
Saat Wira hendak membuka pintu ruangannya, Abdi masuk untuk memberikan laporan.
“Selamat Pagi, Pak, lapor! Hari ini stand yang tersedia di pasar wisata sudah habis terisi. Jumlah pengunjung juga hampir memenuhi target. Meskipun arus perdagangan belum mencapai angka yang diharapkan, tapi pagi ini saja sudah banyak warga binaan lama yang memohon-mohon agar diberikan tempat di pasar wisata.” Jelas Abdi penuh semangat.
“Jadi bagaimana nasib mereka?” tanya Ajeng penasaran.
“Kami terpaksa mengabaikan mereka karena sudah tidak memungkinkan untuk menambahkan stand lagi. Evennya juga sudah tinggal dua hari lagi. Lagi pula salah mereka sendiri yang membiarkan stand-nya kosong selama lima hari kemarin.”
“Hemm,, ngga papa. Anggap aja itu sebagai pembelajaran.”
“Oh ya, Pak. Mengenai acara peringatan ulang tahun dharma wanita –“ Abdi sengaja menggantung kalimatnya untuk menunggu persetujuan dari Wira.
“Lanjutkan!”
“Bu Manda belum mengkonfirmasi tentang pembatalan Bu Gubernur sebagai pengisi acara seminar. Bu Manda juga mengusulkan agar para anggota dharma wanita mulai ikut ngantor mendampingi suami-suami mereka sembari mempersiapkan acaranya. Katanya demi meningkatkan keharmonisan hubungan dan produktivitas kerja. Ini proposalnya.” Jelas Abdi panjang lebar.
Wira mengambil proposal yang disodorkan Abdi lalu menyerahkannya kepada Ajeng. “Tolong urus ini juga!”
“Wah! Ini sih namanya eksploitasi, Mas.”
Wira memberikan aba-aba dengan tangannya agar Abdi meninggalkan ruangannya.
“Ini acara yang sangat penting. Jadi, usulkan saja jumlah kompensasi yang kamu inginkan. Aku bakal penuhi berapapun yang kamu ajukan.”
“Gimana dengan pemecatan semua pegawai di rumah?”
“Maksut kamu?”
“Kan aku sudah bilang, aku ngga percaya sama semua orang yang tinggal sama kita. Mereka pasti membicarakan tentang kita kepada orang luar, Mas.”
“Siapa? Bik Sumi? Abdi? Pak Samsul?”
“Orang yang tahu persis kalau kita tidur sekamar di Siliwangi dan sekarang pisah kamar.”
“Abdi?!” tanya Wira terbelalak. “Ngga. Aku ngga bisa!”
“Kenapa? Dia kan cuma asisten pribadi kamu? Kamu bisa cari orang lain yang lebih baik dan bisa dipercaya.”
__ADS_1
“Abdi itu lebih dari sekedar aspri buat aku. Dia sudah seperti adik aku sendiri. Kami sudah kenal jauh sebelum aku jadi walikota.”
“Tapi ngga mustahil kan kalau dia juga bisa ngekhianatin kamu suatu saat nanti kan, Mas?”
“Jeng, kamu sudah keterlaluan! Aku kenal Abdi dan aku tahu dia ngga bakal ngelakuin itu. kalau dia berniat untuk berkhianat, dia ngga bakal nunggu sampai selama ini. Apapun alasan kamu, aku ngga bisa mecat Abdi titik.”
“Kalau gitu, aku juga ngga bisa hadir di seminar itu.”
“Oke, fine.”
*******************
Hari itu Ajeng mendatangi pasar Kalijaten untuk meninjau keadaan nyata di lapangan. Sama seperti yang digambarkan dalam laporan tentang pasar sayur terbesar di kota Carang Sewu itu, pasar Kalijaten terletak di pinggir jalan utama kota Carang Sewu yang selalu ramai dilalui pengguna jalan terutama pada jam-jam sibuk.
Selain luberan pedagang yang memakan hampir separo badan jalan, posisi pasar Kalijaten juga sangat rawan karena berdekatan dengan perlintasan kereta api. Tempat baru yang disediakan oleh pemerintah kota melalui perusahaan daerah Pasar Raya juga sudah lumayan bersih, tertata dan aman karena terletak di dalam area pasar yang jauh dari perlintasan kereta api dan jalan raya.
