8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Jebakan Rega


__ADS_3

Beberapa hari ini, sikap Ajeng berubah drastis. Ia jadi lebih banyak diam dan melamun, tidak lagi energik dan banyak protes seperti biasanya. Dan tentu saja itu membuat Wira merasa bersalah dan tidak nyaman.


Pagi itu, Wira memutuskan untuk menuntaskan kesalahpahamannya dengan Ajeng. Ia tidak tahan lagi dengan perang dingin yang sedang mereka alami saat ini. Ia membawakan segelas susu untuk Ajeng dan berniat mengetuk pintu kamar Ajeng. Tapi gadis itu sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya dengan membawa tas berisi pakaian dan sebuah tas jinjing kecil.


“Mau kemana? Kok pagi-pagi gini sudah rapi?”


“Batang Hulu.”


Wira menepok jidatnya sendiri karena begitu ceroboh sampai lupa bahwa hari itu Ajeng akan pergi bersama Rega untuk menghadiri undangan dinas di Batang Hulu. Belum sempat ia menjelaskan apapun, mobil Rega sudah datang dan siap menjemput Ajeng.


“Aku pergi dulu, Mas.”


Wira masih terpaku di tempatnya sambil melihat Ajeng masuk ke dalam mobil Rega. Entah kenapa ia baru menyadari betapa brengseknya dia sebagai laki-laki.


“Maaf, Pak. Apa Bu Ajeng sudah berangkat?” tanya Bi Sumi sambil membawa kotak bekal.


“Sudah. Kenapa Bi?”


“Ini kotak bekalnya Bu Ajeng ketinggalan. Beliau belum sempat makan apapun dari kemarin.” Jelas Bi Sumi.


“Astaga Bapak!” Bi Sumi kaget melihat Wira meremas dan memecahkan gelas susu yang digenggamnya. Ia kemudian buru-buru mencari sapu dan alat pel untuk membersihkan lantai dari tumpahan susu, pecahan gelas dan tetesan darah.


***************


Sama seperti perjalanan pulang terakhirnya bersama Wira, pagi itu Ajeng juga lebih banyak diam selama perjalanan menuju Batang Hulu bersama Rega. Selain karena banyak hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini, ia juga merasa sangat tidak nyaman berada dalam satu mobil berdua saja dengan Rega.


“Kalau capek, Bu Ajeng bisa istirahat sambil tiduran. Nanti kalau sudah sampai saya bangunkan.”


Ajeng menggeleng. “Ngga usah, Pak. Kalau tidur, nanti saya ngga tahu kalau Mas Wira nelpon saya.”

__ADS_1


‘Wira lagi Wira lagi.’ Gerutu Rega dalam hati.


“Ngomong-ngomong apa Bu Manda tidak keberatan kalau saya pergi dinas berua saja dengan Pak Rega seperti ini?”


“Manda istri yang baik. Dia tahu kapan harus cemburu dan tidak.”


“Saya yakin Pak Rega tidak memberi tahu Bu Manda kalau kita pergi berdua saja.”


“Kenapa Bu Ajeng bicara seperti itu.”


“Kalau saya telpon dan beritahu Bu Manda sekarang, apa Pak Rega yakin bisa menanggung akibatnya?”


“Maksut Bu Ajeng apa?”


“Saya tidak ingin ada peliputan apapun tentang saya. Kalau terpaksa, saya tidak akan segan untuk mengabari Bu Manda dan mengatakan yang sebenarnya.”


“Bu Ajeng ngancam saya?”


“Bu Ajeng ini kenapa sih? Apa ada masalah?”


“Pak Rega mengancam Mas Wira demi memaksa saya ke Batang Hulu seperti ini adalah sebuah kesalah besar. Apa Pak Rega tidak menyadari itu?”


Rega menepikan mobilnya. ”Oke, saya akan hubungi pihak panitia dan meminta jalur khusus tanpa wartawan dan peliputan.”


