
Saat membuka matanya, Ajeng melihat langit-langit putih, kemudian infus di sisi kirinya dan sofa penunggu di sisi kanannya.
“Kamu sudah sadar, Jeng?” tanya Ardan, kakak sulung Ajeng.
Dokter dan perawat segera datang dan memeriksa keadaan Ajeng lalu melaporkan bahwa Ajeng sudah sadar dan kondisinya stabil kepada ayahnya.
“Dimana Kak Alvin?” tanya Ajeng.
“Wah! Aku yang ada di sini tapi kamu malah nyariin Alvin? Bukankah itu sedikit keterlaluan?”
“Dimana Kak Alvin?” ulang Ajeng. “Aku perlu bicara sama Kak Alvin.”
“Alvin masih di Dubai. Dia mungkin tidak berani pulang karena ayah tahu bahwa dia membantu pelarian kamu.” Ujar Ardan setengah berbisik.
Ajeng hendak menyerang Ardan, tapi ia merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya. “Aaau!”
Ardan menyerahkan sebuah tombol kepada Ajeng sambil menyeringai. “Tekan ini kalau kamu butuh dokter. Atau buang kalau kamu butuh dikurung di kamar kamu.”
Ingin rasanya Ajeng melempar tombol itu ke wajah Ardan. Pria itu belum juga berubah meskipun sudah berkeluarga dan menjadi politisi, masih saja menjengkelkan dan suka mencari masalah dengannya.
Tak lama setelah Ardan keluar dari kamar, dua orang anggota pasukan pengawal presiden masuk untuk menjaga Ajeng dan itu cukup untuk membuat Ajeng menghembuskan nafas kasarnya. Ia akhirnya kembali ke kehidupan lamanya setelah berhasil selamat dari maut.
Malam itu Suryo Diningrat, ayah Ajeng, datang untuk menemuinya. Ajeng sudah bisa membayangkan bahwa di depan kamarnya dipenuhi pria bersetelan hitam yang siap berjaga seperti patung.
“Gimana kabar kamu, Jeng?”
“Baik.”
“Bagus. Papa akan segera memindahkan kamu di rumah. Tempat ini tidak cukup aman untuk kamu.”
__ADS_1
“Papa takut aku kabur lagi? Papa ngga lihat kondisi aku kaya gimana?”
“Papa salah karena terlalu percaya sama kamu sampai-sampai kamu berani membuat kekacauan dengan Mr.Suzuki, memalsukan pernikahan dan tinggal serumah bersama preman berkedok walikota yang memanfaatkan kamu habis-habisan.”
“Itu ngga bener, Pa!”
“Bagian mana yang ngga bener, Jeng? Semua yang kamu lakuin memang ngga ada yang bener.”
“Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Papa. Ajeng memang ngga pernah bener di mata Papa. Semua yang Ajeng lakuin selama ini selalu aja salah.” Ujar Ajeng mulai tersedu.
“Lihat! Ini yang kamu dapat dari pelarian kamu? Setelah kenal sama preman itu kamu jadi berani sama Papa.”
Tangis Ajeng pecah. “Pa, Ajeng minta maaf. Kalau perlu Ajeng bakal bersujud dan memohon maaf sama Papa. Ajeng janji ngga akan ngelawan kemauan Papa lagi. Ajeng cuma pengen ketemu sama Mas Wira untuk terakhir kalinya, Pa. Ajeng ngga bisa ninggalin Mas Wira kaya gini, Pa...”
“Ngga! Papa ngga akan pernah ijinin. Kamu sudah bikin malu Papa dan membuat aib untuk keluarga. Setelah ini, tidak boleh ada seorang pun yang tahu bahwa kamu pernah mengenal dan tinggal serumah bersama laki-laki itu. Kamu harus tetap tinggal di rumah sampai hari pernikahan kamu tiba.”
******************
Tahu bahwa ia akan segera dikurung di rumahnya, Ajeng selalu mengatakan bahwa luka bekas operasinya masih sakit setiap kali dokter dan perawat bertanya. Ia tidak ingin dibawa pulang sebelum bertemu dengan Alvin dan mengetahui keadaan Wira.
Sejak siuman, Ajeng tidak pernah memindahkan chanel televisi di kamar rawat inapnya dari chanel berita. Ia penasaran dengan apa yang terjadi kepada Wira setelah peristiwa malam itu. tapi meskipun selalu menonton berita, tak satupun dari berita itu yang mengabarkan tentang Wira.
Satu-satunya berita tentang Carang Sewu yang ditontonnya adalah tentang keberhasilan mereka memenangkan Piala Adipuri sebagai kota terbersih dan teramah lingkungan tahun ini. Meskipun agak enggan melihat Rega menerima piala itu, tapi setidaknya Ajeng merasa lega mengetahui bahwa Rega baik-baik saja tidak terseret dalam kekacauan hidupnya.
'Tunggu! Kenapa mereka menyebut Rega sebagai walikota dan bukan wawali? Kemana Mas Wira? Apa yang terjadi pada Mas Wira?' batin Ajeng ketika mendengar pembawa berita menyebutnya sebagai Walikota Carang Sewu.
“Sus!”
“Ya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Selama saya koma, apa ada berita soal kasus pembunuhan di Carang Sewu?”
“Carang Sewu?” perawat itu terlihat berfikir sejenak. “Ah iya, ada. Pembunuhan di alun-alun kota itu kan? Sempet rame tuh, Mbak."
“Iya bener. Gimana ceritanya? Gimana pelakunya?”
“Pelakunya sudah ditangkap sih dan korbannya meninggal di tempat kejadian.”
“Apa? Meninggal di tempat?”
Si perawat mengangguk yakin karena memang itulah yang ia dengar dari berita.
‘Kenapa mereka memberitakan aku meninggal di tempat?’ batin Ajeng penasaran.
“Kasihan korbannya. Padahal ia masih muda, ganteng pula.”
“Ganteng?!”
“Fotonya sempat beredar di media. Dia mantan ajudannya sendiri. Masih muda, tinggi dan ganteng. Tapi karena cemburu, pelaku menusuk korban sampai meninggal dunia.”
“Apa?!” Ajeng tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Apa suster tahu wajah pelakunya?”
Si perawat menggeleng. “Wajahnya disamarkan. Tapi kabarnya, dia mantan Walikota Carang Sewu.”
“Apa?!”
“Mbak Ajeng! Mbak!” si perawat langsung memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Ajeng yang tiba-tiba saja pingsan di hadapannya.
************************************
__ADS_1