8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Kiriman Makan Siang


__ADS_3

Keesokan harinya, panitia dari divisi humas menyerahkan materi yang akan Ajeng presentasikan pada acara seminar yang akan diadakan esok hari. Ajeng mempelajarinya dengan seksama dan dibuat sangat kecewa dengan opini yang membuatnya terlihat seperti wanita picik dan dangkal yang hanya memandang emansipasi wanita sebatas kebebasan ikut pemilu, mengurus rumah tangga dan memutuskan untuk bekerja atau tidak.


Tidak hanya itu, mereka juga memberikan catatan agar Ajeng dapat memanage waktu sesuai dengan porsi yang diberikan sebagai pembicara terakhir setelah Ibu Sri Pangestu dan Ibu Heni Cahyo. Waktu yang dialokasikan sekitar lima puluh menit dengan pembagian masing-masing dua puluh menit untuk kedua pembicara yang tampil lebih dulu dan sisanya untuk Ajeng.


Ajeng mulai tergelitik dengan bagaimana mereka berencana untuk menyepelekannya.


“Sisa waktu di bagian paling akhir?! Ckckckck, luar biasa sekali kurang ajar sekali para bawahan di kota ini.” Gumam Ajeng memandangi detail rundown acara yang diterimanya dari seksi acara.


Ajeng berjalan menuju taman tengah balai kota, tempat Wira menanam dan merawat bunga-bunganya. Ia kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di antara bunga-bunga matahari yang mengelilingi bunga mawar yang berwarna merah dan putih. Ajeng meletakkan dokumen pemberian seksi acara kepadanya tadi di atas kursi, lalu berkeliling mengamati penataan tanaman yang terlihat agak aneh karena seperti sengaja di tata berselang-seling alih-alih dikelompokkan menurut jenis atau warnanya.


Semakin berkeliling di taman itu, Ajeng jadi semakin penasaran. Jadi ia melihat ke atas taman yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa atap. Merasa akan menemukan sesuatu, Ajeng berlari ke lanta dua dan melihat taman bunga itu dari atas. Dan ternyata benar, Wira sengaja menata tanamannya agar membentuk tulisan ‘Balai Kota Carang Sewu’ bila dilihat dari atas.


“Keren!” gumam Ajeng memuji keindahan taman itu.


“Maaf Bu Ajeng, sudah ditunggu di ruang seminar.” Seorang pegawai menghampiri Ajeng dan melaporkan bahwa persiapan untuk gladi resik sudah selesai.


“Oh sudah siap semua yah?”


“Sudah, Bu.”


Ajeng memasukkan kembali ponselnya dan berjalan mengikuti pegawai itu menuju ruang serbaguna tempat diadakannya seminar besok.


Ketika tiba di sana, Ajeng melihat Wira baru saja keluar dari dalam ruangan itu setelah menyelesaikan rapat bersama Abdi dan beberapa pegawai lainnya. Manda dan ibu-ibu panitia lainnya juga kebetulan baru tiba di sana untuk melakukan gladi bersih.

__ADS_1


Melihat situasi yang ada, tiba-tiba saja muncul ide untuk menghampiri Wira.


“Baru selesai rapat, Mas?” tanya Ajeng ketika jarak mereka sudah sangat dekat. Ia bahkan merapikan krah dan lengan baju kerja Wira yang terlihat kusut. Tak hanya itu, Ajeng terlihat membisikkan sesuatu sambil tersenyum manis dan Wira meresponnya dengan mengacak-acak pucuk rambut Ajeng dengan menggemaskan.


Sontak ibu-ibu biang gosip yang ada di sana langsung merasa kegerahan menyaksikan langsung adegan manis tipis-tipis yang membuat hati mereka ikut berbunga-bunga itu.


Ajeng mengedipkan sebelah matanya dan Wira membalasnya dengan anggukan kecil sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan memberikannya kepada Ajeng. Sebuah permen sugus, permen kenyal rasa buah berbentuk kotak kecil yang diplintir dikedua ujungnya. Ajeng menerimanya dengan senang hati lalu memasukkan permen kecil itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Awalnya ia merasakan sensasi rasa asam tapi kemudian ia mulai menikmati dan menyukainya.


***************


Gladi bersih dimulai, masing-masing orang mengambil peran dan bagiannya masing-masing. Saat itu Ajeng baru menyadari bahwa ia telah kehilangan naskah materi seminarnya. Ajeng berlari kembali ke taman tapi kertas-kertas itu sudah tidak ada di sana.


