8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Efek Jatuh Cinta


__ADS_3

“Apa kamu secinta itu sama Ajeng?” tanya Bu Taufik setelah Ajeng dan Pak Taufik keluar dari kamar.


“Kok mama nanyanya gitu sih?”


“Mama tahu, kamu pasti sengaja ngga makan karena Ajeng kan?”


“Ngga ma, mama salah. Bara capek banget tadi. Pengennya sih rebahan bentar terus turun makan bareng Papa sama Mama. Ini kan makan malam pertamanya Ajeng bareng keluarga kita? Tapi ternyata malah kebablasan.”


“Kenapa Ajeng ngga bangunin kamu, coba?”


“Itu karena aku yang ngelarang. Aku ngga suka diganggu terutama kalau lagi tidur.”


“Jangan bohong sama Mama!”


“Beneran Ma.” Bara memeluk mamanya manja. “Ini tadi Ajeng bangunin Bara karena dia udah ngga betah nahan laper. Kami terakhir kali makan pagi tadi waktu resepsi.”


“Denger! Kamu ini anak kesayangan mama. Mama ngga mau kamu bertindak bodoh hanya karena kamu cinta sama perempuan yang baru aja kamu kenal dan nikahi. Mama nikahin kamu bukan buat ngebahayain hidup kamu. Ngerti?!”


“Iya Ma. Bara ngerti. Udahan dong Ma, marahnya.”


Bu Taufik kemudian membantu Bara minum obatnya dan mengompres kepalanya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ajeng kembali dengan nampan berisi bubur dan segelas air putih untuk Bara.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Bu Taufik heran.


“Kamu tahu aja kalau aku sudah lama ngga makan bubur, Jeng?” sahut Bara mendahului mamanya.


Ajeng kemudian membantu Bara menyantap bubur buatannya. Sekarang giliran Ajeng yang menyuapkan bubur itu ke mulut Bara dan Bara terlihat sangat senang sementara Bu Taufik justru geleng-geleng bingung dan heran.


“Kalau gitu, Mama keluar dulu.” Pamit Bu Taufik.


“Ada apa, Ma?” tanya Pak Taufik ketika istrinya kembali dari kamar Bara.


“Bara Pa. Masa dia mau makan bubur. Padahal kan Papa tahu sendiri, sesakit apapun dia, dia lebih baik diinfus daripada makan bubur.”


“Emang siapa yang bikinin buburnya?”


“Aaahh, itu bukan bubur. Tapi makanan rasa cinta. Makanya tetap enak meskipun ngga suka.”


“Papa ini ngomong apa sih? Lama-lama sama anehnya sama Bara.”


“Mama kaya ngga pernah jatuh cinta aja.”


“Tau ah!.... Bapak sama anak sama aja. Sama-sama ngga masuk akal."


**********************

__ADS_1


Setelah menyantap habis makanannya, Bara minta pelayannya membawakan makanan untuk Ajeng ke kamar. Ia kemudian memindahkan karpet juga meja kecil di dalam kamarnya ke balkon dan menatanya menjadi meja makan darurat ala lesehan. Ia menemani Ajeng makan sambil ngobrol seolah ia sudah benar-benar sembuh setelah memakan bubur bikinan Ajeng.


“Jeng, aku ke toilet bentar yah?”


Sesampainya di toilet, Bara menumpahkan semua makanan yang ditelannya. Keringat dingin bercucuran di dahinya dan perutnya terasa seperti diremas-remas. Bara buru-buru menyeka keringatnya, membersihkah dirinya lalu meminum air putih agar terlihat lebih segar.


Ketika kembali, Ajeng sudah menyelesaikan makannya dan duduk berselonjor kaki sambil menatap langit. Dan tiba-tiba saja Bara yang baru tiba merebahkan kepalanya di kepala Ajeng.


“Bara kamu apa-apaan sih?” tanya Ajeng kaget.


“Sebentar aja, Jeng. Cuma sebentar.” Pinta Wira.


Ajeng terpaksa membiarkan Wira tetap tidur di pangkuannya meskipun ia merasa canggung dan aneh.


“Seandainya kamu punya kesempatan kedua untuk kabur? Apa yang mau kamu lakuin?” tanya Bara tiba-tiba.


“Menjelajah alam, menikmati pengalaman hidup yang penuh tantangan dan perjuangan.”


“Back packer?”


“Apapun.”


Bara memejamkan matanya sejenak menikmati pengalaman rebahan di tempat yang mungkin tidak akan pernah ia miliki lagi selamanya.

__ADS_1


***********************


__ADS_2