
Setelah keluar dari butik, Bara ternyata tidak membawa Ajeng kembali ke rumahnya melainkan malah pergi ke rumah Bara. Ajeng yang merasa tidak diantar pulang, menolak untuk turun.
“Aku ngga mau turun kalau bukan di rumah.” Tolak Ajeng sambil tetap bergeming di tempat duduknya sambil bersendekap dan membuang muka.
Tidak tahan dengan sikap keras kepala Ajeng, Bara meletakkan tangannya di tengkuk dan kaki Ajeng lalu membopongnya masuk ke dalam rumah.
“Lepas!!!! Lepasin aku!!!” teriak Ajeng memberotak.
Tapi Bara terlalu kuat dan kekar untuk melepaskan Ajeng begitu saja. Para pelayan tampak terkejut sekaligus tersipu melihat tuan muda mereka membopong perempuan seperti itu. Begitu juga dengan Bu Taufik yang terlihat sangat senang melihat sikap jantan putra kesayangannya itu.
“Sini, sini!” Bu Taufik membimbing Bara menuju sofa tempat Ajeng duduk.
Bara kemudian menurunkan Ajeng di sofa dan Ajeng memilih untuk terus menunduk karena malu. Ia kemudian naik ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“Hai, Jeng! Gimana kabar kamu? Bara bilang kamu masih terlalu lemah untuk kemana-mana. Tapi dia tetap saja nekat membawa kamu kesini. Tante minta maaf yah?”
Ajeng hanya bisa nyengir sambil menggeleng-geleng seperti orang bodoh.
“Tante seneng deh lihat kalian berdua. Serasi dan romantis.”
Ajeng makin salah tingkah dan ingin melarikan diri saja rasanya.
“Oh ya, gimana sudah dapat baju pengantinnya?”
Ajeng kembali nyengir sambil mengangguk.
“Tante sudah ngga sabar nunggu hari pernikahan kalian. Apa kamu tahu, dulu Bara itu anak yang sangat pendiam dan cuek. Tapi sejak ketemu sama kamu, dia jadi lebih bersemangat dan ramah. Tante bisa lihat jelas kalau dia sedang sangat jatuh cinta sama kamu.” Ujar Bu Taufik sambil tersipu-sipu sendiri.
“Ma! Ngomong apaan sih?! Siapa juga yang jatuh cinta? Jangan asal ngomong! Ntar jatuhnya jadi fitnah.” Protes Bara.
“Terserah kamu mau ngelak kaya gimana. Tapi ini fakta, bukan fitnah.” Bu Taufik meninggalkan Ajeng, meraih ponselnya lalu menelpon seseorang.
“Mau jalan-jalan sebentar?” tawar Bara sopan.
Merasa tidak enak karena kejadian baju pengantin dan sikap tidak sopannya kepada mamanya Bara, Ajeng terpaksa setuju. Bara hendak menggendongnya ke kursi roda tapi Ajeng lebih dulu menolak dan menghindar.
“Aku bisa jalan sendiri.” Ujar Ajeng sambil berjalan menuju kursi rodanya.
Bara kemudian mengajaknya keliling rumahnya sampai berhenti di bagian taman yang sudah disediakan meja makan dan dua buah kursi di bawah sebuah pohon rindang. Aneka hidangan sudah tertata rapi di atas meja makan itu. Bara kemudian menggeser salah satu kursi untuk Ajeng lalu ia sendiri duduk di kursi satunya.
__ADS_1
“Apa ini?”
“Wira bilang kamu suka meja makan di taman.”
Ajeng kembali berusaha menahan air matanya. “Lalu apa mau kamu?”
“Wira berpesan agar aku membuatkan kamu meja makan di taman rumah kita saat menikah nanti” imbuh Bara.
Ajeng menyerah. Ia tidak bisa menahan lagi air matanya yang memaksa untuk mengalir.
“Sudahlah! Aku mau ini jadi air mata kamu yang terakhir. Setelah ini kamu tidak akan lagi mendengar aku membahas pria itu. Aku hanya membawa kamu ke sini supaya kamu mau makan. Itu saja.”
“Aku ngga lapar.” Tolak Ajeng seperti biasanya.
“Eh, kalian disini?” Bu Taufik tiba-tiba datang dan bergabung bersama mereka.
Bara menarik kursi roda Ajeng agar lebih dekat dengannya lalu mempersilakan ibunya duduk di kursi yang disingkirkannya tadi. “Silakan, Ma!”
