah jam tiga. Ayo pulang!” ajak Ajeng tiba-tiba.
“Memangnya ada apa, Bu? Kok buru-buru pulang?” tanya kepala desa Suka Maju.
“Kebetulan jam empat nanti kami ada acara lain, Pak.” Tukas Wira yang tidak ingin ada orang lain tahu bahwa jam kerja Ajeng akan segera habis.
********************
Ajeng pulang dengan mengendarai mobil yang sama dengan Wira dan Abdi.
__ADS_1
“Kenapa ninggalin konfrensi pers dan malah dateng ke tempat kaya gini?” tanya Ajeng ketika mobil yang mereka tumpangi melintasi jalan jembatan kayu yang membelah sungai curam yang membatasi Desa Suka Maju dengan Desa Suka Pura.
“Bukankah lebih baik mengerjakan hal yang lebih penting daripada sekedar duduk manis dan menjadi badut yang menyenangkan untuk ditonton?” ujar Wira sambil meraih kotak obat yang tersimpan di laci dashboard.
“Maksut aku kenapa Mas Wira malah diem aja? Sudah jelas kalau semua yang Pak Rega sampein itu ngga bener. Tapi kenapa ngga disangkal? Ini sama aja dengan membodohi publik namanya.” Cerocos Ajeng tanpa titik koma.
“Karena aku paling ngga suka ngelakuin hal yang sia-sia.” Jawab Wira enteng sambil membuka sepatu Ajeng dan menempelkan plester pada kakinya yang lecet.
Meskipun kaget dengan sikap Wira, Ajeng berlagak tidak peduli dan terus saja melancarkan omelannya kepada Wira. “Selalu aja kaya gitu. Mas Wira tuh selalu aja ngerehin segala hal dan menganggap semuanya hal yang sia-sia. Mas Wira ngga mikir apa kalau ke depan akibatnya bisa lebih buruk dari yang bisa Mas Wira bayangkan sekarang?”
Wira melirik jam tangannya. “Sudah jam empat. Bisa kita bahas soal lain?”
“Au ah. Ngeselin!” Ajeng membuang muka dan berpura-pura tidur demi menghindari perdebatan dengan Wira.
“Abdi, kita mampir ke rumahnya Pak Camat sebentar yah? Sekalian meninjau progres pembangunan jembatannya.” Perintah Wira kepada Abdi.
“Ngga! Jam kerja udah habis jadi sekarang waktunya pulang.” Tolak Ajeng ketus.
“Gimana Pak? Jadi mampir?”
“Kamu turunin saya di depan kantor kecamatan aja. Terus antar Bu Ajeng pulang. Nanti setelah itu kamu jemput saya lagi di sini.”
“Baik Pak.”
Ajeng semakin kesal karena Wira masih saja mau melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh yang tidak diekspos dan dihargai orang lain, bahkan di luar jam kerjanya. Tapi ia terlalu malas untuk berdebat. Jadi ia memilih untuk tetap diam dan membiarkan Wira melakukan semua yang diinginkannya sesuka hati asalkan tidak mengganggu jam kerjanya.
********************************
__ADS_1