8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pengunduran Diri Abdi


__ADS_3

Di dalam mobil, Bu Susilo melihat wajah raut penuh kekesalan tergambar dari wajah putri semata wayangnya itu.


“Kamu pasti kesel banget kan sama kemesraan mereka?” tanya Bu Susilo membuka obrolan selama perjalanan kembali ko hotel. “Mama ngga nyangka kalau Wira akan berubah sebanyak itu setelah bersama gadis itu.”


“Mama kenapa sih malah kagum dan muji-muji dia segala?! Kita kan datang kesana buat bikin Wira nyesel nyeraiin aku.” gerutu Monica.


“Mama cuma ngomong kenyataan, Mon. Jamuan yang dia siapkan memang beda dari biasanya, kelasnya sudah kelas istana. Kalau mama lihat dari segi penampilan dan cara bicaranya, sepertinya dia bukan gadis sembarangan.” Imbuh Bu Susilo.


“Papa juga setuju soal itu. Wawasannya sangat luas, kepribadiannya juga berkelas dan terbilang sangat berani untuk ukuran gadis biasa yang tinggal di kota kecil seperti ini.”


Monica memikirkan kembali tentang informasi yang diperolehnya tentang Ajeng dari relasinya di kepolisian daerah.


“Pa, apa mungkin dia salah satu kerabat Presiden?” tanya Monica tiba-tiba.


“Pak Presiden kan ngga punya anak perempuan, Mon.”


“Iya bisa jadi keponakan atau keluarga jauh?”


“Jangan sembarangan kalau ngomong! Mana mungkin dia diam saja dibilang mama kamu ndompleng sama Wira kalau dia bener-bener kerabat orang nomer satu di negri ini?” elak Pak Susilo.


“Iya juga sih.... Tapi dia punya relasi dengan orang yang sangat berpengaruh.” Gumam Monica.


“Maksut kamu?”


“Oh, ngga Pa. Bukan apa-apa. Tadi Monic asal tebak aja kok.” Elak Monica yang tidak ingin Papanya membahayakan posisinya sebagai gubernur hanya karena terlibat dan ikut campur dalam urusan Ajeng yang punya koneksi dengan salah satu orang yang sangat berpengaruh di negri ini. Ia sudah bertekad untuk menyelidiki dan mencari tahu sendiri kebenarannya.


‘Sial! Kenapa sih Wira malah dapetin cewek hebat kaya dia dan hidup bahagia setelah ninggalin aku?’ rutuk Monica dalam hati.


*****************

__ADS_1


Setelah Monica dan orang tuanya pulang, Wira meminta Ajeng untuk duduk bersamanya di teras.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba aja ngilang dan sekarang malah ngundang mereka tanpa ngabarin aku?” cerca Wira.


“Ini kan yang kamu pengen, Mas? Tampil sempurna di hadapan mantan istri kamu itu?”


“Kamu ini ngomong apa sih?”


“Jangan kira aku ngga tahu kalau kamu sengaja ngajuin kontrak pernikahan demi ini. Demi nyelametin muka kamu dari Monica dan keluarganya.”


“Jeng!”


“Kamu sengaja manfaatin kau buat kepentingan kamu, Mas. Memperbaiki citra kamu di hadapan warga, menuntaskan pekerjaan yang ngga bisa kamu tangani dan menjadi boneka india di hadapan mantan istri kamu.”


“Oke. Aku minta maaf soal membutuhkan bantuan kamu untuk membuat Monica dan keluarganya iri. Tapi apa yang kamu sebutin sebelumnya itu sama sekali ngga bener. Aku ngga pernah nuntut kamu buat ngeberesin pekerjaan aku. Aku hanya mau kamu membaur dengan para pegawai dan besikap seperti istri walikota pada umumnya supaya tidak memicu kecurigaan. Demi keamanan kamu.”


“Oke, mulai sekarang, kamu ngga perlu lagi datang ke kantor kalau kamu ngga mau. Kamu bebas ngelakuin apapun yang kamu mau. Aku ngga bakal ganggu privasi kamu lagi. Kontrak pernikahan kita berakhir!!”


Wira kembali ke kamarnya. Tapi ia kaget melihat Abdi sudah berdiri di depan pintu. “Abdi?”


***************


Mereka bertiga duduk di ruang tamu setelah memastikan bahwa Bi Sumi masih akan lama pergi membeli nasi goreng seperti yang Wira perintahkan.


“Jadi pernikahan kalian palsu?” tanya Abdi memberanikan diri.


“Abdi, ini ngga seperti yang kamu pikirin.” Jelas Wira.


“Benar. Kami memang sepakat untuk menikah secara kontrak. Puas? Ini kan yang berusaha kamu cari tahu selama ini? Sekarang kamu bisa menyebarkan berita ini kepada siapapun yang kamu mau.” Cerca Ajeng tak kalah galak.

__ADS_1


“Maksut Bu Ajeng apa?”


“Kamu pikir saya ngga tahu kalau selama ini kamu diam-diam memata-matai kami dan melaporkan semuanya kepada Manda?”


“Jeng –“


“Apa?” Abdi tidak menyangka bahwa Ajeng akan menuduhnya terang-terangan seperti itu. “Atas dasar apa Bu Ajeng menuduh saya seperti itu?”


“Hanya kamu yang tahu apa yang kami lakukan di Siliwangi dan rumah ini. Tapi anehnya, orang-orang di luar sana tahu bahwa kami tidur sekamar di Siliwangi dan tidur terpisah di rumah ini. Bukankah itu aneh?” tanya Ajeng tanpa sungkan lagi. “Saya juga sering kamu menemui dan bicara dengan Manda diam-diam.”


“Jeng –“


“Jadi Bu Ajeng benar-benar mencurigai saya selama ini?”


“Abdi, saya minta maaf sama kamu. Ajeng pasti asal bicara. Jangan dianggap serius.” sela Wira.


“Saya tahu sekarang. Kenapa Pak Wira selalu berusaha menutupi semuanya dari saya belakangan ini.” Ujar Abdi kecewa.


“Ngga, Di. Saya ngga pernah mencurigai kamu sedikitpun. Saya percaya sama kamu.”


“Lalu kenapa Pak Wira membiarkan saya percaya bahwa kalian benar-benar menikah? Saya bahkan meminta dinas kependudukan untuk memalsukan data Bu Ajeng di buku nikah supaya kalian bisa menikah.


“Saya minta maaf –“


Abdi meletakkan kunci mobil dan ponselnya di atas meja. “Saya rasa sudah saatnya saya mengundurkan diri. Permisi.”


“Abdi!” Wira berusaha mengejar Abdi tapi pria itu seolah sama sekali tidak peduli lagi. “Puas kamu?!”


******************************

__ADS_1


__ADS_2