
“Apa Bu Ajeng sudah siap berangkat?” tanya Toni pagi itu.
Ajeng mengangguk. “Tapi saya masih harus menunggu Abdi.”
Ajeng melihat-lihat isi toko Boni dan menemukan sesuatu yang sudah lama ingin dibelinya.
"Oh ya, Bu. Ini ada titipan surat untuk Bu Ajeng. Semalam baru diantar ke sini oleh kurir."
Ajeng menerima surat itu dan membuka isinya.
'Surat cerai?' batin Ajeng.
Ia menyeka air matanya sambil tersenyum. Ada rasa lega bercampur rasa bersalah dalam batinnya. Lega karena ia akhirnya resmi bercerai dengan Bara. Tapo juga merasa sangat bersalah karena memanfaatkan kebaikan Bara hanya demi kebahagiannya sendiri bersama pria lain.
“Pagi, Bu. Sudah siap?” tanya Abdi yang tiba-tiba sudah berada di belakang Ajeng dan mengagetkannya.
Ajeng buru-buru memasukkan kembali surat cerainya ke dalam amplop dan menyimpannya di dalam kotak yang akan mereka bawa ke Nusa Beringin.
"Sudah. Ayo berangkat!"
Mereka akhirnya berangkat bersama kapal yang menuju ke pulau. Setibanya di sana, mereka langsung mengantar semua barang ke klinik.
“Gimana keadaan di sini, Mas?” tanya Ajeng setelah bertemu kembali dengan Wira di balik pagar klinikm
“Sudah mulai membaik. Tapi ada satu orang yang meninggal karena tidak mampu melalui masa kritis. Siniin obatnya. Kami sudah sangat membutuhkannya.”
Abdi mendorong dua kardus yang dibawanya itu masuk ke dalam pagar klinik. Lalu Wira pergi begitu saja tanpa bicara apapun kepada Abdi seolah tidak saling kenal.
“Ada apa ini? Kenapa Mas Wira ngga ngomong apa-apa sama kamu?”
__ADS_1
“Saya sudah tahu apa yang mau dia bilang hanya dengan melihat wajahnya saja.”
“Memangnya dia bilang apa?”
“Jagain Ajeng dan awas kalau berani macem-macem!”
“Hahaha...” Ajeng tertawa terbahak-bahak mendengar kelakar Abdi itu.
Ketika hendak mengajak Abdi kembali ke rumahnya, mereka melewati tempat penyulingan air yang selama ini Wira kerjakan dengan segenap tenaga dan pikirannya. Entah apa yang menarik perhatiannya, tapi Abdi berdiri sejenak di tempat itu.
“Ini adalah desalinasi sederhana yang Mas Wira buat bersama warga.” Jelas Ajeng.
“Dia jadi lebih mirip walikota sekarang.” Gumam Abdi lirih.
Ajeng manggut-manggut. “Tidak hanya membuat perangkat desalinasi sederhana ini saja, dia juga mulai menyusun sistem organisasi tingkat desa untuk pulau ini. Dia juga meminta kepala pos penjagaan untuk mengajukan permohonan pembentukan desa baru kepada Gubernur Jala Brata demi meningkatkan kesejahteraan warga."
“Ini juga adalah hasil prakarsanya. Sekolah alam pertama dan satu-satunya di pulau ini.” Ujar Ajeng setelah tiba di sekolah terbuka yang dibuatnya di samping rumah.
Ketika berkeliling mengamati rumah yang Wira bangun untuk Ajeng, langkah Abdi terhenti di depan tenda yang dibiarkan tetap terpasang di teras rumah. Abdi membuka pintunya dan menemukan bantal dan selimut di dalamnya.
“Jadi kapan kalian akan benar-benar menikah?” tanya Abdi kepada Ajeng.
“Uhuk.. Uhuk.. Hah? Kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu?”
Abdi kembali menutup pintu tenda. “Dia bersusah payah membangun rumah tapi tiap malam malah tidur di dalam tenda.”
Ajeng bersengut-sengut kesal mendengar sindiran Abdi. Jadi ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan membiarkan Abdi sendirian di luar.
***********************
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, pasien berangsur-angsur pulih dan diijinkan pulang berkat obat-obatan yang dibawa Abdi dan Ajeng dari kota. Warga tidak henti-hentinya berterima kasih kepada mereka atas bantuan yang telah mereka terima selama ini. Setelah klinik mulai kosong dan kembali beroperasi secara normal, Wira meminta ijin dokter Husein untuk kembali pulang ke rumahnya.
“Terima kasih, Wir. Saya ngga tahu apa jadinya kami tanpa bantuan kamu.”
“Jangan bicara seperti itu, Dok. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Itu saja.”
“Kalau ada yang bisa kami bantu untuk membalas kebaikan kamu, katakan saja!”
Wira menggeleng tapi ia kemudian teringat sesuatu. “Dok, apa dokter tahu tentang para napi yang ada di lapas sana?”
Dr. Husein mengangguk. “Apa kamu mencari seseorang?”
Wira mengangguk pelan. “Hanya saja saya tidak tahu siapa namanya.”
“Seperti apa orangnya?”
Wira menjelaskan ciri-ciri orang itu kepada dr. Husein.
“Ada banyak napi dengan ciri-ciri seperti itu. Apa tidak ada yang spesifik?” tanya dr. Husein lagi.
Wira kembali menggeleng.
“Ya sudah, nanti kalau kami mengadakan kunjungan ke sana, saya akan ajak kamu.”
“Baik dok. Terima kasih.”
Seperti biasa, dr. Husein memberikan plester kepada Wira untuk diberikan kepada Ajeng. Tapi kali ini ia menambahkan pil vitalitas dan kesuburan di dalam kantong yang diberikannya kepada Wira.
"Ini hadiah buat kamu."
__ADS_1
*****************************