
"Awas!!!!” pekik warga ketika melihat Tegar bangun dan menodongkan belatinya ke arah Wira.
Sayangnya, Ajeng lebih dulu melihat dan menyadari niat Tegar. Karena tidak punya cukup waktu, Ajeng mendorong tubuh Wira menjauh dan membiarkan belati itu menusuk perutnya.
“Ajeng!!!!!”
Melihat tubuh Ajeng terkulai lemah dalam dekapannya, Wira segera melarikan Ajeng ke rumah sakit. Ia berkali-kali memanggil nama Ajeng sambil menangis tapi wanita malang itu tak kunjung membuka matanya. Ia merasa sangat ketakutan, melebihi ketika ia diancam hukuman penjara maupun ketika ia hendak mati di tangan musuh-musuhnya.
“Ajeng!! Bangun! Aku mohon sama kamu. Bangun, Jeng! Kamu ngga boleh ninggalin aku kaya gini!” Ratap Wira putus asa.
Ambulance tiba di rumah sakit dan Ajeng langsung dibawa ke ruang IGD sementara Wira diharuskan menunggu di luar.
Tak lama kemudian, dokter keluar untuk menemui Wira.
“Anda wali pasien?”
“Saya suaminya, Dok.”
Sang Dokter menatap Wira dengan tatapan penuh keraguan, lalu menghela nafas. “Apa anda tahu siapa dia?”
Wira mengangguk lemas. “Tolong lakukan yang terbaik untuk menolongnya, Dok!”
“Kami sudah melakukan penanganan darurat, tapi dia bukan orang yang bisa ditangani sembarang dokter. Sebentar lagi helikopter akan datang untuk menjemputnya.” Ujar Sang Dokter sambil menepuk pundak Wira.
*****************
Menyaksikan kepergian Ajeng, tanpa bisa berbuat apa-apa meninggalkan bekas luka sangat mendalam di hati Wira. Ia merasa menjadi pecundang paling lemah dan tidak berguna di dunia. Sebanyak apapun uang dan kekuasaan yang dimilikinya saat ini, toh pada kenyataannya, ia tetap tidak bisa berkutik di hadapan keluarga Ajeng.
__ADS_1
Ia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk sekedar berpamitan atau melihat kepergian Ajeng dari dekat. Para pengawal membuat barikade yang sangat tebal dan kokoh yang sama sekali tak mampu ditembusnya. Wira pasrah membiarkan para pengawal itu mendorong dan menghempaskan tubuhnya ke lantai, jauh dari tubuh sang istri.
Setelah kepergian helicopter yang membawa Ajeng, Wira memutuskan untuk pergi ke Sido Mampir. Semua cinta dan harapan hidupnya telah pergi bersama Ajeng yang entah mampu bertahan atau tidak melawan takdirnya. Ia enggan pulang ke rumah dinas maupun rumah orang tuanya di Batang Hulu. Ia hanya ingin menenangkan diri dan melepaskan kerinduannya kepada Ajeng di penginapan tua itu.
Tok..Tok..
Siang itu si nenek pemilik penginapan kembali mengetuk pintu kamar Wira tapi pria itu masih saja bergeming dan sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu kamarnya.
“Den... Bangun dulu, Den! Sudah siang.”
Tak ada sahutan sama sekali sehingga si nenek mulai cemas.
“Kek, apa pria itu akan baik-baik saja di dalam sana? Bagaimana kalau dia sampai nekad bunuh diri?” tanya si nenek cemas.
“Sssttt! Nenek ini ngomong apa sih? Dia itu laki-laki kuat dan berkharisma. Ngga mungkin dia punya pikiran sedangkal itu.” sahut si kakek.
“Iya.. iya.. sini biar kakek yang antar!”
Tok.. Tok..
“Den, ini kakek. Bisa bicara sebentar? Ada yang mau kakek sampein sama Den Wira.”
Pintu kamar Wira terbuka. Si kakek buru-buru masuk sebelum Wira menutupnya kembali. Si kakek kemudian meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas ranjang, lalu duduk di tepi ranjang di dekat Wira.
“Kakek tahu apa yang Aden rasain sekarang. Kakek sudah bisa membayangkannya sejak pertama kali kalian datang ke sini. Ini sudah seperti takdir yang tidak bisa ditolak, Den. Aden ketemu sama Den Ayu, menikah lalu dipaksa berpisah seperti ini.”
“Kenapa Kakek ngga pernah memberitahu saya apa-apa?”
__ADS_1
“Kisah hidup Den Ayu dan keluarganya bukan cerita yang bisa dibagikan sembarangan. Ini menyangkut keberlangsungan hidup negri ini. Aden tahu kan?”
Wira kembali tertunduk lesu. “Kenapa saya harus mengalami ini?”
“Karena Aden sudah memilih yang tidak seharusnya Aden pilih.” Jawab si Kakek filosofis dan itu membuat Wira semakin muak.
“Sebenarnya, Kakek senang melihat Den Ayu ceria dan selalu bahagia setiap kali bersama Aden. Kakek sempat berdoa supaya kalian bisa terbebas dari kejadian seperti ini. Karena kakek rasa Den Ayu akan lebih bahagia di sini daripada di istananya.”
“Kenapa kakek bicara seperti itu?”
“Ini adalah tanah kelahiran ibu kandung Den Ayu dan ada Aden yang selalu menemani Den Ayu, sedangkan istana adalah penjara bagi seorang anak tiri seperti Den Ayu. Tidak akan ada orang yang menyayangi Den Ayu seperti Aden menyayanginya.”
“Bagaimana cara saya menemui Ajeng, Kek? Saya ngga bisa hidup tanpa tahu apakah dia akan bertahan hidup.” Rengek Wira berderai air mata.
Si kakek menepuk pundak Wira. “Den Ayu akan selamat. Tidak peduli apapun caranya, ayahnya akan berusaha menyelamatkannya mati-matian. Hanya saja, apakah setelah selamat, apakah Den Ayu akan bisa kembali bahagia dan melupakan semuanya? Itu yang kakek tidak yakin.”
Wira makin frustasi karena tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekedar menemani sampai Ajeng kembali membuka matanya.
“Tapi Aden harus kuat. Aden harus yakin kalau jodoh tidak akan kemana-mana. Sejauh apapun jarak kalian, pasti akan dipertemukan lagi.”
“Kek! Kek!” si nenek berteriak-teriak dari bawah.
“Ada apa, Nek?” si kakek tergopoh-gopoh turun dari lantai dua.
“Ada polisi yang mencari Den Wira.”
"Apa?! Polisi?!"
__ADS_1
***************************************