“Gentlement mama...” puji Bu Taufik kepada Bara.
“Ayo, silakan dicicipi, Jeng. Ini tante sendiri yang belanja dan masak khusus buat kamu.”
“Oh ya?” sahut Ajeng basa-basi.
Ajeng tidak bisa menolak lagi meskipun enggan. Tapi Bara sudah lebih dulu menambahkan lauk dan sayur ke piring Ajeng lalu mulai menyuapkannya ke mulut Ajeng.
Ajeng merasa malu diperlakukan seperti itu di depan Bu Taufik.
“Apaan sih, Bar. Aku bisa makan sendiri.” Tolak Ajeng sambil mengambil piring dan sendok dari tangan Bara.
“Ma, bisa ngga mama makannya di dalem aja? Ini Ajeng malu karena dilihatin sama mama.” Celoteh Bara mencairkan suasana.
“Ngga papa lagi, Jeng. Ngga usah malu! Anggap aja latihan. Kalau sudah nikah sama Bara kamu bakalan jadi ratu. Tinggal duduk manis, dia yang bakal layanin kamu. Semuanya. Dia bakal lakuin semua yang kamu minta.” Jelas Bu Taufik.
“Ma –“
“Iya, iya.. Mama masuk deh!”
“Ngga usah Tan. Lebih enak makan rame-rame gini.” Ajeng menggenggam tangan Bara yang memegang sendok lalu menyuapkannya ke mulutnya.
__ADS_1
Bara tersenyum senang melihat Ajeng bersikap lebih lunak kepadanya. Bara menyuapkan lagi sesendok demi sesendok makanan dengan sangat perlahan dan hati-hati ke dalam mulut Ajeng.
“Aduh, mama ngga tahan lihat romantisnya kalian. Mama masuk aja deh!” Bu Taufik kemudian membiarkan kedua pasangan itu melanjutkan aksi pamer kemesaraan mereka.
Tiba-tiba saja Ajeng menepis tangan Bara, mengambil piring lalu meletakkannya ke meja setelah Bu Taufik pergi. “Sudah cukup sandiwaranya. Aku mau pulang!”
“Jeng!” Bara merasa sangat kecewa karena Ajeng ternyata hanya berpura-pura di depan mamanya.
Gadis itu sudah mendorong sendiri kursi rodanya menuju ke tempat parkir. Tapi Bara lebih dulu menghentikannya dan mendorongnya kembali masuk ke dalam ruang keluarga tempat mamanya menunggu bersama seseorang.
“Sudah selesai makannya?” tanya Bu Taufik ketika melihat Bara mendorong kursi roda Ajeng masuk.
“Sudah.”
“Baguslah. Ini Pak Jamil sudah nungguin kalian.”
‘Pak Jamil?’ gumam Ajeng.
“Ini calon mempelainya, Pak.” ujar Bu Taufik memperkenalkan. “Bara, Ajeng, ini Pak Jamil, pengrajin perhiasan paling terampil yang pernah mama kenal. Beliau yang akan membuatkan perhiasan untuk pernikahan kalian nanti.”
Pak Jamil menoleh dan kaget melihat Ajeng duduk di kursi roda dengan mengenakan bros yang pernah dibuatnya untuk Wira, begitu juga dengan Ajeng. Tapi Ajeng menggeleng kecil memintanya berpura-pura tidak mengenalnya.
Pak Jamil menghampiri Ajeng lalu mengulurkan tangannya. “Saya Jamil, Non.”
“Ajeng.” Balas Ajeng.
“Jadi, perhiasan seperti apa yang Non Ajeng inginkan?” tanya Jamil sambil melirik bros yang Ajeng kenakan siang itu.
Ajeng melirik Bara. “Biar Bara aja yang pilih, Pak.”
“Loh kok aku sih? Itu kan buat kamu.” Tolak Bara.
“Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau keputusan aku ngga berarti apa-apa?”
“Jeng! Ayolah! Kamu tahu betul bahwa bukan ini maksud aku.”
“Ngga ada yang berbeda. Kamu adalah pemegang keputusan terbesar. Jadi silakan tentukan apapun sesuka kamu!” balas Ajeng ketus. “Saya permisi.”
Bu Taufik yang tadinya ceria, tiba-tiba saja tertegun mendengar perkataan Ajeng barusan.”Ada apa ini?”
__ADS_1
“Biar Bara bicara sama dia.” Ujar Bara sambil mengikuti kursi roda Ajeng.
******************************