
Sore itu, Ajeng mendatangi rumah Ani, gadis yang diselamatkannya semalam. Rumahnya terletak di sebuah kawasan kumuh di Desa Bambu, tidak jauh dari tempat tinggal Ajeng. Tapi meskipun sudah bersusah payah untuk tiba di sana, gadis itu menolak untuk menemui Ajeng. Sehingga Ajeng terpaksa kembali dengan tangan kosong.
“Bu Wali kan?” sapa salah seorang remaja seumuran Ani.
Ajeng melihat sekeliling, khawatir kalau ada orang lain yang mengenalinya. “Kamu siapa?”
“Saya Dara, sepupunya Ani.” Gadis itu kemudian mengajak Ajeng mampir ke rumahnya yang berjarak beberapa meter saja dari rumah Ani. “Ani sudah cerita banyak soal Bu Wali.”
“Tentang saya?”
“Dia bilang, Bu Wali sudah dua kali menyelamatkannya. Tapi justru karena itulah dia membenci Ibu.”
“Kenapa? Apa salah saya?”
Dara tersenyum, “Bu Wali ngga salah apa-apa. Nasib yang salah karena menjadikan Ajeng anak dari bajingan seperti Paman Surip.”
Ajeng terlihat belum memahami penjelasan Dara.
“Malam itu, Paman memaksa Ani untuk menikah dengan Juragan Su’eb yang kaya raya untuk melunasi hutangnya. Dan Bu Ajeng berhasil membuat Ani batal dinikahi juragan Su’eb. Tapi sebagai gantinya, Paman menjual Ani kepada preman-preman itu. Orang yang hendak memperkosa Ani semalam.”
Ajeng terbelalak sambil menutup mulutnya yang menganga lebar. “Sekarang, setelah ayahnya menerima uang dari para preman itu, dia malah kabur dari mereka. Bu Ajeng bisa bayangkan kan, apa yang mungkin akan Ani hadapi setelah ini?”
“Jadi semua ini salah saya?”
Dara menggeleng. “Kan sudah saya bilang, Bu Wali ngga salah apa-apa. Selama ini Pak Wali sudah banyak membantu keluarga Ani, tapi paman memang bajingan keparat. Meskipun sudah menerima uang dari Pak Wali, paman masih saja menyiksa dan menjual Ani seperti barang. Pak Wali sudah berkali-kali mengajukan masalah ini ke ranah hukum, tapi selalu saja ditolak karena ini adalah masalah keluarga. Pak Wali juga sudah mengajukan usulan peraturan daerah untuk mencegah kekerasan dan pelcehan terhadap kaum wanita. Tapi sampai saat ini, usulan itu hanya menumpuk saja di meja anggota dewan. Tidak ada satu orangpun yang mendukung Pak Wali. Justru Pak Regalah yang memperkenalkan paman dengan para preman semalam.”
“Apa? Pak Rega? Bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Kami juga tidak tahu. Tapi tidak ada satu orangpun yang mempercayai kami.”
Ajeng bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi ke rumah Ani. Ia kembali menggedor pintu rumah Ani. “Ani, buka! Saya perlu bicara sama kamu. Saya mau minta maaf.”
Ani masih bergeming.
“Saya dan Mas Wira akan selalu membantu kamu. Bagaimanapun caranya, saya tidak akan menyerah. Tolong maafkan saya!”
Ani membuka pintu rumahnya perlahan dan Ajeng langsung masuk lalu memeluknya erat. Tubuh gadis itu begitu kurus dan ringkih, dekil dan bau tapi Ajeng sama sekali tidak merasa jijik.
“Saya minta maaf. Saya ngga tahu soal ayah kamu.”
Ani menggeleng. “Terima kasih.” Bisiknya lirih.
“Saya akan bicara sama suami saya, supaya kamu bisa bersembunyi di tempat yang aman untuk sementara waktu.”
‘Apa?! Jadi Mas Wira sudah sampai bertindak sejauh itu demi membantu anak ini?’ gumam Ajeng dalam hati.
“Kamu belum makan kan? Ini saya bawakan kamu makanan.”
"Makasih Bu... Pak Wali orang yang sangat baik. Pantas saja beliau mendapatkan istri sebaik Bu Wali." puji Ani sebelum menyantap habis makanan yang Ajeng bawakan untuknya.
*****************
Apa yang diketahuinya petang itu membuat Ajeng memikirkan kembali penilaiannya tentang Wira. Meskipun ia masih kesal tentang perdebatan terakhir mereka, tapi Ajeng merasa tidak enak karena sudah sangat salah menilai Wira. Terlebih lagi, jika mau jujur, Ajeng marah bukan karena Wira tidak memecat Bi Sumi dan Abdi, melainkan karena Wira lebih mempercayai mereka daripada dirinya.
Tiba-tiba saja Ajeng jadi ingat dengan rencana kedatangan Pak Rega dan Bu Manda. Ia melihat jam di tangannya tapi sudah terlambat. Kedua tamunya itu pasti sudah tiba di rumahnya dan tahu bahwa ia sedang tidak berada di rumah. Ajeng buru-buru berpamitan dan pulang ke rumahnya. Dan benar saja, ketika tiba di rumah, Ajeng melihat Wira sedang berbincang dengan Rega dan Manda di teras.
__ADS_1
“Bu Ajeng?! Baru pulang, Bu?” sapa Rega sopan.
“Memangnya habis darimana, Bu? Bukannya Bu Ajeng sedang sakit?” imbuh Manda.
“Eh, itu... anu... tadi.... “
“Saya suruh dia ke dokter untuk memeriksakan lagi lukanya.” Sahut Wira menengahi.
“Ah, iya... dokternya antri.” Ujar Ajeng membenarkan kebohongan Wira. “Kalau gitu, saya permisi ke dalam dulu.”
***************
(Beberapa jam sebelumnya)
Manda bersengut-sengut karena Rega tiba-tiba saja mengajaknya berkunjung ke rumah Wira untuk menjenguk Ajeng.
“Kenapa sih kita mesti nengokin dia? Orang dianya ngga kenapa-napa kok! Tadi Abdi bilang lengannya hanya tergores belati. Dia bahkan masih bisa berolahraga seharian di gedung olehraga.” gerutu Manda dengan nafas menggebu-gebu.
“Sabar sayang! Bagaimanapun juga, sekarang ini mereka masih atasan kita.” Rayu Rega lagi. “Sekarang ini adalah waktu untuk kita membangun citra, jadi jangan sampai semuanya hancur hanya karena emosi sesaat.”
Manda mulai melunak. Ia sudah tidak sabar untuk segera membawa suaminya itu menuju kursi pemerintahan tertinggi di kota Carang Sewu dan menjadikannya wanita nomer satu disana. “Kamu tuh, selalu aja ngomong kaya gitu. Tiga tahun itu waktu yang ngga sebentar. Wajarlah kalau aku capek terus-terusan diremehin kaya gini.”
“Iya aku ngerti. Aku minta maaf yah? Maaf karena baru bisa menjadi wakil walikota saja. Tapi aku janji pada pilkada yang akan datang, aku ngga akan gagal lagi demi kamu.”
“Ya sudah, aku siapin oleh-olehnya dulu yah?”
“Makasih sayang.”
__ADS_1
********************