8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Overtime


__ADS_3

Hari masih pagi, jadi Wira menyempatkan diri untuk membaca koran sebelum berangkat ke kantor. Ia kemudian mendapat telpon dari Rega dan mendengar kabar salah seorang pejabat dari anggota legeslatif pusat akan singgah di balai kota bersama istri dan rombongannya sebelum melanjutkan perjalanan dinasnya ke kota Sido Bener yang berbatasan langsung dengan Carang Sewu. Rega meminta Wira untuk menyambut pejabat tersebut karena ia masih dalam perjalanan kembali dari kunjungan dinasnya dari luar kota.


“Kenapa baru bilang sekarang sih Pak Rega?”


“Maaf Pak Wira. Semalam saya hubungi Pak Wira tapi Bibi bilang Pak Wira belum pulang. Saya coba hubungi hpnya Pak Wira tapi ngga aktif. Saya juga sudah kirim sms, tapi sepertinya Bapak belum sempat baca.”


“Ah, ya sudah.. sudah.. terus, jam berapa Pak Rega bisa sampai ke kantor?” tanya Wira kepada Rega yang seharusnya sudah kembali dari Batang Hulu.


“Ini saya masih dalam perjalanan, Pak. Baru sampai Sumber Arum, mungkin dua jam lagi baru sampai.”


“Oke. Biar saya urus semuanya.”


“Terima kasih, Pak. Selamat pagi.”


************


“Bik, tolong bangunin ibu!”


“Maaf Pak, Bu Ajeng sudah bangun dari pagi tadi dan sedang lari pagi di taman kota.”


“Aish, sial! Ada aja sih acaranya. Pake acara lari pagi segala lagi.” Gerutu Wira.


“Perlu saya jemput, Pak?”


“Iya. Eh ngga usah. Biar saya aja!” Wira jadi bingung sendiri saking paniknya.


Ia membawa sepeda Bi Sumi untuk menjemput Ajeng di taman kota.


“Maaf Pak, tapi jam kerja saya dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Dan ini masih jam enam pagi.” Tolak Ajeng ketika Wira memintanya bersiap-siap untuk menyambut tamunya.


“Tapi ini darurat.”


Ajeng masih saja meneruskan lari paginya tanpa menggubris Wira.


“Tamu penting, Jeng!”


Ajeng masih bergeming. Ia sama sekali tidak tertarik dan tidak peduli.


“Oke. Lembur. Kita hitung ini sebagai lembur.”


Ajeng mulai menghentikan larinya.


“Dua kali upah perjam.” Tawar Wira

__ADS_1


Ajeng kembali melanjutkan lari paginya.


“Tiga kali.”


Ajeng masih terus berlari.


“Oke. Lima kali.”


Ajeng masih saja berlari tanpa mempedulikan Wira.


"Oke. Jadi apa yang kamu mau?" tanya Wira menyerah.


Ajeng berhenti lalu berbalik menghadap Wira yang terus saja mengelikutinya. "Datangi rumah anak itu dan bereskan masalah mereka!"


"Tapi, Jeng. Itu adalah urusan keluarga. Bukan ranah walikota untuk ikut campur."


"Tapi anak itu masih dibawah umur dan dia dipaksa nikah dengan kakek-kakek demi melunasi hutang ayahnya. Kalau pemerintah tidak bisa hadir membantu mereka, apa gunanya seragam dinas kamu, Mas? Tapi kalau kamu ngga sanggup, aku yang bakal datengin mereka sendiri."


"Oke. Setelah acara pagi ini selesai, aku akan coba bicara dengan mereka."


Ajeng langsung berlari pulang untuk bersiap-siap.


“Sial!” gumam Wira setelah gadis itu menghilang dari pandangannya.


**********


Ajeng menyempurnakan penampilannya dengan menyapukan make up tipis dan rambut yang digelung indah dan rapi, juga mengenakan sepatu hak tinggi berwarna ivory yang sangat pas dan indah di kaki jenjangnya.


“Ini beneran Bu Ajeng?” tanya Abdi sambil ternganga. “Cantik banget. Kirain putri indonesia salah mendarat ke sini.”


“Bisa aja kamu, Abdi.” Balas Ajeng tersipu-sipu.


“Putri Indonesia apanya? Ini sih lebih mirip peserta seleksi pramugari.” Cibir Wira.


Wajah merona Ajeng berubah kecut seketika. “Ngga bisa apa lihat orang seneng dikit aja?!”


“Lapor, Pak! Tamunya akan tiba dalam tiga menit.” Sela salah satu petugas protokoler.


