
Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan laut, Ajeng akhirnya tiba di sebuah pulau kecil bernama Nusa Beringin bersama rombongan relawan lainnya. Pulau itu adalah pulau terluar di pulau Jala, terletak di sisi utara Provinsi Jala Brata dan digunakan sebagai pengasingan untuk orang-orang yang dihukum penjara atas kejahatan berat.
Meskipun merupakan tempat pengasingan tahanan, tapi pulau itu telah berkembang menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Ada banyak rumah semi permanen dari glugu atau pohon kelapa yang dibangun di pusat pulau. Ada juga bangunan permanen yang dibangun pemerintah seperti klinik atau puskesmas dan pos penjagaan atau semacam kantor polisi.
Ajeng berjalan mengikuti para relawan yang mengenalan id card seperti miliknya dan mereka akhirnya tiba di pos penjagaan. Mereka mengantri untuk diperiksa sebelum diijinkan masuk ke dalam mess relawan yang ada di sisi barat pos penjagaan. Ajeng yang berada di urutan paling belakang merasa cemas sekaligus gusar.
Saat tiba gilirannya di periksa, si kepala pos mengamatinya dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki dan itu cukup membuat Ajeng semakin gelisah.
"Silakan pergi, kamu tidak bisa menampung relawan yang namanya tidak ada di daftar kami." ujar si kepala pos sambil menunjukkan kertas di tangannya.
Tanpa berani melawan, Ajeng pergi meninggalkan pos itu untuk mencari tempat menginap sementara sebelum hari mulai gelap. Ia mengamati sekeliling. Rumah-rumah warga di sana rata-rata berukuran sangat kecil dan dibangun semi permanen menggunakan kayu kelapa sebagai tiang penyangga bangunan dan daun kelapa yang dipilin sebagai atap dan dindingnya. Ada juga berapa rumah yg sudah menggunakan triplek sebagai dindingnya. Dan hanya dua atau tiga rumah saja yang sudah memiliki dinding bata dan atap genting.
Ia mendatangi rumah warga untuk meminta tumpangan menginap. Tapi meskipun sudah mendatangi hampir semua rumah, Ajeng belum juga mendapatkan tempat bermalam. Ia sudah sangat lelah dan memutuskan untuk singgah di salah satu warung kecil untuk membeli minuman.
“Pak, kenapa tidak ada warga yang mau memberi saya tumpangan menginap malam ini?” keluh Ajeng kepada si pemilik toko.
“Rumah disini rata-rata kecil, Neng. Hanya memiliki paling banyak dua kamar dan jumlah anggota keluarganya banyak. Tidak akan muat kalau ditambah satu orang tamu lagi.” Jelas pemilik warung.
“Jadi dimana saya harus tinggal malam ini?” tanya Ajeng putus asa.
Ia baru saja menyadari bahwa ternyata ada juga tempat dimana uang sama sekali tidak berharga karena berapapun ia mau membayar, tak ada seorangpun yang mau memberinya tumpangan.
“Ah, di tepi pantai sana ada orang yang juga baru tiba beberapa hari lalu. Coba saja tanya kesana!”
Ajeng buru-buru membayar minumannya lalu pergi menuju tepi pantai sesuai petunjuk pemilik warung. Di sana ia melihat sebuah tenda besar yang sudah didirikan dan ada api unggun juga kursi kecil dari batang pohon di depannya. Ia mendekati tempat itu dan mencari pemiliknya tapi tak seorangpun menjawabnya.
Karena merasa sangat lelah, Ajeng masuk dan duduk di kuris kecil yang ada di depan tenda. Setelah menunggu hampir satu jam dan punggungnya mulai kram, Ajeng memutuskan untuk rebahan di dalam tenda sebentar. Dan tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Karena takut, Ajeng bergegas bangun dan keluar dari tenda sambil menunduk untuk menunjukkan ketulusannya meminta maaf.
“Maaf, saya hanya numpang beristirahat sebentar. Saya akan membayar biaya sewanya. Berapapun harganya.” Cerocos Ajeng tidak berani menatap si pemilik tenda.
__ADS_1
Ia hanya melihat kaki orang itu makin mendekat ke arahnya. Ajeng semakin takut. Lalu tangan orang itu mencengkeram kedua lengannya dan memeluknya. Ajeng berusaha melepaskan diri dan menolak dipeluk sembarangan. Tapi pria itu kian mengeratkan pelukannya.
