8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Surat Balasan


__ADS_3

Ajeng masih saja tertegun dengan isi pembicaraannya dengan Rega bahkan setelah pria berkacamata itu pergi meninggalkannya sendiri di ruang santai kantor balai kota. Setelah memikirkan banyak hal, Ajeng kemudian berniat untuk pulang dan mempersiapkan jamuan untuk para pedagang nanti malam.


Saat hendak pergi, Ajeng melihat surat kabar Suara Warga terbitan divisi penyiaran pemkot tergeletak di bawah meja. Ajeng memungut dan membacanya dengan cermat. Rega benar, namanya memang tengah banyak dibahas beberapa hari terakhir. Meskipun hanya menyebutkan istri walikota untuk menerangkan namanya, tapi pencitraan tentang seorang Ajeng tersirat sangat baik dari artikel-artikel tersebut.


Namun, dahi Ajeng mulai mengernyit ketika namanya disejajarkan dengan Rega yang digadang-gadang merupakan tokoh dibalik suksesnya acara hut dharma wanita beberapa hari lalu. Mereka menuliskan bahwa Rega yang mengatur dan merencanakan semuanya dan bahwa Rega juga yang mengundang para pedagang sayur untuk datang dan memenuhi gedung serba guna hari itu.


Tidak hanya mengesampingkan bahkan mengubur nama Wira, mereka juga menuduh Wira hanya fokus pada urusan pribadinya dan tidak punya waktu untuk memperdulikan masalah acara tersebut. Sehingga Regalah yang harus mati-matian memperjuangkan semuanya seorang diri.


Ajeng kembali menghembuskan nafas kesal. Belum pernah ia melihat upaya kudeta seterang itu di film manapun yang ditontonnya. Tapi Carang Sewu ternyata jauh lebih menakjubkan daripada itu. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah bahwa Wira memilih untuk cuek seolah tidak dirugikan sama sekali.


“Dasar gila!” umpat Ajeng kepada semua drama murahan yang ada di Carang Sewu.


***************


Setelah memperiapkan segala jamuan sejak siang, malam itu Ajeng menunggu kedatangan para pedagang sayur yang telah dikiriminya undangan. Awalnya Ajeng menunggu dengan santai sambil mendengarkan musik di gelombang radio lokal favoritnya. Tapi hari semakin malam dan tidak ada seorang pun yang datang padahal ia sudah mempersiapkan jamuan untuk seratus orang lebih.


Ajeng duduk termenung dengan penuh rasa sesak di teras rumahnya. Ia tidak tahu apa yang salah dan kenapa tak seorang pun mau datang memenuhi undangannya. Padahal ia hanya berniat menjamu mereka sambil ngobrol santai membicarakan rencana relokasi.


“Kamu ngga papa, Jeng?” tanya Wira yang baru saja pulang dan melihat Ajeng duduk di kursi teras sambil menengkurapkan badannya ke meja.


“Mas Wira?” sapa Ajeng sambil menyeka air matanya.


“Sudah pada pulang?” tanya Wira dengan polosnya.


Ajeng menggeleng. “Ngga ada satupun yang datang.”


“Ya sudah.. kita bagikan saja makanannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.”

__ADS_1


“Mas Wira kok bisa sih setenang itu? Mas Wira ngga penasaran kenapa ini bisa terjadi? Mas Wira ngga marah?” tanya Ajeng dengan nada tinggi.


“Ngga ada gunanya juga marah-marah. Toh mereka tetep ngga akan datang.”


“Jadi Mas Wira tahu kenapa mereka ngga datang? Apa ini ada hubungannya sama Pak Rega lagi?”


“Sudahlah. Tidak usah membahas itu lagi. Aku akan mandi lalu membagikan makanan itu. Suruh Bi Sumi dan yang lainnya mengemasi makanannya!”


Ajeng menarik tangan Wira dan menghentikannya sebelum masuk ke dalam rumah.


“Jadi Mas Wira beneran tahu bakal jadi seperti ini?” tanya Ajang putus asa. “Kenapa Mas Wira ngga kasih tahu aku sebelumnya?”