Wira beserta Ajeng dan jajaran stafnya yang lain bersiap pada posisinya masing-masing. Dan tepat sesuai waktu yang diinfokan, iring-iringan mobil yang membawa rombongan anggota legeslatif pusat itu memasuki halaman rumah dinas Wira.


“Siapa mereka?” tanya Ajeng ketika melihat tiga mobil mewah menghampiri mereka.


“Pak Rangga, wakil ketua DPR dari parta A.”

__ADS_1


“Apa?! DPR pusat?!” tanya Ajeng memastikan.


Wira mengangguk sambil mengumbar senyum ramah menyambut kedatangan Pak Rangga yang baru saja turun dari mobil mewahnya.


“Perkenalkan, ini Ajeng, istri saya!”


Tapi bukannya segera menyambut tangan Pak Rangga, Ajeng justru terlihat masih shock, gagap dan gemetar setelah mendengar ia akan bertemu dengan pejabat dari pusat.


“Jeng!” sapa Wira membuyarkan lamunan Ajeng.


“Oh iya, maaf...” Ajeng menoleh kepada Wira yang memberinya kode dengan mata yang mengarah kepada tangan Pak Rangga yang masih terjulur kepada Ajeng.


Ajeng buru-buru menyambut tangan Pak Rangga sambil meminta maaf. “Maaf Pak, ini pertama kalinya saya menyambut pejabat penting seperti Bapak. Jadi masih agak kikuk.”


“Bu Wali bisa saja. Terima kasih atas sambutannya.”


Ajeng buru-buru beralih ke wanita paruh baya yang berdiri di belakang Pak Rangga. Ia menghampiri dan menyambut wanita itu dengan sangat sopan dan ramah. Dari penampilannya saja, ia bisa menebak bahwa wanita itu pasti adalah istri dari Pak Rangga. Jadi Ajeng segera mempersilakannya masuk mengikuti Pak Rangga dan Wira menuju ruang tamu.


Pelayan segera menyajikan minuman hangat dan kudapan yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Wira langsung larut dalam obrolan ala bapak-bapak pejabat dengan Pak Rangga.


“Bu, mau istirahat sebentar di dalam? Kami sudah mempersiapkan kamar tamu yang nyaman untuk ibu.” Tawar Ajeng berharap bisa menghindari adegan paling membosankan dari mendengarkan para pria membahas masalah politik.


“Boleh.” Jawab Bu Rangga cepat.


Ajeng senang karena tebakannya benar. Bu Rangga juga pasti sama jenuhnya mendengar obrolan membosankan pria-pria itu, sama seperti dirinya. Jadi Ajeng segera mengantar Bu Rangga menuju kamar tamu.


“Rumahnya nyaman, sejuk.” Puji Bu Rangga.


Pujian itu patut untuk disampaikan karena ketika pertama kali datang ke rumah itu, Ajeng juga merasakan hal yang sama. Meskipun struktur bangunannya tidak jauh beda dengan rumah dinas pejabat lain di pulau ini, tapi rumah dinas walikota Carang Sewu ini mengadopsi konsep rumah lawas peninggalan jaman kolonial belanda yang bercirikan ruangan luas dengan atap tinggi, tiang-tiang besar dan kusen kayu jati dengan ukiran indah, yang membuat suasana rumah terasa lega. Ditambah lagi dengan taman indah dan pepohonan besar yang tertata rapi mengelilingi rumah itu, yang membuat suasana semakin rindang dan sejuk


Wira memang terkenal sangat suka berkebun. Ia bahkan memiliki taman bunga dan kebun sayuran di depan dan tengah halaman kantornya. Ia juga memilih, menanam dan merawat sendiri tanaman itu di sela-sela kesibukannya. Tidak heran, jika lingkungan tempat Wira tinggal dan bekerja menjadi sangat nyaman dan sejuk.


“Ah, iya... Mas Wira menanam beberapa bunga dan menata pepohonan di sekitar rumah ini.”


Dari sela jendela, Bu Rangga sekilas melihat taman bunga yang sangat indah di samping rumah itu dan dia berbelok sebentar untuk melihatnya secara langsung.


“Apa ini Pak Wali sendiri yang menanamnya?”


Ajeng mengangguk. “Beliau sangat menyukai tanaman.”


“Bu Ajeng beruntung. Pria yang menyukai tanaman biasanya tipikal pria yang penyayang dan setia.”


“Kenapa bisa begitu?”

__ADS_1


“Karena merawat tanaman memerlukan ketelatenan dan ketulusan. Kalau sama tanaman aja beliau sayang dan peduli, apalagi sama istri yang secantik Bu Ajeng?”


Ajeng tertawa kecil sambil tersipu-sipu, “Bu Rangga bisa aja.”


__ADS_2