
Ketika terbangun, Wira mendapati lampu kamar sudah menyala dan langit di luar sana sudah mulai gelap. Wira menengok jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Wira bangun dan berjalan mendekati jendela kaca untuk melihat keadaan di luar sana.
Meskipun tak terlihat jelas, tapi Wira mendengarkan deburan ombak yang samar-samar menyapa telinganya, daun kelapa melambai-lambai karena terpaan angin laut malam dan suara tawa riang yang terdengar dari bawah sana.
Wira mendongak dan melihat Ajeng tengah berseda-gurau sambil membakar ikan di depan penginapan bersama seorang pria muda. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Wira bahkan belum pernah melihat Ajeng tertawa seriang dan selepas itu saat bersamanya.
Karena penasaran, Wira turun untuk menghampiri mereka.
“Udah bangun, Mas?” sapa Ajeng ketika melihat Wira.
Gadis itu kembali ngobrol dan tertawa-tawa bersama pria muda itu.
“Sini Mas!” Ajeng meletakkan kipas yang dipakainya untuk mengipasi pemanggangan ikan lalu menghampiri dan mengajak Wira duduk di dekat pemanggangan. “Kenalin, ini Dito, anak buahnya Mas Wira.”
Dito menjabat tangan Wira dengan sopan. “Dito, Pak.”
“Anak buah?” tanya Wira bingung.
Masih dengan wajah sumringah Ajeng menjelaskan, “Dito ini cucunya kakek nenek pemilik penginapan ini dan kebetulan dia juga pegawai baru di bagian humas dan protokolernya Pemkot.”
“Humas?”
“Iya, Pak. Saya baru dua minggu ini bertugas di subbag penyiaran menggantikan Pak Sahir yang dimutasi ke Dinas Pertanian.”
“Oh, jadi kamu wartawan baru itu?”
“Benar, Pak. Maaf karena saya belum sempat menyapa Bapak dan memperkenalkan diri secara resmi.”
“Kebetulan sekali yah? Kita bisa ketemu disini.”
“Dito, ikannya udah mateng nih!” panggil Ajeng dan pemuda itu langsung berlari menghampiri Ajeng, mengangkat ikan yang mereka panggang lalu meletakkannya di piring yang sudah dilapisi daun pisang.
__ADS_1
Ajeng terlihat sangat senang karena berhasil menyelesaikan misi dengan ikan pertamanya. Sekarang ia hendak melanjutkan dengan ikan kedua tapi takut untuk menyentuh ikan yang masih mentah. Jadi Dito mengambilkannya untuk Ajeng dan menggoda Ajeng dengan mengarahkan wajah ikan mentah itu kepada Ajeng. Ajeng menjauh sambil tertawa riang dan memukuli lengan Dito yang terus saja menggodanya.
Wira tidak tahu kalau Ajeng memang semudah itu bergaul dengan orang asing. Bagaimana bisa ia langsung memanggil Dito hanya dengan nama padahal tahu bahwa mereka rekan kerja dan Dito adalah bawahannya dan Ajeng adalah atasan Dito dan bahwa ia ada disana tapi seolah tak seorangpun yang menghiraukannya.
“Hem..hem...” dehem Wira.
Tiba-tiba saja suasana menjadi sepi. Tawa Ajeng dan Dito tiba-tiba saja terhenti mendengar deheman Wira. Keduanya saling pandang tidak bisa memahami arti dari suara singkat yang keluar dari tenggorokan Wira itu.
“Mas Wira mau coba bakar ikannya?” tanya Ajeng mencairkan kebekuan di antara mereka.
Wira menghampiri Ajeng dan mengambil kipas yang Ajeng sodorkan kepadanya. Ajeng kemudian mengajarinya cara mengipas, mengoleskan bumbu dan mengetahui tingkat kematangan persis seperti yang Dito ajarkan kepadanya sebelumnya.
Dito kemudian menantang Wira untuk memilih dan mengambil ikan dengan tangannya sendiri. Tanpa pikir panjang, Wira langsung memasukkan tangannya ke dalam kotak es dan betapa kagetnya dia ketika tahu bahwa Dito ternyata sengaja menyiapkan ikan yang masih hidup di dalam kotak.
Sehingga Wira terlonjak kaget dan menjadi bahan tertawaan mereka. Wira kemudian mulai ikut larut dalam keriangan mereka berdua. Ketiganya mulai terlihat akrab satu sama lain, tertawa bersama dan berbagi kejahilan tanpa menyadari bahwa pasangan tua pemilik penginapan sedang mengamati mereka bertiga dari dalam penginapan.
*************
Dito ternyata adalah sosok yang sangat menyenangkan. Meskipun awalnya Wira canggung terhadapnya, tapi pemuda itu berhasil merobohkan benteng pertahan Wira yang kokoh tak tertandingi. Pemuda bertubuh kurus itu membawakan wedang jahe hangat yang rasanya sangat pas dinikmati di tengah-tengah udara dingin tepi pantai malam itu.