“Kalau aku larang, apa kamu bakal percaya? Bukannya kamu lebih percaya sama Rega daripada aku? Kamu bahkan ngga pernah membicarakan tentang rencana kamu ini sama aku.”


Ajeng kembali teringat bahwa ia mendapatkan ide itu secara mendadak dan belum sempat mendiskusikannya dengan Wira. Apalagi, mereka belum bisa dikatakan berbaikan setelah perdebatan semalam.


Wira hanya menepuk pundak Ajeng perlahan. “Maafin aku yah?!”


***************


Pagi itu Ajeng masih sangat marah kepada semua orang karena merasa dipermainkan dan disabotase saat ia benar-benar berniat peduli dan membantu permasalahan mereka. Wira berkali-kali mengetuk pintu kamarnya tapi Ajeng sama sekali tidak berniat untuk mempedulikannya.


Tak lama kemudian, Bi Sumi mengetuk pintu dan mengatakan bahwa ada surat yang datang untuknya. Ajeng langsung membuka pintu dan melompat kegirangan. Ada sebuah kotak berisi surat dan sebuah kamera digital di dalamnya.


Ajeng membuka suratnya dan mulai membacanya.


Teruntuk Adikku Ajeng

__ADS_1


Gimana kabar kamu, Jeng? Kakak yakin kamu baik-baik saja karena bisa menulis surat sepanjang ini untuk kakak. Kakak senang karena kamu selamat dan berada di tempat yang aman saat ini. Tentang apa yang kamu tanyakan, Papa memang memasukkan kamu dalam daftar pencarian orang khusus. Sepertinya beliau tidak berani mencari kamu secara terbuka, yah kamu tahu kan? Karena keadaan dan status kamu. Sehingga belum bisa menemukan keberadaan kamu sampai sekarang. Tapi kamu tenang aja, kalau sampai mereka berhasil membawa kamu pulang, kakak jamin itu bukan karena kakak. Kakak janji ngga akan kasih tahu keberadaan kamu kepada siapapun. Jadi, jangan takut yah!


Untuk sementara waktu, tetaplah berhati-hati. Kakak kirim kamu kamera supaya kamu bisa memotret semua yang kamu suka agar dapat kamu simpan saat tidak bisa kembali ke sana lagi nantinya. Nikmati sebanyak mungkin kesempatan yang kamu punya. Kakak akan berusaha mengalihkan arah pencarian mereka menjauhi keberadaan kamu. Tapi kakak tidak bisa menjamin akan bertahan lama. Selamat bersenang-senang.


Salam rindu,


Kakakmu Alvin


Air mata Ajeng berlinang membaca surat balasan yang dikirimkan kakak keduanya itu. Ia merasakan rindu, cemas dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Ia bersyukur karena Alvin masih sama baiknya seperti dulu, saat mereka masih kecil. Bagi Ajeng, Alvin adalah satu-satunya orang yang paling dekat dan dapat dipercayanya di antara semua anggota keluarganya. Dan melihat Alvin harus berbohong kepada ayahnya demi melindunginya, membuat Ajeng merasa bersalah sekaligus berterima kasih.


Ia membuka bungkus kamera digital yang Alvin kirimkan untuknya. Persis sama seperti kamera kesayangannya yang Alvin berikan sebagai kado ulang tahunnya yang ke dua puluh, tiga tahun lalu. Kiriman pagi itu berhasil mengembalikan keceriaan Ajeng pagi itu. Ia kemudian merapikan suratnya dan bersiap untuk berangkat kerja.


“Astaga! Ngapain Mas Wira masih disini?” tanya Ajeng kaget ketika melihat Wira masih duduk di kursi teras.


“Nungguin kamu.”


“Ngapain? Mo kemana?”


“Kalijaten.”


“Mas Wira mau ikut kesana? Bukannya Mas Wira bilang ngga mau ngelakuin pekerjaan yang sia-sia?” sindir Ajeng mengingat perkataan Wira sebelumnya.


“Kali ini ngga akan sia-sia.”


“Oke. Let’s go!”


***********************************

__ADS_1


__ADS_2