Tapi pedagang yang memiliki lapak di luar pasar atau di pinggir jalan menolak untuk pindah dengan alasan akan kehilangan banyak pelanggan. Jadi Ajeng mulai memetakan kelompok-kelompok pedagang yang harus ditanganinya lebih dulu.
Dengan mengenakan pakaian santai dan sandal jepit, Ajeng blusukan ke dalam pasar, membeli sayuran sambil ngobrol santai dengan para pedagang.
“Bu, denger-denger kapan hari ada bentrok sama satpol pp yah?” tanya Ajeng memulai obrolan.
“Oh ya? Jadi ngga ada pemberitahuan sebelumnya?”
“Ada sih. Tapi kan saya ngga mau dipindah ke dalam. Nanti pelanggan saya pada kabur.”
“Kabur kemana, Bu? Kan lebih enak kalau mereka belanjanya di dalam? Lebih aman dan ngga bikin macet.”
“Pembeli kan butuh cepatnya, Neng. Ngapain pake masuk kalau di luar aja bisa.”
“Tapi kalau sampai terjadi kecelakaan gimana?”
“Ya itu sih takdir namanya.” Sahut pedagang lainnya.
“Ibu-ibu, Pak Wali kan sudah sering yah menjelaskan alasan relokasi pasar ini?” tanya Ajeng dengan sangat hati-hati.
“Ngga pernah. Yang datang kesini cuma Pak Wakilnya aja. Sombong sekali walikota itu. Mau mindahkan kita seperti barang dan cuma berani nyuruh anak buahnya.”
__ADS_1
“Iya bener. Dia ngga pernah berani datang kesini. Bisanya cuman nyuruh pesuruh-pesuruhnya. Memangnya kita ini apa? Apa karena kita bukan pejabat makanya dia ngga mau nemuin kita?”
“Kalau Pak Wali datang kesini, apa para pedagang mau pindah ke dalam?”
“Tergantung. Apa dia bisa meyakinkan kita atau cuma pura-pura saja supaya bisa masuk koran.”
“Iya bener itu.”
Ajeng geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari para pedagang.
“Baiklah, terima kasih sayurannya. Saya permisi dulu.”
Lalu tiba-tiba saja seorang copet mengikuti Ajeng dan menarik tasnya. Untung pengawal Ajeng siaga dan langsung berhasil membekuk pencopet itu dengan mudah.
“Ampun Pak! Ampun!” pekik pencopet yang sudah dibekukan itu.
Ajeng masih kaget karena ternyata seorang pengawal diam-diam mengikutinya sampai ke dalam pasar. “Kamu?! Kamu yang waktu itu kan?”
Ajeng ingat persis bahwa pria itu adalah pria yang sama yang membantunya mengatasi Bapak-Bapak yang berbuat kekerasan kepada anaknya di pinggir jalan beberapa waktu yang lalu.
“Saya Tegar, Bu. Pengawal yang dikirim Pak Wira untuk menjaga ibu.”
“Tolong lepasin!” pinta Ajeng.
“Ngga bisa, Bu. Dia sudah hampir membahayakan ibu. Harus dibawa ke kantor polisi.” Tolak Tegar.
“Jangan Pak! Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Anak saya sedang sakit dan menunggu saya di rumah.” Pinta si copet sambil menangis dan memohon.
“Kalau tahu anak Bapak sakit, kenapa malah nyopet?”
“Saya butuh uang untuk berobat anak saya. Sudah dari pagi saya mencari pekerjaan jadi kuli panggul. Tapi tidak satupun pekerjaan yang saya dapat.”
Ajeng memberi isyarat agar pengawalnya membawa pria itu masuk ke dalam mobil.
“Neng, apa dia mau dibawa ke kantor polisi?” tanya salah seorang pedagang.
“Ngga. Saya ingin berkunjung ke rumahnya untuk menjenguk anaknya yang sedang sakit. Permisi.”
__ADS_1
******************