
Dengan adanya kejadian siang tadi, Ajeng merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah. Jadi malam itu juga, ia berencana untuk menyelinap keluar diam-diam.
“Mau kemana kamu?!” tanya Wira yang memergoki rencana kabur Ajeng.
“Bukan urusan kamu.”
“Sampai detik ini, kamu masih jadi tanggung jawab aku. Jadi jangan bersikap bodoh dan merugikan orang lain!”
Bukannya melunak, Ajeng jadi semakin marah. “Bukannya kontrak kita sudah berakhir?! Aku bisa jaga diri dan ngga bakal ngerugiin siapapun. Jadi diam di sini dan jangan ikut campur urusan aku lagi!”
Ajeng keluar dari rumah Wira dengan membawa ransel berisi pakaian. Wira membentur-benturkan kepalanya ke sandaran kursi. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
***********
Hari sudah larut dan suasana malam di Carang Sewu sangat jauh berbeda dengan Bandar Sri Begawan. Baru jam sembilan malam saja, Ajeng sudah kesulitan mencari ojek dan angkutan umum. Sehingga ia memilih untuk menunggu di halte tidak jauh dari alun-alun kota.
“Bu Ajeng?!” Yuni tiba-tiba saja melintas di hadapannya dengan mengendarai sepeda motor.
“Yuni?”
“Bu Ajeng ngapain di sini? Pak Wira mana? Mau saya antar pulang?”
Ajeng menggeleng. “Biar saya telpon Pak Wira untuk jemput Bu Ajeng. Bahaya di luar sendirian malam-malam begini.”
“Jangan! Saya ngga mau Mas Wira tahu saya di sini.”
“Lagi berantem?” tebak Yuni dan Ajengpun mengangguk.
“Terus Bu Ajeng mau kemana sekarang?”
Ajeng menggeleng.
“Gimana kalau menginap di tempat kos saya aja?” tawar Yuni.
“Emang boleh?”
__ADS_1
“Ya bolehlah.. Saya malah senang punya teman ngobrol.”
**************
Ajeng tiba di sebuah komplek kos-kosan yang terletak sekitar satu kilometer dari kantor balaikota. Ada deretan kamar yang kebanyakan dihuni para pegawai pemkot yang berasal dari luar kota.
“Ini kosan saya. Kalau itu kos-kosan pegawai pria.” Ujar Yuni sambil menunjuk deretan kamar kos yang ada di sebrang kosan Yuni. “Mari masuk!”
Kamar Yuni cukup kecil tapi rapi dan nyaman. Ada sebuah ranjang, meja dan lemari pakaian susun berbahan plastik.
“Apa Bu Ajeng bisa tinggal di tempat sempit seperti ini?”
“Kenapa ngomong kaya gitu sih? Ini jauh lebih nyaman daripada di pinggir jalan.”
Yuni tersenyum. “Bu Ajeng sudah makan?”
“Sudah. Tadi kami sudah makan malam sama Pak Gubernur dan keluarganya.”
“Aaahhhh, saya tahu sekarang. Kenapa Bu Ajeng sama Pak Wira bertengkar. Pasti karena Bu Ajeng cemburu sama Bu Monica kan?”
“Saya sangat berpengalaman kalau soal percintaan seperti ini.” Gombal Yuni untuk membangun kembali mood Ajeng.
Ajeng kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman untuk tidur. “Kamu sudah lama tinggal di sini?”
“Sekitar lima tahunan. Sejak diterima kerja di pemkot.”
“Jadi kamu sudah kenal lama juga sama Abdi?”
“Pak Abdi? Tentu saja. Usia kami tidak terlampau jauh dan Pak Abdi tipikal orang yang enak diajak bicara.”
“Apa kamu ngga pernah ngerasa kalau gelagatnya aneh dan mencurigakan?”
Yuni menggeleng dengan mantap. “Pak Abdi adalah orang yang paling dipercaya Pak Wira. Satu-satunya orang yang akan tetap berdiri di samping Pak Wira meskipun semua orang menghujatnya.”
“Darimana kamu tahu?”
__ADS_1
“Pertama kali Pak Wira menjabat sebagai walikota, beliau hampir dilengserkan karena isu suap dan jual beli jabatan. Tidak ada satupun orang yang mau menerima kehadiran Pak Wira, termasuk saya. Tapi Pak Abdi adalah orang yang mati-matian membelanya dan menunjukkan bukti bahwa tuduhan itu sama sekali tidak benar.”
“Bagaimana dengan Pak Rega?”
Yuni tampak ragu. “Pak Rega.... Ayah Pak Rega adalah kepala desa yang sangat dihormati di Desa Karangan. Bisa dibilang kalau beliau adalah putra daerah yang digadang-gadang akan menjadi walikota. Tapi tiba-tiba saja Pak Wira yang terpilih dan Pak Rega hanya boleh puas dengan menjadi wakilnya Pak Wira. Awalnya mereka sering berkonflik, tapi Pak Abdi selalu pasang badan. Dia bahkan rela meninggalkan Ibunya yang sakit-sakitan juga adik-adiknya di Batang Hulu demi mengikuti Pak Wira tinggal di sini.”
Ajeng jadi merasa bersalah setelah mendengar cerita Yuni.
“Eh, apa kamu pernah dengar kalau orang-orang menggosipkan saya dan Mas Wira pisah ranjang?”
Yuni tertawa. “Biasa itu mah... Gosip murahan kaya gitu bisa menimpa siapa aja. Saya aja digosipin pacaran dan tidur sekamar sama Dito yang kos di sebrang. Padahal ketemu aja kami jarang banget.”
Ajeng kembali tertegun.
“Kalau hidup di kota kecil seperti ini, Bu Ajeng harus siap untuk menebalkan telinga. Gosip bisa menyebar lebih cepat daripada virus influenza. Hehe..”
“Apa saya sudah terlalu berlebihan?” gumam Ajeng lirih.
“Hah?”
Ajeng buru-buru menggeleng. “Ah, bukan apa-apa.”
Yuni membuka ponselnya dan membaca pesan singkat yang baru saja masuk. “Bu, saya keluar sebentar yah?”
Tak lama kemudian, Yuni kembali dengan membawa pengharum ruangan aromaterapi lalu meletakkannya di meja.
“Kamu suka aromaterapi juga?” tanya Ajeng senang karena menemukan orang yang memiliki kegemaran sama dengannya.
Yuni terpaksa berbohong dengan mengangguk. “Bu Ajeng sudah bisa tidur sekarang.”
“Terima kasih.”
Yuni membalas pesan singkat di ponselnya.
(Beres.)
__ADS_1
****************************