Ajeng pergi ke ruang humas dan meminta salinannya kepada petugas yang memberinya tadi. Tapi mereka bilang mereka tidak punya salinannya karena baru saja selesai diketik dan belum sempat digandakan. Mereka juga dengan lantang menolak untuk membuatkan ulang dengan alasan kesibukan dan waktu yang sudah sangat mepet. Padahal di sana Ajeng melihat dengan mata kepalanya sendiri banyak staf yang justru sedang bersantai dan enak-enakan ngobrol sambil ngemil.


Ajeng merasa sangat kesal karena sebagai istri walikota, ia sama sekali tidak dihargai dan dihormati oleh para bawahannya. Ingin rasanya ia menemui bagian sumber daya manusia dan segera mengajukan restrukturisasi pegawai besar-besaran. Tapi ia tahu betul bahwa itu akan menjadi tidak mudah jika harus berhadapan dengan sistem birokrasi yang ada. Jadi sama seperti Wira, ia lebih memilih untuk menyimpan energinya untuk hal yang lebih bermanfaat.


****************


“Bu Ajeng sudah balik?” tanya Yuni yang menjadi salah satu panitia, ketika melihat Ajeng masuk ke dalam ruang serba guna.


Bukannya berlatih seperti yang Ajeng bayangkan, mereka justru sedang asyik menikmati makan siang berupa nasi kotak yang baru saja dikirimkan Wira. Si anggota panitia yang menyapa Ajeng tadi mengajaknya untuk masuk dan duduk di salah satu kursi yang di hadapannya sudah ada sekotak nasi, jus buah, dua botol air mineral dan permen sugus. Ajeng tersenyum melihat sesajen lengkap yang sudah Wira siapkan untuknya. Ia kemudian mengirim sebuah sms kepada Wira.


(Terima kasih makan siangnya. Lain kali tambahkan krupuk.)

__ADS_1


Wira tersenyum membaca pesan singkat dari Ajeng. Selama ini dialah yang tidak bisa makan tanpa krupuk, tapi sepertinya Ajeng juga sudah mulai terjangkiti kebiasaannya itu. Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa sangat senang.


“Bu Ajeng tadi bisikin Pak Wira minta dikirimin makan siang ini?” tanya salah seorang panitia memberanikan diri.


Ajeng menggeleng sambil tersenyum. Tadi ia hanya mengatakan bahwa mereka sedang diperhatikan dan Wira langsung tanggap dengan perkataannya. Ia bahkan memberikan akting terbaiknya dengan adegan manis di rambutnya yang Ajeng yakin sukses membuat para wanita yang ada di sana patah hati.


Lihat saja, para panitia dan pengisi acara yang siang itu hampir semuanya wanita tengah menyantap nasi kotak mereka dengan wajah murung dan kesal. Padahal biasanya mereka paling senang dan bersemangat jika mendapat konsumsi gratis seperti itu.


“Iya Bu, saya juga penasaran sama bisikan Bu Ajeng tadi. Sampai-sampai Bapak langsung mengirimkan nasi kotak sebanyak ini ke sini.” Imbuh yang lain.


“Romantis banget yah Pak Wali? Bu Ajeng beruntung banget punya suami seperti Pak Wali. Udah ganteng, kaya, romantis lagi.” Sahut yang lainnya lagi.


“Masa sih?” timpal Ajeng sambil senyam-senyum.


“Tuh kan, Bu Ajeng dari tadi senyum-senyum mulu. Kelihatan banget kalau lagi jatuh cinta. Duh, jadi pengen diromantisin juga......” imbuh Yuni.


“Kalian kesini mau ngerumpi apa kerja?!” tegur Manda yang tiba-tiba saja datang dan menyela pembicaraan mereka.


Semua pegawai yang tadi bicara dengan Ajeng langsung kabur, kembali ke posisinya masing-masing.


“Tolong jangan memberikan pengaruh buruk sama mereka! Sebagai pemimpin, anda seharusnya memberikan contoh yang baik supaya mereka menjaga sopan santun dan etika. Bukannya malah ngajarin mereka bergosip.” Keluh Manda kepada Ajeng.


Ajeng dengan santai meminum jusnya dan berkata, “Bu Manda, bergosip itu kalau di belakang orangnya. Kalau yang diomongin ada di depannya, itu namanya sharing alias berbagi. Pemimpin yang baik adalah yang suka berbagi.”

__ADS_1


Ajeng kembali ke posisinya dan meninggalkan Manda yang masih kesal.


*********************


__ADS_2