8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
DPO


__ADS_3

Ajeng berhasil menyelesaikan pekerjaannya sebagai pembicara seminar hari itu dengan baik. Pujian dari para peserta seminar dan juga kedua pembicara terus membanjiri Ajeng dan Wira.


“Belum pernah saya melihat langsung bahwa materi sederhana seperti itu bisa menggerakkan banyak hati.” Puji Bu Sri kepada Ajeng.


Ajeng tersenyum, “Saya hanya mempelajari karakter lawan bicara saya saja. Selebihnya saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu saja.”


“Tapi Bu Ajeng memang luar biasa. Saya juga baru sadar kalau ada hal yang harus lebih dulu kita penuhi sebelum bicara muluk-muluk tentang karir dan pendidikan. Dan saya belajar banyak dari Bu Ajeng.” Imbuh Bu Heri Cahyo.


“Bu Heri bisa aja. Sebenarnya saya membahas ini karena keterbatasan pengetahuan saya saja.”


“Loh memangnya Bu Ajeng kuliah dimana? Tidak mungkin kalau lulusan SMA biasa bisa berfikir sekritis dan logis itu.” tanya Bu Sri penasaran.


“Saya –“


“Jeng!” Wira datang menghampiri Ajeng. “Sudah selesai?”


“Oh, iya Mas.” Sahut Ajeng. “Oh ya, kenalkan ini Ibu Sri dan ini Bu Heri.”


“Salam kenal Pak Wali.”


Kemudian seorang wartawan datang dan menghampiri mereka. “Ibu-ibu, bisa minta waktunya untuk wawancara sebentar?”


Bu Heri dan Bu Sri langsung mengiyakan tapi Wira menolak dengan alasan ada acara penting lain yang harus segera istrinya hadiri.


“Mas, aku ke toilet bentar yah?” pinta Ajeng setelah mereka berhasil lolos dari para pemburu berita itu.


Setelah Ajeng masuk ke dalam toilet, Monica datang menghampiri Wira yang sedang menunggu Ajeng. “Jadi dia yang bikin lo nolak ketemu gue semalem?”


“Kan udah gue bilang kalau gue ada acara.”


Monica menyeringai. “Hah? Acara? Nemenin tu cewek main di pasar rakyat maksut lo?”


“Jadi lo ngawasin gue?”


“Kenapa? Lo ngga lupa kan kalau gue selalu dapetin apa yang gue mau?”


“Mon, kenapa sih lo repot-repot ngelakuin ini? Bukannya kita udah sepakat kalau kita ngga ada hubungan apa-apa lagi?”


“Bener..” jawab Monica yang berdiri sambil bersendekap. “Gue cuma ngga habis pikir aja, kalau ternyata cuma cewek ingusan kaya dia yang lo dapetin setelah ninggalin gue.”

__ADS_1


“Bukan gue yang ninggalin elo, tapi elo yang ngekhianatin gue. Ingat itu!” Wira berpaling dan meninggalkan Monica.


“Jangan bilang kalau lo beneran cinta sama tu bocah!” teriak Monica yang ternyata sukses menghentikan langkah Wira.


Pria itu berpaling dan kembali menghampiri Monica, “Sekali lagi gue ingetin sama elo, jangan sok tahu dan ikut campur urusan gue!”


“Wira.. Wira... Lo masih belum berubah. Terlalu gampang buat gue tebak. Lo ngga mungkin bela-belain ngedatengin semua kantor media, semua panitia dan mohon sama Rega buat ngga ngeliput seminar itu kalau lo ngga beneran cinta sama buronan itu.”


Monica melihat sekilas Ajeng bersembunyi di balik pintu toilet, jadi ia yakin bahwa gadis itu sedang mendengarkan percakapan mereka. Tanpa memberi tahukan keberadaan Ajeng kepada Wira, Monica buru-buru meralat perkataannya.


“Oh atau jangan-jangan kamu sengaja maksa dia datang ke seminar terus manfaatin dia untuk menjaga harga diri dan martabat kamu di depan aku sama mama seperti yang biasa kamu lakuin?”


“Apa barusan lo bilang?!” pekik Wira marah sambil memelototi Monica.


“Kenapa? Lo heran karena tebakan gue bener? Atau karena lo pikir gue ngga tahu kalau cewek lo itu masuk dalam DPO? Gue emang belum tahu kenapa dia dicari-cari. Tapi sebagai orang yang pernah ada di hidup lo, gue cuman mau ngingetin sama lo, jangan jadi keledai yang dua kali jatuh di lubang yang sama! Jangan cinta sama orang yang sudah jelas-jelas bakal ninggalin elo!” Monica tersenyum lalu meninggalkan Wira yang masih berapi-api mendengar perkataan mantan istrinya itu.


Ajeng yang sedari tadi diam-diam mendengarkan percakapan mereka, tak kalah kaget mengetahui bahwa dirinya dimanfaatkan habis-habisan oleh Wira dan masuk dalam daftar pencarian orang. Jika berita itu cepat menyebar, maka ia akan segera harus mengakhiri kontraknya dan meninggalkan Wira untuk menikahi pria pilihan papanya.


