
Meskipun menolak sesi wawancara, tapi pada kenyataannya berita tentang Ajeng muncul di banyak surat kabar lokal. Meskipun tidak banyak yang berhasil mengambil gambar wajah Ajeng dengan posisi yang baik dan benar, tapi kabar tentang kepiawaian Ajeng dalam berbicara di depan umum langsung menyebar.
Tidak hanya memuji kepandaian Ajeng membawakan acara, tapi juga bagaimana ia berhasil menarik perhatian dan simpati masa karena mereka juga mengungkap fakta bahwa banyak juga tamu yang tidak diundang tapi bersedia jauh-jauh hadir demi bisa bertemu dengan ibu walikota muda itu. mereka adalah para pedagang sayur di pasar Kalijateng yang sudah kesengsem dengan kebaikan dan keluwesan Ajeng saat bercengkrama bersama mereka.
Monica melempar semua surat kabar yang dibacanya dengan kasar.
"Apa-apaan ini? Kenapa tu wartawan pada ngga becus sih?! Masa ngambil gambar wajah Ajeng aja ngga ada yg bener. Mana ngga ada yang blow up identitas dia lagi, eh... malah ngebahas prestasinya dia." rutuk Monica kesal.
ia mengambil ponsel dan menghubungi semua wartawan yang sudah menerima suap darinya tapi tak satupun mau menjawab telpon darinya. Monica melempar ponselnya dengan keras ke atas sofa.
"Awas lo, Jeng! Gue pasti bisa temuin cara buat ngebongkar topeng lo!!!" gumam Monica dengan urat wajah menegang.
Tak lama kemudian Haris turun dari lantai dua dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Mas?" tanya Monica
"Aku mesti buru-buru ke kantor." jawab Haris sambil mengecup kening Monica. "Ada masalah besar."
Monica jadi makin kesal. Belum kelar urusan dengan si Ajeng, sudah datang lagi masalah di kantor suaminya.
"Kenapa ngga ada yang beres sih?! Aaaaaaargh!"
************
Sementara itu, Wira duduk sofa kantornya dan membaca artikel tentang Ajeng di semua surat kabar untuk memastikan apakah wajah Ajeng terpampang di sana. Tak lama kemudian, Yuni masuk untuk menemui Wira.
“Bagaimana kabar Ajeng? Apa dia baik-baik saja?”
Yuni mengangguk. “Beliau tidak bisa tidur semalaman. Mungkin karena kamarnya sempit dan tidak nyaman. Tapi beliau menyukai aromaterapinya.”
“Apa kamu sudah meninggalkan sarapan seperti yang saya perintahkan?”
__ADS_1
“Sudah, Pak. Lontong sayur pake telor tidak pedas ditambah kerupuk dan air mineral.”
“Terima kasih, Yun. Saya ngga tahu harus gimana kalau ngga ada kamu.”
“Ngga masalah, Pak. Ngomong-ngomong, saya ngga lihat Pak Abdi sejak pagi.”
“Abdi mengambil cuti.”
“Cuti? Sampai kapan?”
“Entahlah. Ada urusan yang harus dia selesaikan di Batang Hulu.”
“Aneh, biasanya meskipun cuti Pak Abdi tidak pernah mematikan ponselnya.”
“Mungkin dia tidak ingin diganggu.”
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”
“Tunggu! Kalau Ajeng kesulitan tidur, apa sebaiknya kamu ajak dia tidur di hotel? Saya akan siapkan semuanya.”
“Kamu benar. Saya akan menjemput Ajeng sekarang.”
“Jangan sekarang juga dong, Pak! Bu Ajeng mungkin masih tidur. Nanti beliau malah tahu kalau Pak Wira yang nyuruh saya buat jemput beliau di halte dan ngirimin beliau aromaterapi.”
“Bener juga. Ya sudah. Nanti kabarin saya lagi yah?”
“Baik, Pak. saya permisi.”
**************
Merasa tidak nyaman hanya berdiam diri di kamar kos Yuni, Ajeng yang sudah terbiasa bekerja pada jam delapan sampai empat, siang itu memilih untuk mendatangi ruang humas. Ia minta untuk dibuatkan undangan kepada para pedagang sayur di pasar Kalijaten agar bersedia hadir pada pertemuan yang akan diadakannya dan Wira di kediaman mereka nanti malam.
__ADS_1
Ajeng sengaja mengundang mereka malam hari karena pasar sayur Kalijaten banyak beroperasi pada pagi hari. Jadi kebanyakan pedagang baru akan longgar pada malam hari. Ia juga sengaja untuk memilih tempat di rumahnya karena tidak ingin mengganggu jam kantor yang biasanya selesai pada sore hari. Ia merasa perlu menuntaskan semua pekerjaannya sebelum dijemput sewaktu-waktu oleh ayahnya yang mungkin menemukan keberadaannya melalui berita di berbagai surat kabar.
“Eh, ada Bu Ajeng.” Rega datang dan kebetulan bertemu dengan Ajeng di ruang humas. “Ada perlu apa, Bu?”
“Ini Pak, saya mau minta dibuatkan undangan untuk para pedagang sisi barat pasar Kalijaten supaya bisa ngobrol santai di rumah.”
“Di rumah? Itu jumlah pedagangnya banyak loh bu. Apa ngga masalah Bu Ajeng menanggung beban biaya pengeluarannya seorang diri?”
“Ngga papa Pak Rega. Saya akan mengurus semuanya. Tolong bantu saya dengan undangannya saja.”
“Rini! Tolong buatkan undangan yang Bu Ajeng minta dan langsung kirim ke pengelola pasar.” Titah Rega kepada Rini pegawai administrasi di bagian humas.
“Baik, Pak.”
“Terima kasih Pak Rega. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Eh, Bu Ajeng!” Rega menyusul Ajeng keluar ruangan.
“Ada apa Pak?”
“Bisa kita bicara sebentar?”
Ajeng akhirnya mengajak Rega ngobrol di ruang santai sambil minum kopi tanpa tahu bahwa Wira sedang memperhatikan mereka dari jauh. “Jadi, apa yang mau Pak Rega bicarakan sama saya?”
“Gini Bu Ajeng. Minggu depan kita mendapat undangan dari Batang Hulu untuk memperingati hari perempuan nasional. Saya ingin minta Bu Ajeng pergi bersama saya.”
“Lah, kenapa harus saya? Bu Manda kan juga aktivis perempuan?”
“Sejak seminar itu, nama Bu Ajeng sangat populer di Batang Hulu. Pak Gubernur menyarankan agar Bu Ajeng untuk hadir sebagai salah satu ikon penggerak perempuan dari Carang Sewu.”
“Maaf Pak Rega, selain kurang pantas, saya rasa Mas Wira pasti akan keberatan.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau Pak Wira mengijinkan. Apa Bu Ajeng akan pergi bersama saya?”
*******************