8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Mertua vs Orang Tua


__ADS_3

Seorang pelayan datang membawakan Ajeng dan Nia minuman.


“Diminum, Jeng!”


“Makasih Ka.”


Nia menyeruput minumannya lalu meletakkannya kembali di atas meja. “Karena kesibukan keluarga kami mengurus bisnis, Wira tumbuh menjadi pria yang mengerikan. Dia suka membuat onar dan terlibat dengan mafia rentenir. Kakak juga ngga tahu gimana dia bisa mengalahkan dan malah menguasai mereka. Tapi itulah Wira. Dia kemudian membangun bisnisnya sendiri dan menjadi pengusaha muda yang sangat sukses. Tapi suatu ketika sebuah kecelakaan terjadi. Dia berusaha menyelamatkan seorang pria tapi malah tidak sengaja memukul kepala pria lain hingga nyaris tewas. Dia dituntut habis-habisan oleh keluarga korban dan diancam hukuman lima belas tahun penjara. Usaha keluarga kami hancur dan kami jatuh miskin. Mama mengalamim depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit. Papa yang saat itu masih menjabat sebagai gubernur, berusaha menyelamatkan nama baiknya dengan menutup kasus itu dengan suap dan menikahkan Wira dengan Monica, anak dari orang paling berpengaruh dan terpandang di Jala Brata.”


“Jadi?”


Nia mengangguk. “Setelah mereka menikah, kami bisa kembali bangkit. Posisi papa terselamatkan dan berhasil mengantar papa menjadi legislator di pusat. Wira kembali membangun usahanya dan berkat keterampilannya, bisnisnya berkembang pesat. Tapi dua tahun kemudian Wira bercerai dan dituduh berselingkuh. Keluarga Wira membuat bisnis Wira hancur sebagai balasan karena mengecewakan putri tunggal mereka. Tapi nyatanya tidak lama setelah bercerai, justru Monicalah yang menikah lebih dulu. Wira merasa sangat terluka saat itu. Kemudian Papa menawarkan Wira kesempatan kedua dengan menjadi calon walikota untuk Carang Sewu. Awalnya Wira menolak karena dia memang tidak tertarik dengan dunia politik yang digeluti papa selama ini. Tapi begitu ia tahu Haris, suami baru Monica menjadi lawan politiknya, Wira langsung setuju dan ia berhasil memenangkan pemilihan itu.”


“Lalu apa Ka Nia tahu apa hubungan Mas Wira dengan Pak Rega?”


Nia menghela nafas panjang. “Rega.....”


“Entah kenapa aku ngerasa ada yang aneh dengan hubungan antara Pak Rega dan Mas Wira.” imbuh Ajeng.


“Rega adalah putra daerah yang berambisi menjadi Walikota saat itu. Tapi dukungan parpol justru menjadikan Wira sebagai calon walikota dan dia hanya sebagai wakil. Sepertinya Rega belum bisa melupakan dan menerima itu.”


“Hanya itu?”


“Mungkin dia juga tahu banyak tentang masa lalu Wira dan menggunakannya untuk mengancam juga menekan Wira.”

__ADS_1


“Tapi kenapa harus takut? Bukannya Mas Wira punya kekuasaan yang lebih besar dan kasus itu sudah ditutup.”


“Kalau warga tahu papa menyuap petugas demi menuntaskan kasus hukum Wira di masa lalu, bukan hanya Wira saja yang akan kehilangan posisinya, tapi Papa juga akan kehilangan kesempatan untuk maju dalam bursa pilpres tahun depan.”


“Apa?”


“Papa akan maju dalam pilpres melawan calon petahana, Suryo Diningrat.”


Pyar. Ajeng menjatuhkan cangkir yang digengamnya tanpa sengaja.


******************


Setelah selesai bicara dengan kedua orang tuanya, Wira naik ke lantai dua untuk menemui Ajeng dan mengajaknya kembali pulang ke Caran Sewu. Tapi ketika tiba di sana ia melihat sebuah cangkir terlepas begitu saja dari tangan Ajeng.


“Kamu ngga papa, Jeng?” tanya Wira dan Nia hampir bersamaan.


Wira langsung menari tangan Ajeng dan membawanya ke dalam kamar untuk mengobati lukanya.


“Aku ngga papa, Mas. Cuma luka kecil.”


“Tetap saja harus diobati.” Wira membersihkan darahnya lalu mengolesinya dengan obat.


Ajeng menatap pria di hadapannya itu dengan penuh kecemasan. Perkataan Nia terus saja terngiang-ngiang di telinganya.

__ADS_1


(Dia memukul kepala pria lain hingga nyaris tewas. Dia dituntut habis-habisan oleh keluarga korban dan diancam hukuman lima belas tahun penjara)


(Usaha keluarga kami hancur dan kami jatuh miskin. Mama mengalamim depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit)


(Mungkin dia juga tahu banyak tentang masa lalu Wira dan menggunakannya untuk mengancam juga menekan Wira.)


(Kalau warga tahu papa menyuap petugas demi menuntaskan kasus hukum Wira di masa lalu, bukan hanya Wira saja yang akan kehilangan posisinya, tapi Papa juga akan kehilangan kesempatan untuk maju dalam bursa pilpres tahun depan.)


(Papa akan maju dalam pilpres melawan calon petahana, Suryo Diningrat)


Dan tiba-tiba saja dadanya merasa sesak lalu air mata mulai meleleh membasahi pelupuk matanya.


“Jeng, kamu nangis? Sakit?” tanya Wira cemas sambil memeriksa luka di jari Ajeng


Ajeng menggeleng. “Ngga Mas. Aku ngga papa kok.”


Lalu Bu Prabu mengetuk pintu dan masuk ke kamar Wira. “Wir, Narti sudah siapin makan malam. Kita makan dulu yuk!”


“Iya, Ma. Bentar lagi Wira turun.”


Ingin rasanya Ajeng melewatkan acara makan malam kali itu, tapi ia tidak punya cukup alasan untuk membuat Wira tidak curiga.


“Jeng, turun yuk! Setelah makan kita bisa langsung pulang.”

__ADS_1


Ajeng hanya bisa mengangguk tanpa bisa memberontak.


***************************


__ADS_2