8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Awal Yang Baru


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Ajeng dinyatakan pulih meskipun lepuhan di tangannya belum sepenuhnya hilang. Pagi itu, Wira menjemput Ajeng di klinik. Mereka mampir ke ruangan dr. Husein untuk berpamitan.


“Pagi Dok.”


“Pagi. Sudah mau pulang Jeng?”


“Kan dokter yang suruh saya pulang.”


“Jangan lupa diminum obatnya. Besok datang lagi untuk mengganti perbannya!”


“Siap dok!”


“Makasih dokter sudah merawat istri saya dengan baik.”


“Sama-sama Wira. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian.”


Saat hendak keluar dari ruangan dr.Husein, mereka tidak sengaja melihat sebuah dokumen rekam medis milik salah seorang pasien yang tergeletak di atas meja. Diatasnya ada sebuah pasfoto yang dijepit dengan penepit kertas.


Ajeng dan Wira saling pandang setelah melihat foto diatas berkas itu. Dr. Husein baru menyadari kenapa pasangan suami istri itu belum juga keluar dari ruangannya jadi ikut penasaran setelah melihat reaksi di wajah mereka.


“Ada apa?” tanya Dr. Husein sambil menatap Wira dan Ajeng bergantian. “Kalian kenal dia?”


Ajeng dan Wira kembali saling pandang.


“Tunggu! Apa jangan-jangan dia orang yang kamu cari selama ini?” tebak dr. Husein yang langsung mendapat anggukan dari Wira.


Dr. Husein menyerahkan dokumen itu kepada Wira. “Dia adalah napi yang Ajeng selamatkan dari lapas.”


Dan Ajeng jadi semakin terbelalak. “Jadi selama ini dia ada di sini?”


“Sebenarnya siapa dia? Dan kenapa kalian mencarinya?” tanya Dr. Husein sementara Wira masih mempelajari data diri napi tersebut.

__ADS_1


“Dia adalah orang yang pernah berniat mencelakai saya saat berada di Siliwangi.” Sahut Ajeng.


“Tapi di sini dia didakwa atas tuduhan peredaran narkoba. Bukan upaya pembunuhan.” Imbuh Wira.


Mereka segera menghampiri pasien yang kemarin baru saja sadar dari komanya. Wajah yang tertutup perban akibat luka bakar membuat Ajeng sulit mengenali wajah pria itu. jadi di tidak yakin apakah itu pria yang sama dengan yang mengayunkan balok kayu padanya di dekat Hotel Siliwangi waktu itu.


“Kita tunggu saja sampai kondisinya membaik.” Ujar Ajeng kepada Wira dan Wira setuju dengan pendapat Ajeng itu.


“Tu...nggu!” sahut pria itu.


Ajeng buru-buru menghampirinya. “Anda kenal saya?”


Pria itu mengangguk kecil.


“Apakah anda orang yang ingin mencelakai saya waktu itu? di dekat Hotel Siliwangi.”


Pria itu kembali mengangguk.


Pria itu menggeleng.


“Katakan!” bentak Wira geram.


Dan Ajeng buru-buru menenangkannya. “Mas! Dia baru aja sadar. Kok malah dibentak-bentak gitu sih?”


Ajeng kembali mendekati pria itu. “Terima kasih karena sudah menyelamatkan saya dan maaf karena tidak bisa membawa anda keluar dengan selamat.”


Pria itu menggeleng sambil menitikkan air mata dari sudut matanya yang sayu.


Ajeng tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan pria yang gagal diselamatkannya itu.


“Se..le..na..” ujar pria itu parau.

__ADS_1


Ajeng kembali berbalik badan, menoleh dan menghampiri pria itu. “Apa maksud Anda? Selena? Mama saya?”


Pria itu mengangguk.


“Jadi mama saya yang memerintahkan anda untuk mencelakai saya? Tapi kenapa?” tangis Ajeng pecah sambil menggebrak-gebrak ranjang pria itu. Dan Wira bergegas membawanya pergi.


*******************


Setelah pulang dari rumah sakit, Ajeng lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun di teras rumah kayunya. Menerawang jauh ke laut lepas yang gelap dan berdebur lirih. Wira tahu persis apa yang mengganggu pikiran istrinya itu. ia keluar dengan membawa selimut dan menyampirkannya di pundak Ajeng.


“Mungkin dia hanya ingin membantu Papa kamu untuk membawa kamu pulang. Tidak ada niatan lain.” Bujuk Wira untuk menenangkan kegalauan Ajeng.


“Tapi untuk apa menggunakan kekerasan seperti itu padahal aku sudah jelas-jelas mau ikut mereka pulang?” elak Ajeng yang masih yakin bahwa pria itu diutus untuk mencelakainya.


“Apa kalian punya masalah akhir-akhir ini?”


“Kami tidak pernah memiliki hubungan khusus sejak awal. Aku memanggilnya mama hanya karena dia istri dari papa aku. Kami jarang bicara dan tidak pernah tinggal bersama. Setelah membawa aku pergi, papa langsung mengirim aku ke Brunei saat masih berusia delapan tahun. Dan saat aku pulang ke rumah kemarin, kami juga tidak banyak berbicara atau bertemu.” Jelas Ajeng panjang lebar.


“Sudahlah. Sekarang yang terpenting kita sudah tahu siapa yang harus kita waspadai. Selebihnya aku bakal jagain kamu tujuh kali dua puluh empat jam, nonstop.”


Wira kemudian merapikan tendanya, melipatnya lalu menyimpannya di dalam rumah.


“Kenapa dirapiin?” tanya Ajeng ketika Wira kembali dari merapikan tendanya.


“Karena mulai sekarang aku harus selalu jagain kamu dari dekat. Tujuh kali dua puluh empat jam.” Ujar Wira sambil menggerakkan jarinya membantuk angka tujun, dua dan empat.


“Hah?!”


Tanpa berlama-lama menjelaskan, Wira langsung menggendong Ajeng dan membopongnya masuk ke dalam kamar.


*******************************

__ADS_1


__ADS_2