8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Black Campaign


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke Batang Hulu, rumah keluarga Wira, Ajeng hanya bisa menangis sambil memegangi kertas yang ayahnya berikan kepadanya. Wira kembali menggenggam tangan Ajeng untuk menenangkannya.


“Papa sudah benar-benar mutusin hubungannya sama aku, Mas.” Gumam Ajeng di tengah isak tangisnya.


“Papa pasti ngga bermaksut seperti itu, sayang. Mungkin untuk saat ini beliau hanya sedang ingin fokus pada pemilu. Dan aku rasa memang untuk saat ini, itu adalah pilihan terbaik. Jika semua permasalah kita terungkap ke publik, papa kamu bakal menghadapi masa yang sulit."


Ajeng menggeleng. “Aku tahu. Ini adalah pilihan aku. Bukan salah Papa.”


“Hubungan darah diantara ayah dan anak tidak akan pernah bisa terputus. Kita hanya perlu bersabar dan menunggu saat yang tepat. Masalah keluarga kita adalah isu yang sangat sensitif dan complicated. apalagi pada saat-saat kampanye seperti ini."


Ajeng kemudian menyeka air matanya dan menunjukkan isi kertas yang Suryo serahkan kepadanya. "Ini adalah tempat dimana ibu aku dimakamin.”


Wira menepikan mobilnya dan langsung memeluk tubuh Ajeng erat. Ia ingin istrinya itu berbagi duka dengannya.


“Kita akan kesana setelah kamu lebih tenang dan siap. Oke?”


Ajeng mengangguk dan kembali memeluk Wira untuk menumpahkan rasa sesak yang masih tersisa di dadanya.


*****************


Setelah menginap semalam di rumah orang tua Wira di Batang Hulu, Ajeng dan Wira kembali didesak untuk tinggal lebih lama oleh Prabu. Karena sudah lama tidak bertemu, mereka akhirnya setuju dan memutuskan untuk tinggal di Batang Hulu sampai pemilu selesai digelar minggu depan. Mereka sebenarnya ingin segera kembali ke Nusa Beringin agar tidak terpengaruh dengan segala hal tentang pemilu. Tapi Prabu tetap saja bersikeras memaksa mereka untuk tinggal. Jadi mereka tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Lagi pula, Ajeng jadi punya kesempatan untuk mengenal lebih dekat keluarga suaminya itu.


Malam itu mereka sedang menonton siaran berita bersama di ruang keluarga. Tidak biasanya Suryo mengajak Wira nonton televisi bersama. Selama ini, hubungan mereka terbilang sangat dingin sebagai ayah dan anak. Mereka jarang sepemikiran apalagi duduk bersama berlama-lama seperti malam itu.


[Headline News, Suryo Diningrat, calon presiden, dikabarkan terlibat dalam upaya penjualan Pulau Nusa Beringin kepada pihak asing. Berita ini disenyalir adanya dugaan bahwa Suryo Diningrat menyetujui proses pengembangan dan pembangunan pulau pengasingan bersama investor dari Jepang. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nusa Beringin adalah salah satu dari pulau pengasingan yang menurut undang-undang termasuk dalam wilayah yang tidak boleh dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah -]


“Apa?! Ngga mungkin. Itu pasti salah paham. Papa ngga mungkin menjual Nusa Beringin.” Gumam Ajeng yang bergegas pergi ke kamarnya.


“Pa! ada apa ini?” tanya Wira setelah Ajeng masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Bukankan dia pantas mendapatkan balasan seperti ini?”


“Tapi kenapa, Pa? kenapa Papa menggunakan cara kotor seperti ini di saat-saat genting seperti ini?”


“Apa kamu pikir Papa ngga tahu kalau pria tua itu yang menjebak dan memenjarakan kamu? Kamu pikir papa bakal diam aja ngelihat anak papa diperlakukan tidak adil seperti itu?”


“Tapi Pa, kenapa harus sekarang? Apa Papa bener-bener pengen menang dengan cara seperti ini?”


“Papa ngga peduli meskipun kamu bilang Papa licik dan curang. Papa hanya ingin menunjukkan bahwa ada masanya kekuasaan yang dia miliki bahkan tidak akan mampu melindungi dirinya sendiri. Sekarang kita lihat apa yang bisa dia lakukan dengan kekuasaannya itu.”


“Tapi Pa, bukankah sangat berlebihan membuat tuduhan seperti itu? Pak Suryo tidak akan pernah menjual pulau itu.”