*************


“Jangan bilang kalau lo beneran cinta sama tu bocah!” teriak Monica yang ternyata sukses menghentikan langkah Wira.


“Mas Wira?” Gumam Ajeng lirih sambil kembali bersembunyi di balik pintu toilet agar tidak terlihat oleh Wira.


(Sekali lagi gue ingetin sama elo, jangan sok tahu dan ikut campur urusan gue!) Ajeng melihat Wira membentak Monica


(Wira.. Wira... Lo masih belum berubah. Terlalu gampang buat gue tebak. Lo ngga mungkin bela-belain ngedatengin semua kantor media, semua panitia bahkan mohon sama Rega buat ngga ngeliput seminar itu kalau lo ngga beneran cinta sama buronan itu.)


(Oh atau jangan-jangan kamu sengaja maksa dia datang ke seminar terus manfaatin dia untuk menjaga harga diri dan martabat kamu di depan aku sama mama seperti yang biasa kamu lakuin?)


Ajeng terperanjat. Ia sama sekali tidak menyangka Wira akan melalukan hal yang Monica tuduhkan padanya.


(Apa barusan lo bilang?! Buronan?!)


Ajeng kembali dibuat ternganga.


"Buronan?" gumam Ajeng lirih.


(Kenapa? Lo heran karena tebakan gue bener? Atau karena lo pikir gue ngga tahu kalau cewek lo itu masuk dalam DPO? Gue emang belum tahu kenapa dia dicari-cari. Tapi sepertinya dia berurusan sama penguasa besar yang ngga bakal mudah buat lo hadepin. Dan sebagai orang yang pernah ada di hidup lo, gue cuman mau ngingetin sama lo, jangan jadi keledai yang dua kali jatuh di lubang yang sama! Jangan cinta sama orang yang sudah jelas-jelas bakal ninggalin elo!)

__ADS_1


Ajeng keluar diam-diam dari toilet dan mengambil arah berlawanan dengan Wira sehingga pria itu tidak tahu bahwa Ajeng sudah pergi.


*************


Abdi yang sedari tadi menunggu di dalam mobil kaget ketika Ajeng tiba-tiba saja masuk sambil menangis.


“Pak Wira mana Bu?”


“Jalan!” titah Ajeng tanpa menggubris pertanyaan Abdi.


Melihat kondisi mood Ajeng yang tidak baik, Abdi terpaksa menuruti perintah majikannya itu. Mereka berhenti di sebuah taman tidak jauh dari rumah. Ajeng minta untuk dibiarkan sendirian di taman. Jadi Abdi menunggunya dengan sabar di dalam mobil. Ia kemudian mengirimkan sms kepada Wira untuk mengabarkan keberadaan Ajeng agar tidak merasa cemas.


Langit mulai gelap dan udara mulai lembab, tapi Ajeng masih saja duduk di taman sambil memunggungi mobil. Tak lama kemudian hujan mulai turun tapi Ajeng masih juga bergeming. Ia tidak terlihat berusaha menghindari hujan sedikitpun. Karena cemas, Abdi menghampirinya.


“Bu, hujannya semakin deras. Sebaiknya kita pulang sebelum ibu sakit.” Bujuk Abdi sambil menutupi Ajeng dengan payung.


“Kamu pulang sendiri aja! Saya masih mau disini.”


“Tapi Bu –“


Abdi tidak tahu persis apa yang membuat Ajeng marah. Tapi jika ia sampai tidak mau pulang, maka itu pasti ada hubungannya dengan Wira. “Apa ini karena Pak Wira?”


“Karena saya merasa dijebak dan dimanfaatkan. Mas Wira sengaja menyuruh saya datang ke seminar demi menyelamatkan mukanya dari Monica.”


“Itu ngga bener, Bu. Pak Wira bukan orang yang mau memohon kepada siapapun. Bahkan saat ia diancam hukuman seberat apapun, ia tidak pernah mau memohon. Tapi kemarin, dia rela mendatangi semua kantor surat kabar dan elektronik demi meminta mereka menghindari peliputan yang merugikan Bu Ajeng.”


“Dia ngelakuin itu bukan buat saya. Tapi buat dirinya sendiri dan Monica.”


“Saya tidak yakin soal itu. Tapi kalau Pak Wira memang berniat untuk memanfaatkan ibu dan pamer, dia tidak mungkin menolak tawaran makan malam bersama dari Pak Gubernur.”


“Apa?!”


Abdi mengangguk. “Pak Wira menolak segala bentuk wawancara dan pertemuan yang melibatkan Bu Ajeng. Bahkan beliau berani menolak kunjungan makan malam Pak Gubernur dan keluarganya. Itu pasti karena Pak Wira sangat menghargai privasi Bu Ajeng.”


“Makan malam? Kapan?”


“Nanti malam.”


***************************************

__ADS_1


__ADS_2