8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Ada Seolah Tiada


__ADS_3

Ketika tiba di rumah sakit, kondisi Kakek Dito sudah sangat buruk dan tak lama setelah mereka bertemu, pria renta itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan Dito. Ajeng dan Wira yang sudah lebih dulu khawatir bahwa kemungkinan seperti itu terjadi setelah membaca surat dari Abdi, berusaha menenangkan Dito yang tengah menangis histeris di samping tubuh kaku kakeknya itu.


Proses pemakaman berlangsung sangat cepat dan khidmat. Tidak banyak yang menghadiri acara duka tersebut. Hanya ada tetangga dan kerabat dekat, juga beberapa mantan rekan kerja Dito di balai kota, termasuk Rega. Disanalah Wira dan Rega kembali bertemu setelah hampir setahun terpisah.


“Pak Wira?”


Wira menghampiri dan menjabat tangan Rega seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. “Apa kabar Pak Rega?”


“Bu Ajeng?”


“Pak Rega sehat?” jawab Ajeng sambil mengikuti apa yang dilakukan suaminya, menjabat tangan Rega.


Mereka terpaksa ngobrol meskipun suasananya terasa canggung dan kaku setelah apa yang mereka lalui selama ini.


“Gimana kabar Carang Sewu, Pak Rega?” tanya Wira membuka obrolan.


“Tidak banyak yang berubah dalam satu tahun. Tapi yang pasti balai kota sangat kondusif sejak kepergian Pak Wira.”


Wira menyeringai. Ia tidak menyangka bahwa pria di hadapannya itu masih saja sama menyebalkannya seperti dulu.


“Bagaimana dengan Pak Wira dan Bu Ajeng? Bagaimana kalian bisa bertemu kembali dan dimana kalian tinggal sekarang? Istana?”


“Pak Rega bicara apa? Istana apa? Kami tinggal di gubuk kecil di tepi pantai dan Mas Wira memulai pekerjaan barunya sebagai nelayan.” Sahut Ajeng merendah.


“Loh, bukannya Bu Ajeng itu kerabatnya Pak Presiden? Kenapa malah hidup susah di gubuk?”


“Kerabat? Pak Presiden? Saya?” tanya Ajeng berpura-pura kaget. “Hahaha... Pak Rega pasti bercanda.”

__ADS_1


“Tapi waktu itu saya menghubungi kantor sekretariat negara dan mengatakan bahwa Bu Ajeng ada di sini dan tiba-tiba saja mereka menjemput Bu Ajeng.”


‘Sial! Jadi sekarang dia mengaku kalau memang dia yang membuat Ajeng terpaksa pulang ke rumahnya?’ batin Wira kesal.


Tak lama kemudian, rumah kakek Dito mulai sepi pengunjung lalu seirang orang pria berpakaian rapi datang dengan dikawal dua orang pria di belakangnya. Mereka berjalan memasuki rumah Dito.


Ajeng langsung membekap mulutnya ketika memastikan siapa tamu yang baru saja memasuki rumah Dito.


‘Papa?’ pekik Ajeng dalam hati.


Rega langsung berhambur panik menyambut kedatangan presiden yang tak terduga dan tanpa protokoler seperti biasanya.


“Selamat datang, Pak Presiden! Saya Rega, Walikota Carang Sewu.”


Suryo hanya mengangguk kecil seolah sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan Rega. “Dimana keluarga mendiang?”


Dito keluar dan langsung membungkuk dan menyambut tamu kehormatannya itu dengan sopan. “Saya Dito, cucu Kakek Aji.”


“Terima kasih, Pak. sebuah kehormatan besar bagi keluarga kami karena Bapak mau meluangkan waktu untuk mampir ke gubuk kami.” Sahut Dito sambil menitikkan air mata.


Setelah suasana agak tenang, Wira menghampiri Suryo sambil menjabat tangannya. “Selamat datang, Pak. Saya Wira.”


Suryo sempat kaget melihat keberadaan Wira di sana. Ia segera menyapu seisi ruangan untuk memastikan sesuatu. Dan benar saja, ternyata gadis itu ada di sana, menatapnya dari jauh dengan mata berlinang air mata.


Suryo segera duduk di ruang tamu dan mengabaikan keberadaan Ajeng. Ia membisikkan sesuatu kepada ajudannya lalu tak lama kemudian Rega yang berusaha mendekati Suryo mendapatkan panggilan telpon dari kantor yang memaksanya untuk segera datang. Dan begitulah cara mereka bisa bicara secara pribadi.


“Gimana kabar kamu, Jeng?” tanya Suryo ketika mereka sudah bertiga saja di ruang tamu Dito.

__ADS_1


“Baik, Pa. Papa sendiri gimana?”


“Sibuk, seperti biasa.” Jawab Suryo singkat dan memilukan. “Apa kamu sudah menerima paket yang Papa kirim?”


Ajeng mengangguk sambil menunduk, tidak berani menatap pria di hadapannya itu.


“Kamu tahu kan apa maksut papa?”


Ajeng kembali mengangguk.


“Bagus. Tiga bulan lagi, Alvin bakal nikah dan Papa ngga mau kamu datang. Sejak kamu memutuskan untuk memilih jalan kamu sendiri, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.”


Tangis Ajeng kian menjadi dan Wira hanya bisa menggenggam tangan Ajeng erat.


“Ah, satu lagi. Sebentar lagi pemilu. Sebaiknya kalian tetap tenang dan terlibat sama sekali. Itu adalah satu-satunya keputusan baik yang bisa kalian ambil untuk kedua keluarga.”


“Anda tenang saja. Kami sama sekali tidak tertarik untuk terlibat dalam pemilu itu.” sahut Wira memberanikan diri.


“Bagus. Akan lebih bagus lagi kalau kalian tetap tinggal di pulau terpencil itu dan tidak menarik perhatian warga lagi. Saya tidak ingin warga terus mengait-ngaitkan kalian dengan saya.” Suryo menatap Wira tajam. “Apalagi, kamu sudah tidak akan pernah bisa lagi menjadi pejabat. Jadi sebaiknya pilih saja pekerjaan lain yang tidak banyak menerima sorotan dan jauh dari keramaian.”


“Bagaimana kalau ternyata di tempat tergelappun kami masih tetap bersinar? Apa anda akan tetap berniat untuk mengenyahkan kami?”


Brak! Suryo menggebrak meja yang ada di hadapannya hingga cangkir tehnya ikut bergetar.


Ajeng yang merasa kaget langsung meraih lengan Wira untuk mencegahnya berbuat lebih jauh.


“Papa tenang aja. Ajeng dan Mas Wira ngga bakal ganggu hidup papa lagi. Kami bakal hidup seolah mati, ada seolah tiada. Ajeng tahu persis kapan harus menghindar dan menghilang seperti yang selama ini bibi ajarkan.” Ajeng kembali menyeka air matanya lalu mengajak Wira pergi meninggalkan papanya.

__ADS_1


“Tunggu!” Suryo menghampiri Ajeng lalu menyerahkan sebuah kertas. “Ini pemberian terakhir dari papa untuk kamu.”


********************************************


__ADS_2