Ajeng melempar pandangannya keluar jendela mobil. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya sudah benar. Tapi setelah memikirkan semuanya, Wira memang tidak punya pilihan lain selain menuruti Rega. Tapi tidak sama halnya dengan dirinya. Ia memiliki banyak kesempatan untuk menekan dan membalas perlakuan Rega kepada Wira. Dan itulah yang akan dilakukannya mulai sekarang.


*****************


Ajeng sama sekali tidak tahu bahwa acara hari itu ternyata digelar besar-besaran, dihardiri banyak pejabat penting ibu kota dan diliput oleh media cetak dan elektronik dari berbagai kantor berita ternama.

__ADS_1


“Bukannya Pak Rega bilang kalau panitia akan menyiapkan jalur khusus?”


“Maaf Bu Ajeng. Sepertinya mereka tidak bisa memenuhi permintaan kita.” Jawab Rega santai tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah membohongi Ajeng.


Para petugas sudah membukakan pintu mobil untuk Ajeng dan Rega, sehingga Ajeng tidak lagi punya kesempatan untuk menghindar. Ia terpaksa turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam lobi gedung Graha Mukti yang sudah disulap menjadi gedung pertemuan mewah.


Ajeng berusaha beras menyembunyikan dirinya di belakang Rega, menghindari kamera dan orang-orang yang mungkin mengenalnya. Ketika melakukan registrasi, Ajeng sengaja mengintip daftar nama tamu yang sudah hadir dan ia menemukan beberapa nama yang dikenalnya. Dan tiba-tiba saja ia merasa sangat ketakutan.


Rega melangkah dengan santai sambil sesekali menyapa orang-orang yang dikenalnya di sana, termasuk salah satunya, Deni, wartawan dari surat kabar terkenal. Mereka terlihat berbicara akrab satu sama lain dan Rega dengan sengaja memperkenalkan wartawan itu kepada Ajeng. Tentu saja hal itu membuat Ajeng semakin panik. Ia memandang sekeliling berharap menemukan cara untuk melarikan diri tapi sia-sia.


“Saya datang bersama Ibu Walikota, mari saya perkenalkan Pak Deni dengan beliau!” ujar Rega dengan santainya. Tapi saat ia berbalik, Ajeng sudah tidak ada di belakangnya lagi. Gadis itu tiba-tiba saja menghilang.


Rega kemudian menyusuri seluruh gedung, kamar mandi, tempat parkir tapi tidak berhasil menemukan Ajeng dimanapun. Ia bahkan tidak memiliki nomor handphond Ajeng. Dan itu membuatnya semakin frustasi.


***************


Ada terlalu banyak orang di sana dan bahkan ada banyak petugas keamanan yang berjaga di banyak titik juga para pengawal yang bersiaga mendampiri tamu VIP yang mereka kawal. Sementara ia sama sekali tidak tahu menahu soal tempat itu. Wajah Ajeng kian memucat dan tubuhnya bergetar hebat membayangkan dirinya akan ditemukan dan ditangkap di tempat seramai itu.


“Saya datang bersama Ibu Walikota, mari saya perkenalkan Pak Deni dengan beliau!” Ajeng mendengar Rega yang hendak memperkenalkanny kepada wartawan senior itu.


Sadar bahwa Rega berniat menjebaknya, Ajeng berusaha untuk melarikan diri. Tapi langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika melihat para petugas keamanan bertubuh kekar tengah siaga di depan pintu. Ia benar-benar kehilangan arah, kebingungan, ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba-tiba saja seseorang menariknya, menyelinap diantara kerumunan orang, berbelok ke arah pintu keluar dan berlari menuju tempat parkir.


“Mas Wira?!”


Wira membukakan pintu mobil untuk Ajeng tapi kali ini bukan di belakang seperti biasanya, melainkan di depan. Ia kemudian menyuruh Abdi turun dan mengambil alih kemudi.


"Abdi?!"


“Urus barang-barang Bu Ajeng lalu kembali ke rumah kamu!” titah Wira sambil menyerahkan sejumlah uang untuk Abdi lalu melajukan mobil dengan kencang meninggalkan Graha Mukti.

__ADS_1


“Baik Pak!”


***********************


__ADS_2