
Pagi itu kapal datang dengan membawa banyak barang kiriman pemerintah untuk keperluan logistik klinik dan sekolah warga. Dr. Husein merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Ajeng karena setelah lima belas tahun ia berada di sana, itu adalah kali pertama kliniknya mendapat bantuan dari pemerintah sebanyak itu.
Ajeng membantu dr. Husein dan Dara untuk merapikan barang-barang yang baru mereka terima itu. Mulai dari obat-obatan, timbangan badan, alat usg sampai peralatan operasi sederhana yang sering dr. Husein butuhkan untuk mengobati pasien-pasiennya.
“Bagaimana kalian bisa melakukan ini?” tanya Dr. Husein kagum. “Saya sudah menulis puluhan bahkan mungkin ratusan surat permintaan bantuan tapi tak pernah sekalipun mendapat perhatian. Bagaimana kalian bisa –?”
“Kami hanya kebetulan menitipkan pesan anda kepada orang yang tepat.” Jawab Ajeng diplomatis.
“Oh ya, Jeng kalau obat-obatan cacar waktu itu darimana kalian dapatkan, sebanyak dan secepat itu?”
“Carang Sewu, dok. Kebetulan suami saya mantan walikota di sana.”
“Tunggu! Kamu pernah ke Carang Sewu?”
“Dokter juga?”
“Sebelum dimutasi kesini, saya pernah menjadi dokter di RSUD Kora Carang Sewu.”
“Oh ya? Terus kenapa dokter tiba-tiba dimutasi kesini?”
“Karena pasien terakhir saya.”
“Maksud dokter?”
“Sekitar enam belas tahun yang lalu, saya pernah menyelamatkan nyawa seorang wanita. Dia mengalami keracunan yang sangat serius. Tapi anehnya, setelah sadar ia justru minta saya untuk tidak menyelamatkannya. Karena merasa ada yang aneh, saya memberanikan diri menyelidiki latar belakang dan data pribadi pasien itu. Dan ternyata dia adalah seorang penyanyi yang cukup terkenal dan berasal dari Carang Sewu. Yang lebih mengejutkannya lagi dia adalah istri simpanan seorang pejabat negara yang paling berpengaruh di negri ini. Sekarang orang itu sudah menjadi presiden, Suryo Diningrat. Dan pasien itu bernama Diah Sekar.”
__ADS_1
Pyar! Sebuah stenliss bowl terlepas dari tangan Ajeng begitu mendengar nama itu.
“Jeng, kamu ngga papa?” tanya dr. Husein menghampiri Ajeng
“Bisa dokter ulangi? Siapa nama pasien dokter itu?”
“Diah Sekar.” Jawab dr. Husein sambil terus memandangi mata Ajeng yang mulai berkaca-kaca. “Ada apa, Jeng? Kamu kenal sama perempuan itu?”
Alih-alih mejawab, Ajeng malah pergi meninggalkan dokter Husein. Saat hendak keluar dari klinik, ia malah melihat Wira sedang berpelukan dengan Dara di halaman klinik. Ajeng menyeka air matanya lalu berlari kencang kembali ke rumahnya.
******************
Ketika Ajeng membantu dokter Husein menata barang-barang di dalam klinik, Wira justru memilih untuk membenahi kabel yang menjuntai di dinding bagian luar klinik. Kebakaran yang terjadi di lapas membawa trauma tersendiri bagi Wira. Jadi karena tidak ingin kejadian mengerikan itu kembali terulang, ia berniat untuk merapikan semua instalasi listrik klinik itu agar lebih aman dan rapi.
Wira yang sudah menyelesaikan tugasnya, turun dari tangga lalu menghampiri Dara dan menawarkan bantuan untuk menggantikan tugasnya. Tapi saat Dara hendak berbalik, sebuah suara baskom jatuh terdengar sangat keras dari dalam dan mengagetkan mereka sehingga Dara nyaris terjatuh dari kursi. Wira yang kebetulan berada di bawahnya berusaha menangkapnya agar tidak terjatuh. Tapi Ajeng yang baru keluar malah melihat keduanya seperti sedang berpelukan dan marah besar dan mengurung dirinya di dalam kamar sambil menangis.
