
Kapal berlabuh di dermaga kota, Wira turun bersama Abdi hendak menuju ke toko Boni untuk membicarakan bisnis dengan para anak buahnya yang sudah berkumpul di sana. Tapi Wira tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“Maaf.” Ujar Wira reflek dan pria itu hanya menunduk.
Wira menatap wajahnya karena penasaran dan ia buru-buru membungkuk.
“Maaf, Pak Presiden.”
“Ssssttt!” balas Pak Suryo. “Jadi kamu orang itu?”
Wira masih membungkuk sambil mengangguk. “Saya Prawira Hadinata.”
“Kenapa kamu malah ada di sini? Mana anak saya?”
Wira menegakkan badannya dan menoleh ke arah pulau yang ada di belakangnya untuk menunjukkan keberadaan Ajeng. Tapi ia justru melihat asap yang membumbung tinggi dari dalam pulau.
“Kebakaran!” pekik Wira panik.
Ia bergegas kembali ke perahu dan menjalankan perahu itu seorang diri. Tapi Pak Suryo beserta para pengawalnya dan juga Abdi sudah lebih dulu naik ke dalam perahu itu. Wira kemudian melajukan perahu dengan kecepatan tinggi demi bisa segera tiba di pulau meskipun tetap saja membutuhkan waktu lebih dari lima puluh menit.
Setelah tiba di sana, api mulai bisa dikendalikan. Wira mendatangi lapas yang nyaris terbakar habis itu untuk mencari kebaradaan Ajeng.
“Apa kalian melihat istri saya?” tanya Wira panik.
“Bu Ajeng ada di klinik, Pak.”
Tubuh Pak Suryo lemas seketika. Mereka langsung pergi ke klinik dan mendapati seseorang terbaring dengan perban di seluruh tubuh dan wajahnya. Pak Suryo nyaris pingsan melihatnya. Ia terus saja memegangi dadanya yang terasa sangat nyilu dan sesak.
“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya salah seorang ajudan kepada Suryo. Dan pria itu hanya bisa mengangguk.
“Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Wira panik ketika melihat dokter Husein datang.
“Kondisinya baik-baik saja. Ia hanya mengalami beberapa luka bakar di tangan dan kesulitan bernafas karena terlalu banyak menghirup asap. Tapi kami sudah menanganinya dan sekarang ia sedang beristirahat.” Jelas dr. Husein.
“Lalu ini?”
“Ini adalah orang yang berusaha Ajeng selamatkan. Ia mengalami luka bakar serius karena tertimpa reruntuhan kayu yang terbakar. Untung saja dia mendorong Ajeng keluar lebih dulu, kalau tidak mungkin Ajeng juga akan mengalami hal yang sama.”
“Dimana anak saya sekarang?” sela Pak Suryo.
“Ada di sana.” Jawab dr. Husein sambil menunjuk ruangan yang ada di seberang.
__ADS_1
Mereka bergegas kesana dan melihat Ajeng sedang terbaring dengan menggunakan alat bantu pernafasan dan tangan yang dibebat perban tebal berwarba putih.
“Jeng! Kamu ngga papa?” bisik Wira sambil menangis. “Jeng!”
Ajeng membuka matanya perlahan.
“Kamu sudah bangun?”
Ajeng mengangguk. “Kok Mas Wira ada di sini?”
Lalu Pak Suryo masuk dan Ajeng langsung menangis begitu melihat siapa yang ada di hadapannya. Pria tambun itu menghampiri ranjang Ajeng dan menyapanya.
“Gimana kabar kamu?”
Ajeng hanya bisa menjawabnya dengan air mata. Ia berusaha membuka alat pernafasan yang dipakainya agar bisa leluasa bicara dengan ayahnya itu tapi Suryo lebih dulu melarangnya.
“Papa tahu kamu pasti selamat. Kamu anak Papa yang paling kuat dan pemberani.” Ujar Suryo sambil mengusap air mata di balik kacamatanya.
Ajeng kembali mengangguk dan Suryo langsung memeluknya. “Maafin Papa, Jeng. Semua ini gara-gara Papa.”
Ajeng menggeleng. “Ini kecelakaan, Pa.”
******************
“Papa belum pulang?”
Pak Suryo menggeleng. “Masih ada pekerjaan yang harus papa tuntaskan di sini.”
“Pekerjaan?”
“Wir, mas kawin apa yang mau kamu kasih untuk anak saya?” todong Pak Suryo.
“Sekarang?” tanya Wira kaget.
