8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pria Dungu


__ADS_3

Malam itu juga Bara memesan tiket menuju Batang Hulu lalu menyewa mobil mewah menuju kota kecil bernama Carang Sewu. Ia melewati sebuah perbatasan yang dihias dengan sangat indah menggunakan batang bambu dan bunga-bunga hidup beraneka warna.


"Ini pasti idenya Ajeng. Cuma dia yang tahu betapa ayahnya menyukai pohon bambu." gumam Bara.


Pos penjagaan juga dibuat sangat indah dan nyaman dengan aneka hiasan dari bunga dan tumbuhan hidup lainnya. Ia kemudian mencari informasi tentang seorang pria bernama Prawira Hadinata dan orang-orang langsung menyuruhnya ke kantor polisi.


Seorang pria berperawakan gagah dan penuh kharisma datang menemui Bara yang sudah menunggunya di ruang tunggu.


“Selamat pagi.” sapa Bara sambil mengulurkan tangannya.


“Pagi, anda siapa?”


“Saya Bara. Menteri kebudayaan dan pariwisata.”


“Saya bukan walikota lagi sekarang. Untuk apa anda menemui saya?”


“Seseorang mengatakan bahwa saya akan mengetahui siapa dan bagaimana Anda setelah bertemu langsung dengan Anda.”


“Siapa orang yang anda maksud?”


“Apa itu penting? Yang penting saya sudah bertemu dengan anda sekarang.”

__ADS_1


“Ajeng?”


Bara kaget sesaat. Ia tidak menduga bahwa Wira akan tahu hanya dengan petunjuk sesederhana itu.


“Bagaimana keadaan Ajeng? Apa dia selamat? Apa dia sudah sadar? Apa dia tidak mengeluh kesakitan? Apa dia mau meminum obatnya?” tanya Wira bertubi-tubi.


“Tunggu! Tapi kenapa Anda menanyakan hal itu kepada saya?”


“Saya hanya berharap seseorang bisa menjawabnya agar saya merasa lebih baik.”


“Untuk apa memikirkan orang yang tidak ada di dekat Anda. Bukankah Anda sebaiknya mulai memikirkan nasib dan masa depan anda sendiri?”


“Saya tidak peduli apa yang akan terjadi pada saya. Saya hanya ingin memastikan bahwa Ajeng sehat dan bahagia. Itu jauh lebih penting.”


Wira berhenti bicara. “Maaf, sepertinya anda menemui orang yang salah.”


Wira bangun lalu berpaling pergi meninggalkan Bara yang berusaha menipu dan memberinya harapan palsu.


“Oke. Saya tunangannya Ajeng dan sebentar lagi kami akan segera menikah.”


Wira kembali duduk di kursinya tanpa diminta. “Jadi dia selamat?”

__ADS_1


Bara sudah membayangkan pria itu akan patah hati dan bunuh diri setelah mendengar bahwa Ajeng akan menikahinya. Tapi yang ada, dia malah terlihat sangat bahagia hanya karena mendengar bahwa gadis itu selamat dari maut.


“Ya. Dia selamat dan sedang dalam masa penyembuhan.”


“Syukurlah itu sudah cukup. Terima kasih karena sudah jauh-jauh datang kemari. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar. Pastikan dia menjadi wanita yang paling berbahagia!”


“Apa anda baik-baik saja?”


Wira mengangguk mantap meskipun matanya mulai berkaca-kaca. “Impian terbesar saya hanya ingin melihat dia bahagia. Tidak peduli dengan siapapun dan dengan cara apapun.”


“Apa anda gila? Anda seorang walikota, masa depan anda cerah dan anda memilih berada di sini demi seorang gadis?”


“Bukankah anda sudah dengar kalau kebahagiannyalah impian terbesar saya. Toh saya memang tidak pernah menginginkan jabatan apapun. Saya sudah berbuat kesalahan dengan mencintai dan berkeinginan memiliki Ajeng. Jadi saya bersedia menerima hukuman ini dengan lapang dada."


“Apa ini yang kalian sebut dengan cinta? Menjadikan kalian dua orang bodoh bak kerbau dicocok hidung. Apa anda sadar bahwa anda didakwa atas tuduhan pembunuhan? Bukan perzinahan atau perbuatan tidak menyenangkan. Tapi pembunuhan. Anda bisa saja dihukum penjara seumur hidup.” jelas Bara yang berniat mengingatkan kalau-kalau saja Wira lupa akan hukuman yang sudah menunggunya di depan sana.


Tapi Wira terlihat sama sekali tidak peduli dengan peringatan Bara itu.


“Dengar, Ajeng tidak bisa minum minuman dingin. Jadi jangan memberinya es terlalu banyak atau dia akan mengalami flu berat yang susah disembuhkan. Dia juga sangat menyukai edelweis. Pilihlah dataran tinggi sebagai tempat bulan madu kalian. Ah, satu lagi. Dia ingin memiliki rumah yang punya meja makan kecil di halaman yang dikelilingi taman. Pastikan kamu memilih rumah yang memiliki taman untuk kalian berdua!” cerocos Wira sebelum benar-benar pergi meninggalkan Bara yang masih tertegun dengan apa yang baru saja dialami dan didengarnya.


"Dasar gila!"

__ADS_1


*********************************


__ADS_2