Malam itu, Wira kembali mengetuk pintu kamar Ajeng yang sudah terkunci sejak ia kembali dari klinik.
“Sayang! Makan dulu yuk! Kamu kan belum makan apa-apa dari siang tadi?”
Ajeng bergeming.
“Sayaaaaang...... Makan yuk! Aku udah masakin sambel ngga pedes kesukaan kamu.”
Ajeng masih bergeming. Lalu tiba-tiba saja suara Wira lenyap seketika. Ajeng sempat penasaran kemana perginya pria hidung belang itu. Tapi ia terlalu malas untuk keluar dan berdebat.
__ADS_1
Dan sekitar setengah jam kemudian, Ajeng mendengar orang beramai-ramai mendatangi rumahnya. Ada suara anak-anak dan orang dewasa yang memanggil-manggil namanya untuk keluar dan makan bersama mereka.
Ajeng yang merasa penasaran, memutuskan untuk keluar. Dan ternyata tempat yang biasanya ia jadikan untuk sekolah sudah diterangi banyak lampu dan dipenuhi warga yang ingin makan malam bersamanya untuk merayakan kesembuhannya sekaligus pernikahan mereka. Itu adalah makan malam ramai-ramai di alam terbuka, di tepi pantai, pertama bagi Ajeng.
Ajeng yang tadinya manyun tiba-tiba saja mulai kembali tersenyum dan tersipu malu. Wira menghampiri memeluk dan menciumnya di hadapan seluruh warga. Pria itu kemudian menggiringnya untuk duduk bersama warga dan makan bersama semua masakan yang telah ia persiapkan sebelumnya.
“Ini kamu semua yang masak, Mas” tanya Ajeng setengah berbisik.
“Ya iyalah...”
“Jangan bohong.”
“Iya bohong. Ibu-ibu ini yang masakin supaya kamu mau makan. Hehe...”
Mereka bercengkrama penuh keakbaran, bahkan dr. Husein dan Dara juga ikut hadir malam itu. Lalu Pak Minto, kepala pos penjagaan meminta waktu untuk mengumumkan sebuah berita penting.
“Perhatian-perhatian. Berhubung kita sedang berbahagia dengan kabar pernikahan Bu Ajeng dan Pak Wira, malam ini saya juga ingin menyampaikan sebuah berita penting. Pengajuan agar pulau ini dijadikan desa baru sudah disetujui. Mulai bulan depan, kita akan menjadi sebuah desa yang baru yang memiliki wilayah dan pemerintahan sendiri. Kita juga akan mendapatkan banyak bantuan untuk masalah pendidikan, ekonomi dan air bersih.” Jelas Pak Minto dengan mata berkaca-kaca.
Sontak berita itu disambut riang gembira oleh seluruh warga yang sudah sangat lama mengharapkan kehadiran dan kepedulian pemerintah terhadap mereka. Bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang bersujud sambil menangis saking bahagianya. Karena mereka sudah puluhan tahun hidup dan tinggal di pulau itu tapi seolah terasing dari dunia luar.
“Dan masih ada satu lagi, jumlah pelayaran dari dan ke Nusa Beringin akan ditambah. Sehingga warga bisa bolak-balik kek kota setiap hari. Tidak perlu menunggu ada kapal Boni datang kemari.”
Tawa bercampur tangis warga pecah seketika. Tak terkecuali Ajeng dan Wira. Mereka merasa sangat puas dengan apa yang telah mereka upayakan selama ini. Meskipun tentu saja, itu semua tidak terlepas dari bantuan Pak Suryo, ayah Ajeng.
***************************
__ADS_1