“Bukan itu intinya. Dia, orang yang seharusnya paling patuh tapi justru telah melanggar aturan undang-undang tanpa alasan. Masyarakat harus tahu bahwa pengkhianat seperti itu tidak layak untuk dipilih kembali.”


"Pa, ada yang mau Wira sampein Papa. Wira pengen papa bersaing secara sehat kali ini karena Pak Suryo, saingan berat papa itu adalah ayah dari Ajeng, istri Wira, Pa."


“Apa?!”


“Apa?!”


“Beliau juga menjadikan Nusa Beringin menjadi sebuah desa yang diakui bukan untuk menjual pulau itu. Melainkan karena itu adalah permintaan putri tercintanya yang memilih tinggal di sana bersama pria pengecut yang dipilihnya.”


Prabu jatuh terduduk di sofa.


“Beliau mungkin memang melanggar undang-undang dengan membangun pulau yang seharusnya dijadikan tempat paling menyeramkan di dunia bagi para narapidana. Tapi apa papa tahu kalau disana ada ratusan kepala keluarga yang tinggal dan menggantungkan hidupnya pada pulau itu? mereka bukan penjahat tapi juga tidak punya tempat lain untuk kembali pulang. Mereka terjebak di antara hidup sulit dan mati tanpa kejelasan. Tapi Pa, mereka semua adalah warga negara indonesia, sama seperti kita. Kalau bukan beliau yang mengabulkan permintaan dan keprihatinan Ajeng, apakah Papa atau presiden lainnya akan mampu mewujudkan keinginan mulia itu? Wira ngga yakin.”


Wira menghela nafas panjang dan dalam. “Wira hanya ingin Papa tahu bahwa Pak Suryo dan Ajeng, mereka adalah orang-orang yang mulia dan berani mengambil resiko demi kelayakan hidup orang lain. Wira cukup kecewa karena Papa memanfaatkan kelemahan mereka itu sebagai senjata untuk memenangi pemilu kali ini. Tapi toh semua sudah terjadi. Wira hanya berharap Papa tidak gegabah dan menggunakan trik-trik licik seperti ini lagi."


Wira kemudian kembali ke kamar untuk memeriksa keadaan Ajeng.

__ADS_1


“Kamu lagi apa Jeng?”


“Mas, Papa udah ngeblokir nomer aku.” Ujar Ajeng dengan wajah cemas bercampur kecewa. “Aku harus bicara sama Papa. Ini pasti pukulan yang sangat berat buat Papa, Mas. Papa –“


Wira memeluk Ajeng erat. “Aku tahu Papa kamu ngga mungkin menjual pulau itu. Beliau juga pasti tahu bahwa undang-undang tidak mengijinkan pulau pengasingan untuk dihuni dan dibangun. Tapi toh Beliau tetap melakukan itu, menyetujui pembentukan Desa Nusa Beringin dan membuatnya jadi maju dan berkembang seperti sekarang demi kamu.”


“Karena itu aku harus bicara sama Papa, Mas. Aku ngga mau Papa gagal memenangkan pemilu hanya gara-gara aku.”


“Tapi ini bukan salah kamu, sayang.”


“Kalau aja waktu itu aku ngga minta Papa untuk menyetujui pembentukan desa itu –“


Wira mengeratkan pelukannya. “Kita akan mencari cara untuk bicara dengan Papa kamu.”


*******************


Setelah berkali-kali mencoba, Ajeng akhirnya berhasil menghibungi Alvin, kakak keduanya yang baru saja kembali ke ibukota.


"Kak, gimana kabar papa?" tanya Ajeng di ujing telpon.


"Baik, Jeng. Sepertinya papa sudah memprediksi bahwa hal seperti ini akan terjadi. Papa sudah mengajukan undang-undang pemekaran wilayah pulau terluar sejak awal menjabat sebagai presiden. Tapi sampai saat ini, usulan itu belum juga disetujui para anggota legeslatif. Kakak juga ngga nyangka kalau Papa bakal mengambil resiko seperti itu."


"Apa Papa masih punya harapan untuk menang, kak?"


"Kakak ngga yakin soal itu, Jeng. Kita lihat aja perkembangannya. Kakak bakal kabarin kamu kalau sudah ada update terbaru yah? Jangan khawatir. Papa bukan orang selemah itu."


'Ka Alvin benar. Papa pasti bisa mengatasi krisis seperti ini. Meskipun peluangnya sangat kecil. Tapi Ajeng harap papa bisa.'


************************

__ADS_1


__ADS_2