Merasa terpaksa, Ajeng menginjak kaki lelaki itu dengan sangat keras dan pelukannya terlepas sekatika.
“Auuuu!” pekiknya sambil mengangkat kakinya yang habis diinjak Ajeng.
Ajeng mengamati wajah pria kurang ajar itu. wajahnya ditumbuhi ****** dan kumis tapi Ajeng kenal betul pemilik wajah itu. Wajah yang selalu hadir di setiap mimpinya dan dirindukannya di setiap desah nafasnya. “Mas Wira?!”
Wira tersenyum dan kembali memeluk Ajeng lebih erat dari sebelumnya.
“Mas Wira kok bisa ada di sini?”
Wira menggiring Ajeng duduk di kursi kecil batang pohon yang ditemukannya beberapa hari lalu itu. Ia kemudian menyodorkan air kelapa muda yang dibawsnya kepada Ajeng. “Minum dulu!”
“Dua hari lalu tiba-tiba saja aku dikirim ke sini. Menurut laporan resminya aku dipindahkan ke rutan Nusa Barong. Tapi faktanya, kamu lihat sendiri kan? Bukannya dimasukkan ke penjara, aku malah dibiarkan bebas seperti ini.” Jelas Wira panjang lebar.
“Jadi –“
"Tapi Mas Wira ngga papa kan? Aku khawatir banget karena tahu kamu dipenjara, Mas." celoteh Ajeng sambil memeluk Wira.
"Heem, aku juga ngga nyangka bakal ngalamin kejadian seperti itu. Tapi sudahlah, semua sudah berakhir."
"Maafin papa ya, Mas?"
Wira menyentil dahi Ajeng. "Ngapain juga kamu yang minta maaf. Kamu juga pasti sangat menderita karena kecelakaan itu. Gimana kabar kamu? Dan kamu sendiri kenapa bisa ada di sini?"
“Baik, Mas. Aku berhasil selamat dan Bara yang nyuruh aku ke sini. Katanya supaya bebas dari kekangan papa dengan jadi relawan di rutan Nusa Beringin. Tapi nyatanya aku disusupkan dan id card-ku sengaja dipalsukan supaya bisa naik kapal. Dia pasti gagal masukin aku ke daftar nama resminya." jelas Ajeng sambil manyun kecewa.
“Bara? Tapi kenapa dia berbuat seperti itu? Bukannya dia orang yang paling ingin kamu ada di sana? Di sisi papa kamu." tanya Wira ragu.
Wira menggenggam kedua lengan Ajeng dan menatapnya teduh seperti biasanya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
__ADS_1
“Kami menikah kemarin.”
Dan tangan Wira langsung terlepas dari lengan Ajeng. Tatapan dan raut wajahnya berubah seketika. Ia bangun dan berjalan menjauh dari Ajeng menuju pantai. Tapi Ajeng buru-buru mengejarnya.
“Mas Wira, tunggu!”
“Kenapa kamu malah kesini padahal sudah menikah?!” bentak Wira tanpa menoleh kepada Ajeng.
“Karena dia baru saja nyeraiian aku tadi pagi.”
Wira berbalik dan menatap Ajeng dengan tatapan kaget bercampur tidak percaya. “Maksud kamu?”
“Dia cuma nikahi aku dua puluh empat jam demi mengelabuhi papa dan mengambil alih kebebasan aku dari papa, juga buat membebaskan kamu dari penjara.”
“Aku? Tapi kenapa? Aku ngga pernah minta dia bebasin aku.”
“Aku Mas! Aku yang minta papa buat bebasin kamu sebagai syarat agar aku mau nikah sama Bara.”
“Kamu mempermainkan hidup dan perasaan Bara hanya demi ini?”
“Loh kok kamu malah marah sama aku sih, Mas? Aku ngelakuin ini demi kamu, demi kita. Karena aku cintanya sama kamu, bukan Bara!” maki Ajeng tak kalah keras. Namun suara mereka terbawa deburan ombak dan angin pantai yang terus bergulung-gulung datang menghampiri mereka.
Wira tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Batinnya berkecamuk. Ia memang sangat menginginkan Ajeng, tapi bukan cara seperti itu yang ia inginkan selama ini.
“Mas!”
Wira bergeming dan tetap berjalan menjauhi Ajeng.
“Aaaaaauuu!!! Mas! Tolong!”
*******************************
__ADS_1