“Jahenya jahe emprit yang dibakar dulu terus direbus pake gula aren di atas tungku arang.” Jelas Dito.
“Oh ya, tadi Mas Wira sempat sakit perut gara-gara minum kopi. Emang ngga papa minum beginian?”
“Seharusnya sih ngga papa. Emangnya Pak Wira ngga bisa minum kopi juga?” tanya Dito senang.
“Juga?”
“Saya juga ngga suka minum kopi.”
“Oh ya?” Wira terlihat sangat senang mengetahui ada pria lain yang sama payahnya dengan dirinya. Tapi ia merasa sedikit lega karena itu artinya Dito juga tidak akan masuk dalam daftar teman ngopi Ajeng.
__ADS_1
Dito kemudian menceritakan bahwa kakek dan neneknya adalah penggemar kopi hitam asli. Mereka bahkan membuat kopi sendiri dan menjadikan kopi minuman biasa seperti air mineral saking suka dan seringnya mereka minum. Tidak hanya itu, kakek Dito bahkan lebih ekstrim lagi karena tidak terlalu menyukai rasa manis. Jadi beliau selalu minum kopi pahit yang kental seolah sedang meminum susu yang nikmat.
“Ngomong-ngomong, kamu tinggal disini?” tanya Wira tiba-tiba.
“Dulu iya tapi sekarang ngga karena saya kos di dekat kantor sejak di pindah ke balai kota.”
“Penginapan ini terlihat tetap bagus dan nyaman meskipun kelihatannya sudah cukup tua.” Celetuk Wira.
“Heem, bener. Kakek saya membangun penginapan ini saat masih muda. Katanya sih dulu penginapan ini sangat terkenal dan sering didatangi pejabat-pejabat tinggi. Tapi sejak pembangunan hotel besar-besaran, penginapan kami mulai sepi. Terlebih lagi sejak jalur transportasi umum menuju kemari diputus dan dialihkan ke jalur lain.”
“Kenapa diputus? Ini kan potensi wisata yang luar biasa. Ada air terjun di dekat pantai. Pemandangannya juga indah. Ada pasar pagi yang khas dan menarik bagi para wisatawan.
“Dulu kabarnya banyak tindak kejahatan, pembegalan dan orang hilang di daerah ini. Karena masuk zona merah, pemerintah berencana mengisolir tempat ini untuk sementara waktu. Tapi tiba-tiba saja krisis moneter terjadi, pemerintahan kacau-balau dan masalah ini jadi tertimbun di dasar.”
“Waw! Saya ngga nyangka Pak Wira tahu sebanyak itu tentang sejarah tempat ini.” Puji Dito yang lebih terdengar seperti menyindir.
“Apa pantas menyindir walikota yang mengenal wilayahnya sendiri seperti itu?” balas Wira.
“Bukan seperti itu maksut saya, Pak. Waktu masih di Dinas Kependudukan, saya banyak mendengar cerita kalau Pak Wira ini bidak yang diimpor dari kota untuk menduduki kursi utama di teater Carang Sewu. Orangnya sombong, tidak perhatian, acuh terhadap warga dan kotanya, juga tidak bisa bekerja dengan baik alias beban. Tapi mendengar Bapak bercerita seperti tadi, saya rasa tidak semua yang mereka katakan itu benar.” Kilah Dito meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.
Wira hanya tersenyum kecut mendengar penilaian yang selalu saja ia dengarnya dari orang lain selama ini.
“Bukan tidak semua, tapi memang semua yang mereka katakan itu salah.” Koreksi Ajeng. “Dia adalah orang yang bekerja paling awal dan pulang kerja paling akhir, memiliki waktu istirahat paling sedikit dan beban kerja paling berat, dia juga orang yang tidak pernah bisa tidak bicara soal pekerjaan, bahkan saat membantu orang yang sedang terluka turun dari bukitpun yang dibahas tetap aja soal pekerjaan. Bukan bidak tapi raja.”
Wira menatap Ajeng yang bicara menggebu-gebu membela dirinya di hadapan Dito. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ajeng akan melakukan hal seperti itu di hadapan orang asing yang baru saja mereka kenal.
“Hanya karena Bu Ajeng memiliki banyak waktu untuk mengenal Pak Wira, bukan berarti semua penilaian orang lain itu salah kan, Bu?”
Ajeng menghembuskan nafas kasar. “Oke. Saya bakal tunjukin sama kamu mana yang benar dan salah menurut timbangan saya.”
“Timbangan?” tanya Dito tidak mengerti.
__ADS_1
Wira kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka bahwa Ajeng masih akan menggunakan istilah timbangan dalam masalah ini. Ia berdiri menghampiri Ajeng kemudian mendorong tubuh Ajeng untuk masuk ke dalam penginapan. Ia tidak mau Ajeng kembali membuat keributan dan merusak semua rencananya di depan pemuda lugu dan idealis yang baru saja mereka temui malam itu.
**********************