
Ketika bangun keesokan paginya, Bara sudah menunggunya untuk berangkat berbulan madu. Tumpukan koper sudah siap di tepi ranjang dan Bara juga sudah mengenakan pakaian rapinya.
“Buruan mandi. Kita harus segera berangkat!” titah Bara.
Mereka akhirnya pergi dengan mengendarai mobil Bara bersama Dimas. Sepanjang perjalanan, Ajeng hanya celingukan kedepan dan belakang karena sejak pagi tidak melihat adanya pengawal yang mengawal kepergian mereka seperti biasanya.
“Nyari apa sih, Jeng?” tanya Bara
“Kemana perginya para pengawal itu?”
“Kita ini mau bulan madu. Masa iya mereka ikut?” balas Bara santai sambil melepas kacamata hitamnya dan menggantungnya di krah baju.
Meskipun merasa sedikit aneh tapi Ajeng merasa lebih lega sekarang.
“Kenapa? Ngga percaya?”
“Bukan gitu. Aku tahu betul gimana Papa. Ngga mungkin dia bener-bener ngelepasin aku tanpa pengawalan hanya karena alasan bulan madu.”
“Tentu Ajeng. Beliau ngga bakal ngijinin kalau alasannya cuma bulan madu. Tapi lain ceritanya kalau karena kamu sudah jadi istri aku. Memaksakan pengawalan berarti beliau ngga percaya sama aku.”
‘Benar juga. Papa ngga mungkin berani nyurigain Bara dan keluarganya. Rasa saling percaya diantara mereka memiliki nilai yang sangat besar.’ Gumam Ajeng dalam hati.
Mereka tiba di bandara, lalu Bara membawanya masuk ke dalam pesawat yang menuju ke Batang Hulu, bukannya Bandar Sri Begawan.
“Loh kok kita ke Batang Hulu sih? Bukannya mau ke Bandar Sri Begawan?” tanya Ajeng ketika masuk ke pesawat tujuan Batang Hulu.
__ADS_1
***************
Sekitar satu jam kemudian pesawat mendarat dan Dimas langsung membawa mereka menuju mobil yang sudah dipersiapkannya. Ajeng masih saja tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Bara inginkan. Tapi pria itu seolah enggan untuk menjelaskan dan selalu menyuruh Ajeng untuk sabar melihat dan menunggu setiap kali gadis itu protes.
Setelah lama bertanya-tanya, mobil Bara akhirnya berhenti di sebuah dermaga kecil di pinggir kota. Dimas kemudian turun dan membuka bagasi untuk menurunkan sebuah tas ransel besar dan koper untuk Ajeng.
“Ini dimana? Kita mau kemana? Bukannya kamu bilang kita mau ke Sumbiling?” tanya Ajeng bertubi-tubi.
“Sumbiling? Supaya kamu bisa pulang ke rumah kamu di Bandar Sri Begawan dan ditemuin lagi sama papa kamu?”
“Maksud kamu apa sih?”
Sebuah kapal berlabuh dan orang-orang mulai beramai-ramai naik.
“Kapal kamu sudah datang.”
“Apa ini?”
“Tanda pengenal kamu. Menjadi relawan di negara konflik sepertinya terlalu berbahaya. Bukankah sebuah pulau kecil seperti Nusa Beringin lebih aman daripada Palestina?”
Ajeng menatap Bara.
“Cukup, Jeng! Kenapa sih produksi air mata kamu ngga pernah berkurang sedikitpun?” gurau Bara ketika melihat mata Ajeng berkaca-kaca.
Ajeng buru-buru menyeka air matanya. “Aku ngga bisa ninggalin kamu sekarang. Kalau Papa tahu kamu pulang tanpa aku, semuanya akan kacau. Keluarga kamu –“
__ADS_1
“Pergilah! Ini satu-satunya kesempatan kamu. Aku akan tetap pergi ke Sumbiling dan pulang sesuai jadwal. Aku bakal pastiin ngga akan ada lagi orang yang mengejar-ngejar kamu karena mereka tahu bahwa aku adalah penanggung jawab kamu setelah kita menikah.”
“Tapi –“
Bara melihat jam di tangannya.
“Tepat dua puluh empat jam.” Gumam Bara. “Saat ini juga aku ceraikan kamu, Ajeng. Mulai sekarang, kamu bukan istri aku lagi. Kita bercerai dan bukan suami istri lagi.”
“Bara..... “
“Aku akan segera mengurus dokumennya dan mengirimnya kepada kamu. Mungkin butuh waktu agak lama karena situasinya cukup rumit. Tapi aku janji bakal mengembalikan kebebasan kamu, Jeng.”
“Bara –“
“Kapalnya udah mau berangkat. Jangan sampai ketinggalan karena bakal merepotkan kalau aku mesti nganter kamu sambil berenang.” Canda Bara lagi sambil menyerahkan koper ke tangan Ajeng. “Take care, Jeng!”
Ajeng berpaling siap melangkah menyusuri dermaga menuju kapal. Tapi ia kemudian berbalik, meninggalkan kopernya dan memeluk Bara dengan sangat erat sambil menangis.
“Makasih Bara! Aku janji bakal jaga diri dan keep contact.” Ujar Ajeng sambil menunjukkan ponselnya kepada Bara.
Bara hanya bisa mengangguk dan mendorong Ajeng kembali ke dalam kapal sebelum benar-benar tertinggal.
Bara merasakan sesak dan lega sekaligus. Sesak karena ia harus kehilangan istri yang dicintainya padahal baru sehari menikah. Tapi ia juga merasa lega karena melakukan hal yang benar demi orang yang dicintainya itu. Bara masih berdiri di tepi dermaga sambil melambaikan tangan kepada Ajeng.
“Maaf, Mas. Kita harus segera kembali ke bandara.” ujar Dimas membuyarkan lamunan Bara.
__ADS_1
Bara mengenakan lagi kacamata hitamnya lalu siap bertolak menuju Sumbiling, Brunei Darussalam.
***************************