
Wira kembali keluar setelah memastikan Ajeng tidur dengan pulas malam itu. Ia kemudian membantu Dito membersihkan sisa-sisa arang, ikan dan bongkahan kayu yang belum terpakai. Dito membiarkan api bekas pemanggangan tetap menyala agar Wira tidak kedinginan. Karena ia tidak melihat tanda-tanda bahwa pria itu akan segera kembali ke dalam kamarnya lagi.
“Belum tidur, Pak?” tanya Dito basa-basi.
“Belum ngantuk.”
Selesai membereskan semuanya, Dito duduk di kursi kosong di samping Wira sambil memandangi perapian di tengah hempasan angin laut yang meniup api dan membuatnya menari-nari kesana kemari.
“Apa kamu senang bekerja di tempat baru kamu?” tanya Wira membuka obrolan.
“Heem, setidaknya lebih baik daripada terpaksa mencatat buku nikah tanpa identitas.”
Wira menoleh ke arah Dito dan mengamati wajah itu beberapa saat. “Apa maksut kamu?”
Dito tersenyum, “Bapak pasti tidak ingat sama saya. Saya adalah petugas yang datang dan mencatat buku pernikahan anda hari itu.”
Wira terbelalak.
“Itu adalah tugas terakhir yang harus saya selesaikan sebelum pindah ke humas. Dan mungkin jadi salah satu alasan juga kenapa saya berada di divisi humas sekarang.”
Wira mulai kelagapan. Tapi Dito langsung tanggap dan menyadarinya.
“Tapi Pak Wira tenang saja. Saya hanya petugas yang melaksanakan perintah atasan. Saya juga tidak tertarik dengan urusan orang lain.”
Wira akhirnya bisa bernafas lega. Meskipun ia tidak yakin bahwa Dito benar-benar tidak punya niat terselubung dan mungkin membahayakannya suatu saat nanti.
“Bu Ajeng terlihat lebih baik dan bahagia daripada pertama kali saya melihat beliau.” Gumam Dito. “Bapak pasti memperlakukan beliau dengan baik.”
Wira menggeleng perlahan. “Saya hanya memberinya kesempatan dan ia memanfaatkannya dengan sangat baik.”
“Saya sudah mendengar desas-desus tentang kejadian di air terjun tadi pagi dari warga dan para pengunjung yang kebetulan saya temui hari ini.”
__ADS_1
“Apa mereka tahu siapa kami?”
Dito menggeleng ragu. “Tidak banyak yang menyebutkan siapa Bapak, mungkin mereka tidak tahu banyak tentang itu. Tapi kabar tentang perselingkuhan malah santer terdengar dan karena Carang Sewu bukan kota besar, saya khawatir kabar miring itu sampai juga ke kantor.”
“Mereka tidak akan bisa menjatuhkan saya hanya dengan berita murahan seperti itu.” sanggah Wira.
“Bukan soal Bapak. Tapi Bu Ajeng. Dia tidak boleh terlibat dalam skandal apapun.”
Wira menatap Dito tajam dengan kilatan api amarah di matanya. Menyadari Wira masih terbawa emosi karena kejadian dengan Tegar, Dito buru-buru meralat.
“Karena Bu Ajeng adalah istri Bapak. Orang yang akan menerima banyak perhatian dan kritikan. Sebagai orang biasa yang baru dalam dunia politik seperti Bapak, saya khawatir beliau akan merasa tertekan.”
“Saya akan menjaga istri saya dengan baik. Jadi kamu ngga perlu khawatir soal istri saya.”
“Baik Pak. Saya minta maaf. Kalau begitu, saya permisi masuk dulu.”
*********************
Karena terlalu banyak merenung dan melamun, Wira akhirnya tertidur di kursi di depan perapian. Nenek pemilik penginapan yang kebetulan hendak menutup pintu melihat Wira masih duduk di luar. Jadi ia membawakan selimut dan menutupkannya ke tubuh Wira.
Ketika terbangun tengah malam, Ajeng tidak menemukan keberadaan Wira. Jadi ia keluar untuk mencari Wira dan akhirnya menemukan pria itu tengah tertidur sambil duduk di depan perapian yang masih menyala.