Ia meraba seluruh tubuhnya dan tidak memiliki apapun karena memang sangat mendadak. Ia kemudian merogoh saku celananya tapi tidak menemukan apapun di sana karena ia memang tidak mempersiapkan apapun sebelumnya.
Ketika meliha Wira mengeluarkan tangan kosongnya dari dalam saku, Suryo justru memberinya sebuah cincin, cincin pernikahan kontrak yang Suryo ambil dari jari Ajeng saat putri kesayangannya itu koma.
“Baiklah, Prawira Hadinata saya nikah dan kawinkan kamu dengan anak saya Diah Laksmita Rahajeng bin Suryo Diningrat dengan mas kawin sebuah cincin emas dibayar tunai.” Ujar Pak Suryo sambil menjabat tangan Wira di hadapan Ajeng, Abdi, ajudannya, dr. Husein dan Dara.
“Saya terima nikah dan kawinnya Diah Laksmita Rahajeng bin Suryo Diningrat dengan mas kawin sebuah cincin emas dibayar tunai.” Jawab Wira tegas dan mantap.
__ADS_1
“Sah!!!”
Wira langsung memeluk Ajeng yang sudah lebih dulu menangis karena terharu. Ajeng kemudian melepaskan pelukan Wira dan beralih ke pelukan papanya.
“Makasih, Pa.” hanya itu yang mampu Ajeng katakan kepada pria itu.
“Sekarang pekerjaan Papa di sini sudah beres. Papa harus segera pulang untuk mengurus negara.”
“Tunggu, Pa. Ajeng mau nitip sesuatu sama Papa.” Ajeng kemudian membisikkan sesuatu kepada Wira dan pria itu bergegas pergi.
Tak lama kemudian, Wira kembali dengan sebuah dokumen di tangannya. Ajeng mengambil dokumen itu dan menyerahkannya kepada Pak Suryo.
“Mas Wira sudah menulis ini dan juga sudah mengirimnya ke Pemprov Jala Brata. Tapi sampai detik inipun belum ada tanggapan sama sekali. Padahal Papa lihat sendiri kan? Jumlah warga di sini sudah sangat banyak, tapi fasilitas dari pemerintah yang tersedia hanya pos penjagaan dan klinik ini. Kalau kami tidak minta pasokan ke pusat kesehatan di kota, Ajeng mungkin ngga akan bisa diobati dengan baik seperti ini karena keterbatasan obat dan alat.”
“Papa ngerti. Kamu tenang aja. Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah.” Sahut Pak Suryo sambil menerima berkas pemberian Ajeng dan menyerahkannya kepada Ajudannya.
Suryo kembali memeluk Ajeng dan berpamitan untuk kembali pulang.
********************
Wira menemani Pak Suryo kembali ke kapal. Mereka melintasi tempat penyulingan air juga rumah dan sekolah darurat yang Wira bangun bersama Ajeng. Suryo mendengarkan penjelasan Wira tentang tempat-tempat itu dengan seksama. Juga tentang berbagai keluhan dan kesulitan yang dialami warga terkait keterbatasan akses dan birokrasi.
“Jadi kalian yang membangun sekolah ini?”
Wira mengangguk. “Ajeng tidak tahan melihat anak-anak dan orang tua yang tidak bisa membaca dan menulis. Dia meminta saya membuatkan papan tulis, lalu meja dan atap ini untuk tempatnya mengajar. Dia juga membuat papan nama dan status pasien di klinik tadi.”
“Kenapa kamu tidak membawanya pergi dari sini dan membiarkan dia hidup seperti ini?”
“Ajeng menolak. Dia mau kami tetap bersembunyi di sini sampai anda terpilih kembali menjadi presiden.”
Suryo membuang mukanya karena tidak ingin Wira melihat matanya yang berkaca-kaca.
“Lalu bagaimana dengan kamu dan keluarga kamu?”
“Ajeng adalah hidup saya. Tidak peduli dimanapun, asalkan bersamanya, saya akan tetap tinggal. Dan saya akan pergi kemanapun jika dia memintanya.”
“Papa kamu?”
“Kami tidak ingin mencampuri pencalonan Anda dan Papa saya. Bagi kami, Anda dan Papa saya tetap orang tua kami, menang ataupun kalah.”
Suryo melangkahkan kakinya naik ke atas kapal tanpa sepatah katapun. Dan Wira langsung kembali ke klinik setelah kapal yang Suryo tumpangi berlayar menjauh.
__ADS_1
*******************************