Ajeng duduk di kursi kosong yang ditinggalkan Dito, mengamati raut wajah Wira yang tengah tertidur pulas. Ia kembali memikirkan kenapa ia masih berada di sana setelah mendapatkan semua yang diinginkannya. Kebebasan, petualangan dan kebahagiaan yang diimpikannya selama ini.
Meskipun belum sempurna, tapi Ajeng sudah merasa puas dengan semua yang dilaluinya belakangan ini. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika pada hari itu ia tidak bertemu dengan pria baik seperti Wira. Walaupun terasa misterius dan dingin, tapi pria itu selalu menepati janjinya kepada Ajeng. Ia juga tidak pernah membiarkan Ajeng melalui kesulitan seorang diri meskipun ia mungkin sama sekali tidak tahu siapa Ajeng sebenarnya.
Wira menggeliat karena udara dingin mulai merasuk ke tulangnya. Dan Ajeng berpura-pura seolah baru saja tiba untuk mencari Wira.
“Dicariin kemana-mana malah tidur disini.”
“Kamu kenapa bangun lagi, Jeng? Perlu sesuatu?”
__ADS_1
“Dasar mental pelayan!” ledek Ajeng.
Dan tampaknya Wira tidak keberatan dengan julukan itu. Karena sejak neneknya meninggal, ia sudah terbiasa menjadi budak. Budak ayahnya, budak mantan istrinya dan sekarang budak negara.
“Ayo masuk! Di sini dingin.” Ajak Ajeng.
“Kamu masuk duluan aja. Nanti aku tidur di lobi.”
“Mas, aku tahu kita orang yang taat berkomitmen. Tapi ini keadaan darurat, ngga ada lagi tempat tidur tersisa. Jadi ngga masalah kita berbagi kamar. Toh ngga akan terjadi apa-apa.”
“Oke. Ayo masuk!”
Mereka masuk dan menaiki tangga menuju kamar Ajeng. Tapi saat hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba saja si nenek datang dan menghampiri mereka sambil membawa kasur lipat, bantal dan selimut.
“Masih ada tempat kosong di sini.” Ujar si nenek kepada Wira sambil menunjuk ruang kosong di lantai di depan kamar Ajeng.
“Nenek nyuruh saya tidur di sini?” tanya Wira nyaris tidak percaya.
“Kenapa? Takut masuk angin? Masih muda kok penyakitan.”
Ego Wira mulai naik dan ia siap membantah pernyataan si nenek tapi Ajeng lebih dulu mencegahnya, berdiri di depannya dan menghalangi tubuh Wira dengan tubuhnya agar si nenek tidak lagi bisa mengintimidasi Wira.
“Terima kasih atas perhatiannya, Nek.” Ujar Ajeng sambil mengambil kasur lipat, bantal dan selimut dari tangan nenek. “Tapi dia suami saya dan kami akan tidur bersama di dalam.”
Ajeng kemudian meninggalkan si nenek dan mendorong tubuh Wira masuk ke dalam kamar sambil membawa semua perkakas pemberian nenek.
“Kenapa sih tuh nenek-nenek. Kayanya ngga suka banget sama aku. Dari tadi cari masalah mulu.” Gerutu Wira kesal.
“Ssssst!!!! Jangan keras-keras! Nanti kedengeran.” Ajeng berniat menyerahkan semua barang pemberian nenek kepada Wira yang sudah duduk di tepi ranjang. Tapi Ajeng tidak sengaja menginjak ujung selimut sehingga membuatnya terpeleset dan jatuh ke pangkuan Wira dengan posisi tubuh menghadap ke arah Wira.
Keduanya membeku beberapa detik sebelum Ajeng sadar dan buru-buru menjauh lalu naik ke tempat tidurnya. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut demi menyembunyikan debaran jantungnya yang hampir meledak. Wajahnya kembali menghangat dan senyumnya makin mengembang indah.
__ADS_1
Begitu juga dengan Wira. Hatinya yang selama ini selalu terasa sakit setiap kali berdekatan dengan wanita lain yang membuatnya mengingat Monica, tiba-tiba saja merasa senang dan tenang ketika berada di dekat Ajeng. Ia juga tidak bisa berhenti bersikap bodoh dan selalu lebih mementingkan Ajeng daripada pekerjaan dan dirinya sendiri padahal sama sekali tidak tahu siapa gadis itu sebenarnya. Tapi baginya, Ajeng adalah kebahagian yang tidak ingin lagi ia lepaskan begitu saja.
******************************